Bom Waktu di Lini Serang Sriwijaya FC

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Bom Waktu di Lini Serang Sriwijaya FC

Jika melihat pergerakan bursa perpindahan pemain Indonesia Super League (ISL) 2015, banyak orang akan beranggapan Sriwijaya FC yang diasuh pelatih barunya, Benny Dollo, akan menjadi tim yang akan disegani lawan. Anggapan ini muncul karena mereka memiliki trio penyerang lokal berkualitas untuk musim depan; Patrich Wanggai, Titus Bonai, dan Ferdinand Sinaga sang pemain terbaik ISL 2014.

Ya, memang, ketiganya merupakan sedikit dari penyerang lokal yang cukup bisa bersaing dengan penyerang asing di liga Indonesia. Ketiganya pun pernah masuk dalam anggota skuat timnas SEA Games 2011, di mana ini setidaknya membuktikan bahwa mereka merupakan penyerang yang memiliki kualitas di atas rata-rata.

Namun nyatanya, di samping mereka memiliki penyerang-penyerang berkualitas, sebenarnya ada satu hal yang bisa membuat kualitas trio penyerangnya itu bukan lagi menjadi hal yang spesial. Dan hal itu adalah sikap ketiga pemain ini yang agaknya susah diatur.

Dimulai dari Titus Bonai. Pemain yang akrab disapa Tibo ini kerap sekali melakukan tindakan indisipliner. Pada ISL musim lalu saja, ia sudah tak mendapatkan kesempatan bermain sejak pertengahan babak delapan besar ISL karena kasus indisipliner. Saking seriusnya, Persipura bahkan merelakan skuatnya tidak diperkuat Tibo di partai-partai genting semifinal dan final ISL. Adakah yang seberani Persipura macam itu di ISL?

Kala itu manajemen Persipura tak merinci apa yang dilakukan Tibo sehingga diganjar hukuman ini. Manajemen hanya mengatakan bahwa Tibo melakukan tindakan indisipliner. Namun tampaknya yang dilakukan Tibo cukup serius karena ia pun terakhir berlaga saat menghadapi Arema Cronus pada pertandingan ketiga babak delapan besar sebelum akhirnya hijrah ke Sriwijaya FC.

Jauh sebelum itu, tindakan indisipliner pun sudah menghiasi perjalanan karir Tibo. Timnas Indonesia sering menjadi korban ketidakdisiplinan Tibo ini, contohnya pada Piala AFF 2012. Alasan yang digunakan Tibo pun selalu sama, ada masalah keluarga sehingga tak bisa memenuhi panggilan timnas, tak bisa berlatih bahkan meninggalkan timnas tanpa ijin.

Bahkan pada pra-Olimpiade 2012, Tibo dicoret pelatih timnas kala itu, Alfred Riedl, karena dua kali kedapatan meminum minuman keras. Tibo kabarnya memang pecandu alkohol bahkan hingga saat ini.

Berikutnya, Ferdinand Sinaga pun bukan tipe pemain yang selama karirnya adem ayem. Karirnya sebagai pesepakbola sering terganggu karena sikapnya yang bisa dibilang terlalu arogan. Bahkan tak jarang ia memunculkan sisi temperamentalnya di atas lapangan.

Saat membela Persib Bandung musim lalu, Ferdinand mendapat enam kartu kuning dan satu kartu merah. Satu kartu merahnya didapat ketika Persib dikalahkan Semen Padang di stadion Haji Agus Salim. Pada pertandingan itu, ia tak bisa menahan emosinya (entah karena apa) sehingga menendang kaki Osas Saha, penyerang Semen Padang dengan sengaja.

Soal ketidakmampuan menahan emosi pun pernah ditunjukkannya ketika berbaju timnas. Saat timnas Indonesia melawan ASEAN All Star pada Mei lalu, Ferdinand yang dipanggil Alfred Riedl, masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-70.

Namun setiap ia menguasai bola, ia malah mendapat sorakan dan teriakan bernada cemoohan dari bangku penonton, padahal laga itu berlangsung di Stadion Gelora Utama Bung Karno. Pasca wasit meniup tanda berakhirnya pertandingan, tanpa disangka ia memanjat tribun penonton ke arah sumber suara tersebut.

Sanksi larangan bertanding pun seringkali menimpanya. Selain karena cukup sering mengoleksi kartu kuning dan juga kartu merah, aksinya yang sering memprovokasi lawan bahkan wasit pun sering berakibat pada hukuman larangan bermain baginya.

Pada pertemuan pertama Persib melawan Semen Padang, Ferdinand terbukti bersalah setelah mengatai wasit. Ia pun kemudian dihukum dua kali larangan tampil dan denda sebesar 25 juta. Hukuman ini tak jauh berbeda dengan yang pernah ia terimanya saat bermain untuk Persisam Samarinda di mana ia pun dihukum karena memprovokasi lawan saat mengahdapi Persiwa Wamena pada 13 Maret 2013.

Selain Tibo dan Ferdinand, Patrich Wanggai yang menjadi penyerang rekrutan anyar Sriwijaya pun memiliki catatan buruk soal karirnya, meski tak separah yang dilakukan Ferdi dan Tibo. Saat terjadi dualisme di liga Indonesia, pemain yang akrab diapa Patty ini kabur dari timnya, Persidafon Dafonsoro, untuk memenuhi panggilan timnas. Ini sempat menjadi masalah di antara Persidafon dan Patrich. Namun karena Persidafon saat itu memiliki masalah finansial dan memang menaruh harapan besar pada kemampuan Patrich, Patrich pun akhirnya tak mendapatkan hukuman dari manajemen tim.

Patrich pun merupakan salah satu pemain yang cukup arogan di lapangan. Terbaru, ketika ia membela T-Team, klub Malaysia, ia mengaku telah mengintimidasi wasit. Bahkan wasit yang dimakinya tersebut sampai memaki balik Patrich. Ini setidaknya menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Patrich terhadap wasit cukup keterlaluan.

Apa yang diungkapkan di atas tentunya hanya sedikit catatan bahwa ketiga pemain ini merupakan pemain yang cukup bermasalah. Tapi setidaknya ini bisa menunjukkan bahwa barisan penyerang berkualitas Sriwijaya ini bisa menjadi bumerang bagi Sriwijaya sendiri.

Ya, Sriwijaya, khususnya Benny Dollo, bisa saja memiliki trio penyerang yang bisa merepotkan lini pertahanan lawan. Tapi ketika salah satu, dua atau mungkin ketiganya tak bisa diturunkan karena mendapat hukuman larangan akibat dari tindakan yang tak perlu seperti yang diungkapkan di atas, pada akhirnya Sriwijaya pun akan kehilangan sekian persen daya gigitnya di kotak penalti.

PR ada pada Benny Dollo. Dan dia bukan pelatih yang hijau pengalamannya, semestinya dia tahu bagaimana mengelola anak-anak asuhnya yang berbakat dan potensial itu.

Baca juga: menilik kekuatan Sriwijaya FC 2015

foto: ligaindonesia.co.id

Komentar