Saat Fans Milan Gunakan Sassuolo untuk Kalahkan Inter

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Saat Fans Milan Gunakan Sassuolo untuk Kalahkan Inter

Unione Sportiva Sassuolo Calcio. Jika mendengar nama kesebelasan tadi mungkin kita akan memandang rendah mereka. Dengan mengangetkannya, mereka mampu mengalahkan AC Milan dan juga Internazionale Milan pada awal tahun ini.

Jujur saja, Sassuolo adalah tim kecil. Mereka baru dua tahun promosi dari Serie-B untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1922. Dengan 41.000 penduduk, Sassuolo adalah kota terkecil yang pernah mewakili sebuah kesebelasan di Serie A. Sassuolo terletak di Provinsi Modena di Emilia-Romagna, salah satu daerah paling makmur di Italia.

Kesebelasan ini sekarang berada di tengah-tengah klasemen Serie A, yaitu peringkat ke-10. Catatan mereka juga cukup fantastis, yaitu tidak terkalahkan dari 18 Oktober sampai 13 Desember 2014 (delapan pertandingan).

Dua kemenangan terakhir mereka juga terjadi saat berhadapan dengan dua tim kota Milan. Kemenangan atas Inter menjadi buah bibir karena insiden Mauro Icardi dan Fredy Guarin yang bersitegang dengan fans Inter sendiri.

Kesebelasan kecil, ambisi besar

Kesebelasan yang baru dipromosikan di Italia hampir selalu memiliki reputasi menjadi tempat berkembangnya pelatih berkualitas tinggi, seperti Massimiliano Allegri, Andrea Stramaccioni, dan juga yang terbaru adalah Eusebio di Francesco dari Sassuolo.

Di Francesco adalah mantan gelandang tim nasional Italia yang pernah bermain untuk AS Roma. Dia adalah perintis keberhasilan bersejarah Sassuolo saat promosi, yang membuatnya mendapatkan perpanjangan kontrak.

Manajer berusia 45 tahun ini terus menempatkan kepercayaan dirinya kepada pemain yang memiliki ambisi besar, pemain yang ingin membuktikan diri, dan pemain yang mencari waktu bermain yang banyak untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Contohnya, gelandang Jasmin Kurti? asal Slovenia yang ia datangkan dari Palermo (sekarang sedang dipinjamkan ke Fiorentina), penyerang Simone Zaza yang semakin tajam, Domenico Berardi yang dipinjam dari Juventus, dan juga Paolo Cannavaro yang menyediakan keseimbangan di lini pertahanan.

Stadio Enzo Ricci, kandang mereka sebelumnya, hanya mampu menampung kapasitas 4 ribu penonton. Namun, pada 2012, lewat sponsor mereka, Mapei, mereka pindah ke stadion Città del Tricolore di Reggio Emilia, yang berkapasitas 20.000 penonton.

Salah satu momen paling diingat dari Sassuolo pada musim lalu adalah saat mereka mengalahkan Milan 4-3 di kandang baru mereka tersebut. Saat itu (12 Januari 2014), Berardi berhasil mencetak empat gol setelah  sempat tertinggal 2-0.

Mimpi mengalahkan Inter Milan

Kembali ke tahun 2004, Sassuolo menemukan dirinya mendekam di bagian hilir Serie C2, divisi ke empat dalam kompetisi sepakbola Italia. Mereka bahkan terancam degradasi ke Serie D. Gengsi mereka kalah jauh dari tim Formula 1 Ferrari yang bermarkas tidak jauh dari tempat mereka berlatih (di Maranello).

Namun, nasib mereka perlahan mulai berubah.

“Saya menawar 35.000 ribu Euro untuk membeli tim ini. Hubungan saya dengan kesebelasan (Sassuolo) saat itu adalah bahwa mereka bermain di daerah yang dicakup oleh bisnis saya,” kata Giorgio Squinzi, pemilik Sassuolo sekaligus presiden Confindustria, sebuah federasi pengusaha Italia.

“Perusahaan kami, Mapei, sudah terlibat dalam olahraga setelah kemitraan kami dengan olahraga bersepeda pada 1993 sampai 2002,” lanjut Squinzi. Tim balap sepeda Mapei adalah salah satu tim yang paling tangguh pada 1990-an.

“Ketika kami mengambil alih klub, kami memastikan bahwa kami mengadopsi pendekatan profesional. Kami mengambil waktu kami dengan baik, tidak memakai jalan pintas, menyeesaikan satu per satu masalah dan selangkah demi selangkah, kemudian menempatkan perencanaan yang baik yang membawa kami ke Serie B melalui empat promosi," kenang pengusaha Italia tersebut.

Squinzi sendiri adalah fans AC Milan sejak ia masih anak-anak. Ia juga tidak berniat “menyangkal imannya” ketika Sassuolo mengalahkan Milan 2-1 di San Siro awal tahun ini dan juga 4-3 di Reggio Emilia pada musim lalu.

Pada kemenangan terbaru, dua buah gol yang masing-masing dicetak oleh Nicola Sansone dan Zaza membuat Milan harus terkapar. Namun, ia mengaku bahwa ia tidak terlalu dilema dan cenderung bahagia saat timnya tersebut berhasil mengalahkan Milan.

Sambil menyangkal "dilematisme", Squinzi juga berkata bahwa “gairah” dan impian utamanya adalah mengalahkan Inter. Sayangnya pada awal musim ini, Sassuolo justru dibantai 7-0 oleh Inter di San Siro. Tapi setidaknya itu semua berubah pada pekan lalu.

“Mimpi saya adalah untuk mengalahkan Nerazzurri di San Siro,” katanya.

Meskipun ia gagal melakukannya di San Siro, tapi Sassuolo berhasil mengalahkan Inter di Reggio Emilia dengan skor 3-1 melalui gol dari Zaza, Sansone, dan Berardi. Lagi-lagi tiga pemain itu.

Mimpi tersebut perlahan mulai tercapai. Setidaknya di klasemen saat ini (pekan ke-21), Sassuolo (peringkat 10) berada 2 peringkat di atas Inter (peringkat 13) dan juga terpaut 2 poin. Tidak heran kenapa fans Inter sebegitu kesalnya sampai-sampai bentrok dengan Icardi dan Guarin, pemain mereka sendiri.

Komentar