Kekerasan Ancam Penyelenggaraan Piala Dunia Rusia 2018

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kekerasan Ancam Penyelenggaraan Piala Dunia Rusia 2018

Pesepakbola klub Anzhi Makhachkala, Gasan Magomedov, tewas pada Sabtu (3/1) lalu. Ia diberondong senapan mesin ketika tengah mengendarai mobil menuju ke rumahnya di kawasan Distrik Novolaksky, Dagestan, Rusia. Hingga saat ini, polisi masih belum mengetahui dalang dan motif di balik penembakan tersebut.

Dari penelusuran sejumlah media baik internasional maupun media nasional, hampir tidak ada yang menemukan kesamaan antara rasisme dan pemberontakan di Rusia. Padahal, jika melihat lokasi tempat Gasan terbunuh mulai terlihat motif yang saling kait mengkait.

Rusia bukanlah tempat yang tepat bagi sesuatu bernama masyarakat multikultural. Hadir sejumlah kelompok radikal yang menentang itu semua. Masuknya pengaruh asing dianggap hanya akan merusak persatuan nasional. Padahal, Rusia adalah negara dengan wilayah terluas, yang membentang dari Eropa hingga ujung timur Asia. Dari luas tersebut, ada wilayah yang pada akhirnya memisahkan diri. Utamanya karena ada perbedaan suku bangsa dan kepercayaan.

Dagestan berada di wilayah Kaukus Utara, atau di barat daya Rusia. Dagestan mendapat status federal dengan nama resmi “Republik Dagestan”. Dagestan berbatasan dengan Laut Kaspian, Azerbaijan dan Georgia. Secara admininstratif, terdapat 41 distrik dan sepuluh kota. Distrik Novolaksky berada di bagian barat Dagestan yang berbatasan langsung dengan Republik Chechnya.

Mayoritas warga Dagestan adalah Muslim, sama dengan mayoritas penduduk di wilayah Kaukus Utara. Sejak 2010, Dagestan menjadi salah satu wilayah di Rusia yang rentan dengan kekerasan. Di wilayah tersebut  terjadi perang sipil atas dasar sektarian atau diskriminasi/kebencian akibat perbedaan dalam suatu kelompok.

Kekerasan di Dagestan telah merenggut ratusan korban jiwa. Crisis Group mencatat ratusan petugas keamanan, admininstrator, jurnalis, politisi, hingga menteri tewas sejak 2003. Organisasi radikal, Shariat Jamaat dianggap bertanggung jawab atas kekacauan tersebut. Konflik di Rusia memang terbilang rumit karena melibatkan banyak etnis di dalamnya.

Ketakutan akan perbedaan etnis, utamanya di pusat pemerintahan Rusia, dipicu aksi yang mereka sebut “terorisme” yang melibatkan etnis Kaukus. Saat aksi bom bunuh diri merebak pada 2009-2011, perdana menteri Rusia kala itu, Vladimir Putin (sekarang Presiden Rusia), mengeluarkan pernyataan bahwa aksi tersebut tak ada hubungannya dengan Republik Chechnya. Ucapan tersebut dianggap sebagai bentuk mengurangi resistensi terhadap warga di Kaukus Utara.

Sayangnya, tidak sedikit warga Rusia yang terlanjur benci dengan warga etnis tertentu, utamanya dari Kaukus Utara. Ini yang membuat Rasisme di Rusia mulai merebak. Terlebih lagi dengan hadirnya pengaruh neo-Nazi yang kian melekat di sejumlah pemuda Rusia, yang menginginkan berdirinya partai ultra-nasionalis.

Ketegangan ini makin terasa pada bulan April. Mereka yang neo-Nazi akan merayakannya karena bertepatan dengan ulang tahun Adolf Hitler. Pemerintah Rusia sendiri biasanya telah memberikan peringatan terhadap mahasiswa asing atau turis untuk tinggal di kamar hotel selama periode tersebut, untuk meminimalisasi ancaman kekerasan.

Hal ini jelas berdampak pada penyelenggaraan Piala Dunia 2018 yang akan berlangsung di Rusia. Stadion Central yang terletak di kota Volgogard hanya berjarak beberapa jam perjalanan dari Machakala, ibukota Dagestan. Ditakutkan ada aksi lanjutan dari pemberontak yang menargetkan Piala Dunia 2018 sebagai aksi mereka berikutnya.

Malang bagi Gasan, karena pada 17 Januari mendatang ia akan berulang tahun yang ke-21. Kematian Gasan adalah sebuah ketidaksengajaan yang luar biasa karena ia tewas diberondong senapan mesin, senjata yang tidak biasa dikoleksi warga sipil yang iseng.

Jika motifnya karena perlawanan terhadap warga etnis Rusia, penyerangan tersebut jelas salah besar. Penyerangan yang diduga dilakukan oleh milisi Islam patut dipertanyakan karena nama keluarga “Magomedov” mayoritas berhaluan Sunni Islam, yang menjadi mayoritas di Dagestan.

Kasus ini juga bisa dikaitkan dengan tewasnya Yakhya Magomedov, editor majalah As-Salam pada 8 Mei 2011 silam. Ia ditembak empat kali saat meninggalkan rumah kakaknya di Khasavruyt, barat daya Dagestan. Kelompok ekstrimis Islam dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Menurut situs Reporters Without Borders, ini terjadi karena majalah As-Salam menyebarkan paham Islam yang lebih moderat, yang dianggap membuat marah fundamentalis Muslim.

Kejadian tersebut memang bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi terlihat ada perencanaan. Ini akan mengerikan jika Piala Dunia 2018 benar-benar menjadi target besar dari rangkaian aksi kekerasan di Rusia.

Sumber gambar: atlantablackstar.com

Komentar