Dua Sisi Derby Merseyside

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Dua Sisi Derby Merseyside

Rival sekota tidak selamanya "panas", itulah atmosfer yang terasa di Derby Merseyside, pertandingan dua klub satu kota yang mempertemukan Everton dengan Liverpool. Akan tetapi, ada pandangan berbeda yang bisa dilihat di sela-sela tribunnya.

Sudah tidak aneh lagi warna biru dan merah saling berdempetan dalam tiap laga "Derby Merseyside". Tidak ada pengawalan atau batasan-batasan khusus yang dilakukan pihak keamanan dan penyelenggara pertandingan. Ya, keributan memang tidak terlalu dikhawatirkan pada setiap derby Kota Liverpool ini. Pasalnya, para suporter masing-masing lahir dari orang-orang yang berdekatan, salah satunya keluarga.

Dari sekitar 552.267 rumah di Liverpool, adalah hal lumrah jika masing-masing anggota keluarga mendukung kesebelasan berbeda. Mungkin bisa ayah, ibu, adik atau kakak, masing-masing mendukung Liverpool atau Everton.

Mengapa demikian? karena banyak rumah tangga yang dipadu dari masing-masing kubu fans berbeda. Ini membuat generasi ke generasi banyak memunculkan fanatisme kesebelasan beragam dalam keluarga. "Derby Merseyside" pun disebut-sebut sebagai derby paling ramah atau terhangat di Liga Inggris.

Kendati demikian bukan berarti gesekan itu tidak ada. Suporter Everton sempat kesal kepada Liverpool pada tragedi Heysel 29 Mei 1985. Kerusuhan tersebut menewaskan 39 penonton. UEFA pun menjatuhkan sanksi larangan bertanding kepada klub-klub Inggris untuk berpartisipasi di Eropa. Padahal, The Toffees, julukan Everton, baru menjuarai Liga Inggris, tapi gagal berlaga di Liga Champions.

Tensi Panas di Lapangan

Perpecahan dua kesebelasan sepakbola ini bermula ketika masih bernama St. Domingo FC pada 1800-an. Kesebelasan tersebut didirikan oleh jemaat gereja St.Domingo distrik Everton dan bermain di lapangan Stanley Park. Nama Domingo kemudian berubah menjadi Everton FC karena tidak hanya jemaat gereja saja, melainkan para penduduk distrik setempat ingin berpartisipasi.

Lalu, mereka berpindah markas, dari Stanley Park ke lapangan Anfield milik John Houlding. Akan tetapi, pemilik lapangan itu berseteru dengan petinggi Everton terkait harga sewa lapangan yang semakin mahal. Maka, Everton memutuskan pindah ke Goodison Park yang hanya berjarak sekitar satu kilometer. Karena kepindahan tersebut, Houlding pun membuat kesebelasan baru bernama Everton FC and Athletic Grounds Ltd yang bermain di Anfield.

Akan tetapi nama tersebut tidak diperbolehkan oleh Federasi Sepakbola Inggris, FA, karena menggunakan dua nama kesebelasan yang berbeda. Akhirnya, kesebelasan tersebut berganti nama menjadi Liverpool FC hingga saat ini. Dari situlah terkadang suporter Everton mengejek Liverpudlian sebagai penghuni liar.

Kendati akrab di kalangan suporter, "Derby Merseyside" tidaklah bersahabat di lapangan. Kedua kubu tetap bertempur dengan sengit selama 90 menit. Bahkan jumlah kartu merah dalam pertemuan "Derby Merseyside" adalah sebuah rekor. Kartu merah yang sudah dikeluarkan sebanyak 20 buah, menjadi yang terbanyak di Liga Inggris.

Selain itu, perpindahan pemain berseberangan juga terkadang menjadi bahan pergunjingan. Seorang Peter Beardsley merupakan pahlawan bagi Liverpool mengingat jasanya pada partai ulangan babak ke lima Piala FA 1991.

Pertandingan yang disebut-sebut sebagai salah satu partai panas Derby Merseyside. Liverpool unggul terlebih dahulu melalui gol Beardsley. Akan tetapi skor berakhir 4-4. Lalu pada akhir musim Beardley justru pindah ke Everton, sehingga cibiran para suporter Liverpool kepada Beardsley selalu muncul saat itu.

Sebetulnya masing-masing pemain kedua kubu saling mengagumi dan pernah menjadi suporter yang berbeda. Seperti Leighton Baines dan Leon Osman dari Everton yang merupakan fans Liverpool. Keadaan sebaliknya juga dirasakan Ian Rush, Steve McManaman, Robbie Fowler, Michael Owen dan Jamie Carragher, yang merupakan fans Everton.

Walau tekel keras antara kedua kesebelasan di lapangan kerap terjadi, hal itu tidak diikuti oleh para pendukungnya. Sehingga tidak ada perkelahian antara keluarga dalam satu kota tersebut. Lagian, derby yang bersahabat bukan berarti laga yang harus dipermasalahkan?.



Foto dari : Telegraph

Komentar