Women on Top: (Jangan) Meremehkan Sepakbola Perempuan

Cerita

by Aun Rahman Pilihan

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Women on Top: (Jangan) Meremehkan Sepakbola Perempuan

Duo perempuan Jerman bernama Nadine, yang satu Kessler dan lainnya Angerer, secara berturut-turut menjadi Pemain Terbaik Dunia Perempuan. Beberapa hari lalu, Kessler menerima penghargaan itu bersama Cristiano Ronaldo untuk kategori pria. Setahun sebelumnya, Angerer yang didapuk sebagai pemain terbaik.


Kessler memiliki catatan menakjubkan selama 2014. Kapten tim sepakbola perempuan Wolfsburg ini memenangi Women Bundesliga dan Women UEFA Champions League. Gelar ganda! Saat itu, Kessler berhasil membawa kesebelasan yang diperkuatnya menjadi kampuin Eropa dua kali berturut-turut.

Sepakbola perempuan memang baru belakangan saja mulai menyeruak ke permukaan. Padahal perempuan disebut-sebut sudah bermain sepakbola bahkan ketika olahraga ini pertama kali muncul. Tetapi Piala Dunia khusus perempuan baru diadakan pada 1991, setelah sebelumnya diawali Piala Eropa khusus perempuan pada 1984.

Yang menarik dan tidak biasa dari sepakbola perempuan adalah, mungkin dikarenakan masih baru, peta kekuatan sepakbolanya agak berbeda dengan sepakbola pria. Meski ada Jerman dan Brasil yang tampil dominan, tetapi Amerika Serika, Jepang, Norwegia, Cina dan Swedia juga bisa hadir sebagai kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Padahal tim sepakbola putra negara negara tersebut bisa dibilang biasa saja.

Dominasi Amerika Serikat di sepakbola perempuan bahkan menjadi salah satu yang menakjubkan. Kesebelasan nasional perempuan Amerika Serikat sudah dua kali menjadi juara dunia yaitu pada 1991 dan 1999, berhasil tiga kali meraih medali perunggu, dan empat kali meraih medali emas Olimpiade. Bahkan saat ini mereka menempati peringkat pertama FIFA.

Sementara Jepang juga bahkan pernah memenangi Piala Dunia Sepakbola Perempuan. Mereka menggondol gelar juara dunia pada 2011 di Jerman usai mengandaskan Amerika Serikat melalui adu penalti.

Meski demikian, sepakbola perempuan masih saja diperlakukan sebagai anak tiri. Hal ini diakui oleh Homare Sawa, kapten Jepang dan Pemain Terbaik Dunia Sepakbola Perempuan 2011. Ia menyebutkan sekalipun sudah menjadi Juara Dunia tetap saja ia mendapatkan diskriminasi gender.

Pada Olimpiade London 2012, kesebelasan-kesebelasan sepakbola perempuan tidak mendapatkan fasilitas terbaik seperti yang didapatkan tim sepakbola pria. Kesebelasan perempuan Jepang hanya mendapatkan penerbangan kelas ekonomi dengan 13 jam perjalanan, itu pun menuju Paris lebih dulu, sebelum akhirnya bertolak ke London. Bandingkan dengan kesebelasan pria Jepang yang mendapatkan penerbangan kelas bisnis.

"Seharusnya kami mendapatkan yang lebih baik, bahkan secara umur kami semua lebih senior," tambah Sawa.

Bagaimana dengan kesebelasan nasional perempuan Indonesia? Banyak orang bahkan tidak mengetahui kalau Indonesia punya kesebelasan perempuan. Padahal, kesebelasan perempuan kita pada 1977 sudah mulai bertanding.

Dan PSSI era itu memang cukup punya kepedulian pada sepakbola perempuan. Setelah berdekade-dekade mengandalkan kompetisi "perserikatan", di penghujung dekade 1970an PSSI meluncurkan proyek gala, liga sepakbola. Selain Galatama untuk pemain-pemain semi-pro, dirilis juga Galakarya (kompetisi untuk para karyawan), Galasiswa (untuk para pelajar) dan tak ketinggalan Galanita (Liga Sepakbola Wanita).

Agaknya itulah yang membuat Indonesia punya prestasi cukup bagus. Kesebelasan nasional perempuan Indonesia bahkan sempat menempati peringkat keempat Piala Asia Sepakbola Perempuan pada 1977 dan 1986.

Namun kini kesebelasan nasional perempuan Indonesia seakan hilang tak berbekas, terakhir bertanding pada 2013 dan dihajar Myanmar dengan skor 4-0. Pada AFF 2011, misalnya, Indonesia dibantai 0-11 dan 0-14 oleh kesebelasan perempuan Laos dan Vietnam.

Padahal, peta persaingan sepakbola perempuan masih berpeluang untuk diisi. Jika sepakbola pria sudah jelas mana saja kekuatannya, sepakbola perempuan relatif masih terbuka. Negara-negara adidaya sepakbola (pria) banyak yang dikalahkan oleh negara-negara yang semenjana saja. Bahkan Jepang dan Amerika Serikat saja bisa juara dunia.

Memang akan ada anggapan seperti ini "kesebelasan laki-lakinya saja mandeg, buat apa ngeluarin biaya lebih untuk pengembangan sepakbola perempuan?". Tetapi bukankah perempuan-permpuan terkenal kuat, spartan dan pejuang? Seperti Cut Nyak Dien?

Ironis memang. Futsal kini justru mulai mendapatkan porsi perhatian besar dari PSSI. Padahal, mari kita ajukan pertanyaan ini: lebih murni mana kadar sepakbolanya, futsal atau sepakbola perempuan?

============

Foto: wikimedia

Komentar