Thauvin: Bakat Besar yang Belum Maksimal

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Thauvin: Bakat Besar yang Belum Maksimal

Lahir pada 26 Januari 1993 membuat Florian Thauvin menjadi pemain termuda di Ligue 1 yang secara langsung terlibat dalam proses terjadinya lebih dari sepuluh gol sepanjang musim lalu. Rinciannya seperti ini: delapan gol dan tiga assist.

Musim ini Thauvin sudah berhasil mencetak empat gol dan membuat enam assist walaupun baru menjalani 18 pertandingan. Sebuah catatan yang mengundang perdebatan: apakah Thauvin sudah sudah cukup baik untuk ukurannya? Atau justru sebaliknya?

Thauvin lahir di Orléans dan sempat membela beberapa tim muda hingga pada akhirnya bermain untuk Grenoble Foot 38. Bersama klub yang berlokasi di kota Grenoble di kaki Pegunungan Alpen tersebut, Thauvin hanya menghabiskan satu musim bersama tim senior.

Sporting Club de Bastia menjadi pelabuhan baru Thauvin sejak 10 Agustus 2011. Di Bastia, ia juga tidak bertahan terlalu lama. Lille OSC tertarik kepada Thauvin dan memutuskan untuk mengontrak sang pemain secara permanen pada bulan Januari tahun 2013, dengan biaya transfer sebesar 3,5 juta euro.

Namun Thauvin tidak pernah benar-benar bermain untuk Lille. Setelah dikontrak secara permanen, Thauvin dibiarkan kembali ke Bastia sebagai pemain pinjaman. Di tahun yang sama, ia juga bermain membela tim nasional Perancis usia muda di Piala Dunia U-20 di Turki.

Di kejuaraan tersebut, Thauvin tak hanya menjadi pemain andalan. Ia juga berhasil tampil gemilang dan menjadi pemain kunci. Pada babak perempat final, Thauvin mencetak satu gol saat Perancis mengalahkan Uzbekistan empat gol tanpa balas. Di pertandingan semifinal, melawan Ghana, Thauvin mencetak kedua gol Perancis untuk memastikan bahwa satu gol Ebenezer Assifuah tak memiliki arti apa-apa.

Penampilan yang ia tunjukkan sepanjang tahun 2013 membuat Olympique de Marseille berani mengeluarkan biaya sebesar 14,65 juta euro untuk membawanya ke Stade Vélodrome. Tidak murah, namun itu adalah jumlah yang mau tidak mau harus dikeluarkan oleh Marseille agar tawaran mereka diterima oleh Lille. Klub-klub Inggris, termasuk duo London utara, dikabarkan meminati jasa Thauvin.

Usia muda tidak menjadi halangan bagi Thauvin utuk langsung menjadi pemain andalan di klub barunya. Padahal Marseille sendiri bukanlah tim sembarangan. Hingga saat ini, tak pernah ada tim Perancis yang berhasil menyamai pencapaian Marseille di Eropa: dua kali tampil di final Champions League, dan satu kali menjadi juara di kompetisi yang sama.

Pergantian pelatih kepala juga tidak membuat Thauvin tersisih. Di bawah kepemimpinan Marcelo Bielsa, Thauvin tetap menjadi pilihan utama. Oleh Bielsa, Marseille disulap menjadi tim yang mampu bermain sangat mengancam dengan gaya bermain yang sangat cair. Hal tersebut membuat Thauvin, yang kebetulan mampu ditempatkan di banyak posisi di lini serang, bermain lepas di setiap pertandingan yang ia jalani. Hasilnya jelas: empat gol dan enam assist dari 18 pertandingan Ligue 1.

Tetap saja Thauvin dinilai belum memenuhi potensi yang ia miliki. “Di OM, Thauvin belum berkembang sesuai harapan,” ujar Andrew Gibney dari In Bed With Maradona. “Hasil akhir masih jauh dari harapan. Ia tidak mengontrol jalannya pertandingan. Thauvin nampak tidak mampu menunjukkan hal-hal penting yang ia tampilkan kala masih membela Bastia,” tutupnya.

Komentar