Sementara Neuer Gagal, Buffon (Pernah) Berhasil

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Sementara Neuer Gagal, Buffon (Pernah) Berhasil

Salah satu saran transfer yang diberikan Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam buku karya keduanya, Soccernomics, adalah jangan membeli penyerang. Penyerang adalah posisi paling overpriced di sepakbola.

Posisi penjaga gawang, sebaliknya, adalah posisi paling underpriced. Karenanya tak mengherankan jika Manuel Neuer, sehebat apapun penampilannya sepanjang tahun, tetap tak mampu menyudahi duopoli Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Namun dibalik kegagalan Neuer, pernah ada seorang penjaga gawang yang berhasil melawan pandangan umum masyarakat. Dan tidak, saya tidak sedang membicarakan Lev Yashin.

Katakanlah ada sebuah alat yang bisa dengan tepat dan dengan sangat objektif menggambarkan tingkat kemampuan pemain sepakbola. Ada seorang penyerang dan seorang penjaga gawang dengan nilai kemampuan sama; 100.

Anggaplah standar harga untuk pemain sepakbola berkemampuan 100 adalah 10 juta euro. Untuk penyerang bernilai kemampuan 100, kebanyakan kesebelasan tidak akan keberatan membayar lebih dari 10 juta euro. Sementara untuk seorang penjaga gawang dengan tingkat kemampuan 100, 10 juta euro dirasa terlalu mahal.

Bukti terbaru dari teori Kuper dan Szymanski ini, sebagaimana telah disinggung di awal tulisan, terlihat dalam hasil voting Ballon d’Or 2014. Lebih banyak orang menyukai Ronaldo dan Messi ketimbang Neuer. Padahal Neuer adalah ikon dari penjaga gawang generasi baru: penjaga gawang yang mampu terlibat dalam distribusi bola, bukan menjaga gawang saja; penjaga gawang yang wilayah permainannya tidak dibatasi oleh kotak penalti.

Neuer menciptakan hal baru dan menguasainya dengan baik. Ronaldo dan Messi, sementara itu, hanya meneruskan apa yang sebelumnya sudah ada.

Neuer toh tetap tidak berhasil melawan pandangan umum. Jauh sebelum kegagalan Neuer menantang hal tersebut dipastikan, Gianluigi Buffon pernah membuat Juventus tidak ragu bergerak walau mereka dipandang bodoh oleh banyak pihak.

Mahar 45 juta euro yang dibayarkan Juventus kepada Parma pada hari ketiga di bulan Juli tahun 2001 dinilai berlebihan dan tidak masuk akal. Opini tersebut muncul dalam kepala banyak pihak hanya karena Juventus mengeluarkan dana sebesar itu untuk seorang penjaga gawang.

“Juventus melihat saya bermain, mereka berpikir ‘sial, si Buffon ini fenomenal’ dan membayar harga mahal untuk saya. Jika mereka membayar lima juta dan bukannya 45, maka transfer ini tidak akan menjadi hal besar. Namun pasar menentukan harga,” ujar Buffon kepada FourFourTwo mengenai perdebatan yang muncul dari kepindahannya.

Buffon nampak santai menanggapi perdebatan tersebut. Namun bukan berarti ia tanpa pembelaan. Menurut Buffon, penjaga gawang tak seharusnya dinilai lebih murah dari penyerang. “Seorang penjaga gawang sama vitalnya bagi sebuah tim dengan penyerang bagus. Dan kadang sama mahal.”

Terdengar bias, memang, karena komentar tersebut datang dari seorang penjaga gawang; langsung dari mulut orang yang kepindahannya diperdebatkan. Namun Buffon tak hanya bicara. Ia mampu membuktikannya. Tanpa kehadiran Buffon, Italia mungkin tak akan menjadi juara Piala Dunia di Jerman, tahun 2006.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan FIFA, Buffon diminta menyebutkan penyelamatan terbaik yang pernah ia buat. Walau kesulitan memilih, Buffon akhirnya memberi jawaban. Ia memiliki beberapa pilihan untuk penyelamatan terbaik, namun akhirnya memilih penyelamatan di final Piala Dunia 2006 sebagai yang paling menentukan.

“Saya rasa penyelamatan yang saya buat terhadap Zinedine Zidane di final Piala Dunia 2006 di Jerman mungkin merupakan yang paling menentukan.”

Penyelamatan tersebut, bersama banyak penyelamatan penting lainnya, seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi siapapun yang memandang remeh peran penjaga gawang. Anda saja banyak orang mau mengubah pandangan umumnya mengenai penjaga gawang, mungkin tak akan ada yang mempertanyakan biaya transfer Buffon. Mungkin Neuer akan menempati tempat yang lebih terhormat dari Messi; atau bahkan di atas Messi dan Ronaldo.

Sementara Neuer gagal menyudahi duopoli Ronaldo-Messi, Buffon berhasil membuat Juventus bergerak melawan arus pandangan umum masyarakat; dua hal yang berbeda. Namun siapa bilang keduanya tidak bisa dibandingkan? Keduanya sama-sama tidak pernah menjadi pemain terbaik dunia versi FIFA. Keduanya sama. Dan Buffon, hingga saat ini, masih menyandang status penjaga gawang termahal di dunia. Neuer gagal, Buffon berhasil. Neuer 0-1 Buffon.

Komentar