Kisah Antara Wenger, Henry, Arsenal, dan Monaco

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kisah Antara Wenger, Henry, Arsenal, dan Monaco

Undian 16 besar Champions League mempertemukan AS Monaco dengan Arsenal. Belum pernah sebelumnya kedua tim bersua di pertandingan kompetitif tingkat Eropa, namun hasil undian ini tetap membangkitkan cerita lama. Juga peluang yang tidak akan pernah terwujud nyata.

Di awal tahun 1990-an, Arsène Wenger dan Thierry Henry dipertemukan di sebuah negara mikro bernama Kesultanan Monako dalam kondisi yang kurang lebih sama: belum memiliki nama besar dan belum dikenal oleh dunia. Belasan tahun berlalu sejak saat itu, dan keduanya kini telah menjadi sosok yang berbeda.

Wenger memang tidak pergi secara terhormat dari Monaco. Ia didepak di awal musim 1994/95 – tepatnya pada 17 September 1994 – karena Monaco berada di peringkat ke-17 di tabel klasemen sementara Ligue 1. Hal tersebut, bagaimanapun, tidak mengubah fakta bahwa Wenger pernah membawa Monaco berjaya.

Di musim pertamanya sebagai manajer Monaco, musim 1987/88, Wenger berhasil mempersembahkan gelar juara Ligue 1. Tiga tahun setelahnya, Wenger mempersembahkan gelar lain: Coupe de France.

Cerita manis tak hanya berhasil ditorehkan oleh Wenger di permukaan piala. Gelar Coupe de France memberi Monaco hak untuk berlaga di European Cup Winner's Cup musim berikutnya. Pada kejuaraan tersebut, Monaco berhasil mencapai partai final. Bersama Wenger pula Monaco berhasil sampai ke semifinal Champions League musim 1993/94.

Selain mempersembahkan gelar dan membawa Monaco ke tempat-tempat yang terhormat, Wenger juga bertindak sebagai pembuka jalan kesuksesan untuk seorang penyerang muda. Bukan penyerang muda biasa, namun seorang pemain yang pada akhirnya berhasil menjadi penyerang terbesar sepanjang sejarah Perancis: Thierry Henry.

Wenger memberi Henry peluang untuk menjalani debut pada hari terakhir di bulan Agustus tahun 1994, kurang dari dua puluh hari sebelum dirinya dipaksa untuk angkat kaki.

Henry tidak menyia-nyiakan peluang yang diberikan oleh Wenger. Bersama Monaco ia berhasil menjadi pemain muda terbaik Perancis di tahun 1996 dan menjadi pemain berpengaruh saat Monaco meraih gelar juara Ligue 1 dan Trophée des Champions setahun setelahnya. Musim berikutnya, Henry dan Monaco bermain di semifinal Champions League.

Wenger dan Henry memilih jalan yang berbeda setelah meninggalkan Monaco. Wenger berkelana ke Jepang sementara Henry melanjutkan karirnya di Italia bersama Juventus. Keduanya kembali bekerja sama di Arsenal dan sama-sama (boleh dikatakan) menggapai titik puncak karir mereka masing-masing di London.

Mengingat Henry dan Wenger belum pernah berhadapan dengan Monaco sebagai pemain dan manajer di tim yang sama, akan menarik jika hal tersebut dapat terwujud: entah pada 25 Februari di Emirates Stadium atau pada 17 Maret di Stade Louis II.

Namun itu tidak akan terjadi bagi Henry. Karena ia baru saja mengumumkan keputusannya untuk pensiun beberapa bulan lalu.

Komentar