Pardew dan Moyes, Saat Zona Nyaman Tak Lagi Menenangkan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pardew dan Moyes, Saat Zona Nyaman Tak Lagi Menenangkan

Alan Pardew membuat keputusan mengejutkan dengan memilih hengkang ke Crystal Palace. Perjalanan karirnya selama tiga setengah tahun di Newcastle United berakhir sudah. Pardew benar-benar memilih untuk keluar dari zona nyaman yang sudah tak lagi menenangkan.

Baru dua hari berselang setelah ia resmi dipinang Palace, Pardew membawa tim yang tengah berjuang di zona degradasi tersebut menang 4-0 atas tim tingkat kelima Liga Inggris, Dover Athletic, dalam ajang Piala FA. Keberhasilan ini sejatinya tidak mengejutkan karena kualitas permainan Dover masih berada di bawah Palace. Namun, kemenangan ini menjadi spesial karena merupakan debut Pardew yang menjadi ajang pembuktian akan kualitas dirinya.

Di awal musim, Pardew sempat merasakan ketegangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, hampir semua penonton yang ada di tribun St. James Park mencemoohnya dan memintanya pergi. Bahkan, sebuah situs dibuat khusus untuk dirinya: Sackpardew.com.

Belakangan, penampilan Newcastle makin menanjak. Kekalahan atas Stoke City pada 29 September tahun lalu, menjadi yang terakhir bagi Cheik Tiote dan kolega. Setelah itu, mereka mencatatkan enam kemenangan beruntun. Mereka bahkan mengalahkan Chelsea yang sebelumnya tak terkalahkan dengan skor 2-1. Kemenangan tersebut membuat dukungan untuk Pardew pun kembali.

Pardew menilai ada yang kurang dalam komposisi pemainnya. Masih banyak pemain muda yang masih perlu dukungan pemain lebih senior. Ini terlihat dari sembilan gol yang dicetak Pappis Demba Cisse di liga. Pemain muda seperti Ayoze Perez baru mencetak lima gol dengan menit bermain yang dua kali lipat lebih banyak dari Cisse.

Sayangnya, manajemen Newcastle memberikan sinyal negatif atas penambahan skuat Newcastle pada bursa transfer bulan Januari. Mereka menyebut tidak akan mengeluarkan uang untuk membeli pemain baru. Tak senang atas aksi manajemen, Pardew pun menerima pinangan Palace yang sebelumnya mendepat Neil Warnock dari jabatan manajer.

Banyak yang menganggap keputusan Pardew tersebut sebagai hal yang gegabah karena bisa saja karirnya meredup jika gagal membawa Palace berjuang keluar dari zona degradasi. Namun, Pardew tetap pada keputusannya untuk menahkodai klub yang bermarkas di Selhust Park tersebut.

Setali tiga uang dengan Pardew, David Moyes pun keluar dari zona nyaman dengan memilih untuk kembali aktif di dunia sepakbola. Ia menerima pinangan Real Sociedad yang sama-sama berjuang di zona degradasi. Moyes menjadi bahan olokan sejak hari pertama karena ketidakmampuannya berbahasa Spanyol, serta kekakuannya dengan pemain, bahkan salah menyebut nama pemain.

Namun pada Minggu (4/1) malam tadi, Moyes mendapat pujian dari berbagai kalangan. Ia sukses membuat timnya mampu mengalahkan tim peringkat kedua Liga Spanyol, Barcelona.

Kehadirannya di Sociedad memberikan berkah tersendiri bagi klub yang bermarkas di Estadio Anoeta tersebut. Ia meneguhkan Sociedad sebagai tim pembunuh tiga raksasa Liga Spanyol: Real Madrid, Atletico Madrid, dan Barcelona. Moyes sendiri baru mencicipi tuah tersebut kala mengalahkan Barcelona. Tapi dari delapan pertandingan di Liga Spanyol dan Copa del Rey, Moyes mencatatkan tiga kemenangan, empat hasil seri, dan hanya sekali kalah.

Pardew dan Moyes, keduanya melepaskan diri dari zona nyaman. Pardew pergi karena ia tahu dukungan sudah tak murni lagi. Pun begitu dengan Moyes, yang sebelumnya hanya berdiam, dan malah menjadi bahan olokan. Atau lebih tepatnya, Moyes telah keluar dari zona nyamannya sebagai pengangguran.

Hingga saat ini, keputusan keduanya untuk keluar dari zona nyaman cukup sesuai yang diharapkan. Ya, mereka kini bisa hidup lebih tenang.

Sumber gambar: ibitimes.co.uk

Komentar