Donbass Arena yang Dirindukan

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Donbass Arena yang Dirindukan

Pada pertandingan babak 16 besar Liga Champions UEFA Rabu dini hari kemarin (18/02), FC Shakhtar Donetsk bermain “kandang” melawan FC Bayern Munich “jauh dari kandang” mereka. Pertandingan yang berakhir 0-0 tersebut dilangsungkan di Arena Lviv, di Kota Lviv.

Sejatinya, jarak antara “rumah” Shakhtar di Kota Donetsk dengan Lviv terpisah sejauh 1.200 kilometer.

Lviv terletak di bagian barat negara Ukraina, sementara Donetsk berada di bagian timur yang berbatasan langsung dengan Rusia. Hal ini juga yang menjadikan Shakhtar kesulitan bermain di kandang sejak Bulan Mei tahun lalu, yaitu karena stadion mereka, Donbass Arena, berada di daerah konflik.

Bahkan kalau mau hitung-hitungan, jarak antara Lviv ke Munich lebih dekat dibandingkan jarak Lviv ke Donetsk. Jarak antara Lviv ke Munich kurang lebih sejauh 900 kilometer.

Tampak aneh? Sebenarnya, sih, tidak. Terutama jika Anda melihat rekaman mengerikan dari Donbass Arena (video di bawah ini), kamera keamanan mendapatkan tembakan artileri yang menghujam bagian luar stadion, sehingga panel kaca besar runtuh hanya beberapa meter dari anak kecil yang berjalan melewati di bawahnya.



Sebuah stadion megah yang sekitar tiga tahun yang lalu menjadi saksi adegan sukacita dari perayaan Euro 2012, sudah sejak Oktober 2014 dibuat porak-poranda oleh pasukan pemberontak.

Permainan sepakbola terperangkap dalam tembak-menembak dari konflik. Sama sekali tidak ada cara untuk Shakhtar agar tetap bisa tinggal di “rumah”.

Shakhtar baru-baru ini memperpanjang sewa mereka di Lviv sampai akhir tahun, untuk berjaga-jaga konflik akan terus berlangsung. Hal ini dilakukan karena UEFA memperbolehkan Shakhtar untuk tetap memainkan pertandingan mereka di tanah Ukraina, hanya saja harus jauh dari daerah konflik.

Kemudian kemarin, meskipun Lviv dan Munich hanya memiliki jarak yang dekat, kesebelasan Bayern berangkat ke Lviv dalam waktu yang mepet dengan waktu pertandingan, yaitu pada Senin sore waktu setempat. Dan langsung kembali ke Munich beberapa saat setelah pertandingan.

“Sulit untuk memahaminya, dan itu adalah pengalaman yang unik untuk bermain melawan tim yang berbasis di daerah krisis,” kata pemain Bayern, Thomas Mueller.

“Entah bagaimana, itu adalah situasi yang nyata. Anda tahu ada perang yang mengerikan, tetapi Anda tidak benar-benar menyadarinya, karena Anda secara personal tidak benar-benar tahu situasi seperti apa yang terjadi di luar sana.”

Arena Lviv yang berkapasitas 34.900 tempat duduk adalah stadion kandang kesebelasan Karpaty Lviv. Seluruh tiket pertandingan pada Hari Selasa malam waktu setempat itu dilaporkan terjual habis, tetapi kebanyakan penonton adalah penduduk lokal yang datang untuk menyaksikan sepakbola dari juara Jerman tersebut, bukan karena ingin menyaksikan Shakhtar.

Memang juga terdapat penggemar setia Shakhtar yang datang dari Donetsk ke Lviv, tetapi biaya untuk melakukannya dinilai cukup tinggi, sehingga tidak banyak yang melakukannya.

Namun Shaktar membuktikan bahwa masalah ini tidak mempengaruhi performa mereka. Sampai pekan ke-14 (dari 26 matchday), mereka berada lima poin di belakang pemuncak klasemen, Dinamo Kiev, dan masih ngotot untuk mempertahankan mahkota liga mereka.

“Bagi kami, ini adalah masalah besar, karena kami tidak bermain di kandang, kami bermain jauh, ini adalah arena baru,” kata kapten Shakhtar asal Kroasia, Darijo Srna.

“Anda tidak memiliki kekuatan seperti yang Anda miliki di Donbass Arena. Donbass Arena adalah sesuatu yang istimewa, itu adalah stadion kami, fans kami, dan kota kami.”

Donbass Arena ini memang hanya baru berusia lebih dari lima tahun. Stadion ini adalah monumen simbolik Ukraina di abad ke-21 dan merupakan centerpiece dari Euro 2012. Donbass Arena sudah dianggap menjadi teater spektakuler untuk sepakbola yang dimainkan oleh Shakhtar.

Donbass Arena... jiwa mereka semua merindukannya, tapi apa daya tubuh tak sanggup menggapai daerah penuh konflik itu.

Sumber: Daily Mail, The Telegraph

Komentar