Pemain Muda dan Ekspektasi Tinggi Media

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pemain Muda dan Ekspektasi Tinggi Media

Sekitar satu bulan yang lalu, Real Madrid kembali membuat kejutan dengan merekrut pemain muda berusia 15 tahun asal Norwegia, Martin Ødegaard. Memang sudah merupakan hal yang biasa saja ketika sebuah tim merekrut pemain muda, namun rekrutan baru Real Madrid menghadirkan kehebohan tersendiri akibat nilai kontrak yang tertera dalam kontrak yang disepakati.

Di usianya yang bahkan belum beranjak 17 tahun itu, Ødegaard mendapatkan gaji £80.000 per pekannya. Jumlah ini belum termasuk bonus-bonus lainnya. Jika dikonversi ke dalam rupiah, penghasilan Ødegaard kurang lebih setara dengan Rp 1,5 miliar per pekannya. Tentu saja, dilihat dari sisi manapun, ini merupakan angka yang sangat besar bagi seorang anak berusia 15 tahun.

Ødegaard memang sudah menjadi pusat perhatian dunia sepakbola setelah menjadi pemain termuda yang menjalani debut tim nasional. Ødegaard masuk ke skuat tim nasional Norwegia pada pertandingan persahabatan melawan Uni Emirat Arab pada 27 Agustus 2014. Ketika itu, Ødegaard masih  berusia 15 tahun 253 hari.

Dari situ, Ødegaard langsung menjadi bahan perbincangan klub-klub besar Eropa. Satu per satu klub menawarkan trial kepada pemuda ini dengan harapan Ødegaard mau bergabung ke klub tersebut. Dari sekian banyak klub yang memberikan penawaran, Ødegaard akhirnya memilih Real Madrid sebagai tempat berlabuh.

Memang tidak ada yang salah dari Ødegaard ketika menerima pinangan Madrid dengan angka yang luar biasa besar ini. Siapapun pasti ingin meraih kesuksesan sedini mungkin. Apalagi memang kesuksesan yang diraihnya merupakan hasil kerja kerasnya sendiri.

Namun, bukan berarti Ødegaard sudah bisa merasa aman dengan berada di Real Madrid. Banyak tahapan yang harus berhasil dilalu, agar ia bisa menjadi pemain yang berkualitas di level dunia.

Salah satu hal yang harus diwaspadai adalah sorotan media yang sangat deras kepada Ødegaard. Kontrak besar membuat Ødegaard bagaikan magnet yang menarik perhatian media.

Penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli psikologi dari Leeds Metropolitan University, Helen Brown, menyebutkan bahwa salah satu faktor penyebab stres terbesar bagi atlet-atlet muda adalah sorotan media yang terlalu besar. Akibat satu ekspektasi yang diberikan kepada media kepada seorang pemain, konsentrasi pemain akan berantakan sehingga mereka gagal untuk fokus kepada hasil yang harus dicapai. Hal ini akan berakibat pada berantakannya proses perkembangan yang masih berlangsung pada atlet tersebut.

Tidak hanya masalah konsentrasi, kondisi stres pada pemain memungkinkan dampak-dampak negatif lain. Perubahan kondisi tubuh pemain akibat stres akan membuat beberapa otot pada tubuh pemain lebih mudah tegang. Kondisi tegang ini akan menyebabkan pemain tidak bisa bergerak seperti biasanya. Lebih jauh lagi, kondisi tegang pada otot-otot ini akan membuat pemain berisiko mengalami cedera lebih tinggi.

Selain itu, ketika stres seorang pemain juga tidak memiliki kondisi visual yang baik. Padahal kemampuan visual saat di lapangan adalah satu hal yang sangat diperlukan seorang pemain sepakbola. Apalagi jika pemain tersebut berada di posisi gelandang seperti Ødegaard. Pemain yang dalam kondisi stres akan memiliki kondisi visual yang lebih sempit dari pemain biasa. Hal ini lagi-lagi akan menghambat proses perkembangan pemain muda seperti Ødegaard.

Namun tentu saja sorotan media juga bukan merupakan satu hal yang harus dihindari sepenuhnya. Meski memberikan dampak negatif, sedikit banyak media juga dibutuhkan oleh seorang pemain untuk meningkatkan karirnya. Lagipula, pada zaman seperti sekarang ini, tidak mungkin juga seorang pemain yang berlaga di kancah dunia bisa menghindari sorotan media.

Maka yang harus dilakukan Ødegaard mengatur sebaik mungkin tekanan yang datang kepada dirinya agar tidak mengganggu perkembangan yang sedang terjadi. Mungkin tugas ini akan lebih tepat untuk diserahkan kepada psikolog klub tempat Ødegaard kini bermain. Ødegaard hanya bisa berharap dia berada di tangan yang tepat sehingga mampu diarahkan dengan baik melewati segala tekanan yang datang kepadanya. Dengan begitu, sorotan media yang terus datang justru berubah menjadi katalis bagi perkembangan karirnya.

Fenomena seperti ini sebenarnya terjadi hampir kepada seluruh pemain-pemain muda yang menonjol sangat cepat. Kemampuannya yang sangat menonjol dibanding anak-anak seusianya langsung tercium oleh media sehingga mendapatkan sorotan yang jauh lebih banyak dibanding pemain-pemain lain.

Maka ancaman stres akibat tekanan dari media ini bukan sesuatu yang mengancam Ødegaard seorang, tapi juga semua pemain muda berbakat. Beban berat untuk bisa mengatur tingkat stres yang diterima pemain muda juga bukan dimiliki oleh psikolog Real Madrid Castilla saja, melainkan oleh semua psikolog yang sedang memiliki tanggung jawab terhadap anak muda berbakat.

Komentar