Monaco vs Dortmund untuk Final Champions League

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Monaco vs Dortmund untuk Final Champions League

Musim ini Jerman menawarkan cerita menarik: Borussia Dortmund kewalahan di Bundesliga (dan sempat menghuni posisi juru kunci) namun mampu tampil gemilang di kancah Eropa. Cerita serupa juga ternyata tersaji dari negara mikro yang luas wilayahnya hanya 202 hektar atau hanya sedikit lebih besar dari Kelurahan Cililitan: Kepangeranan Monako.

Association Sportive de Monaco Football Club, klub kebanggaan Monako, kesulitan di Ligue 1 namun lolos sebagai pimpinan klasemen dari Grup C di Champions League musim ini.

Sudah sangat lama waktu berlalu sejak Monaco merasakan gelar juara liga Perancis mereka yang terakhir pada tahun 2000. Sudah banyak pula hal yang berubah sejak Monaco, bersama FC Porto, mengejutkan dunia dengan cara mencapai final Champions League musim 2003/04. Les Rouges et Blancs bahkan sempat turun kasta ke Ligue 2.

Walau demikian, dalam beberapa tahun kebelakang, Monaco pantas diperhitungkan. Transformasi diri menjadi klub kaya baru membuat Monaco dengan mudah kembali ke Ligue 1 dengan status juara Ligue 2 musim 2012/13. Jika pada akhirnya Monaco gagal menjadi juara Ligue 1 musim 2013/14, semua itu dapat dimaklumi karena gelar tersebut jatuh ke tangan klub kaya baru yang lain: Paris Saint-Germain.

Monaco memang hanya mampu menjadi runner-up dan berjarak sembilan poin dari tim juara, tapi mereka tetap pantas bangga. Monaco mengakhiri musim di tempat yang lebih terhormat dari tim-tim pemilik tradisi juara seperti AS Saint-Étienne dan Olympique de Marseille, yang masing-masing berada di posisi keempat dan keenam.

Catatan musim lalu membuat Monaco diprediksi kembali bersaing ketat dengan PSG musim ini. Kenyataan berkata lain. Monaco malah tercecer dari persaingan. Hingga dua pertandingan menjelang jeda paruh musim, pasukan Leonardo Jardim masih berada di posisi yang tidak seharusnya. Ada enam tim yang berada di posisi yang lebih tinggi dari Monaco di tabel klasemen sementara: Olympique de Marseille, Paris Saint-Germain, Olympique Lyonnais, AS Saint-Étienne, Girondins de Bordeaux, dan Stade Rennais.

Terseok-seok di Ligue 1 tidak lantas membuat Monaco, yang sempat dianggap remeh oleh banyak pihak, kesulitan di Champions League. Bayer Leverkusen, salah satu kandidat juara Bundesliga musim ini, dipaksa menduduki posisi kedua karena peringkat pertama adalah milik Monaco.

“Ingatlah, pada bulan Agustus Monaco disebut-sebut sebagai tim terburuk di grup. Balas dendam? Tidak. Saya bahagia karena kami berhasil mencapai target. Tim ini memberi respon nyata kepada para pengeritik, dan terutama kepada orang-orang di Perancis yang mengatakan di awal musim bahwa kami tidak memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk lolos dari fase grup,” ujar Jardim mengenai keberhasilan timnya, sebagaimana diwartakan oleh situs resmi Ligue 1.

Tak hanya berhasil membalas kritik, Monaco meloloskan diri dengan cara yang cukup unik. Tidak banyak gol yang mereka ciptakan selama enam pertandingan: cukup empat saja. Hanya Benfica, penghuni posisi terbawah di Grup C, yang jumlah golnya lebih sedikit ketimbang Monaco. Zenit mencetak gol dalam jumlah yang sama sementara Leverkusen malah berhasil menyarangkan tujuh gol. Namun Monaco memiliki catatan yang tidak mampu disamai oleh tiga pesaingnya. Gawang Monaco hanya kebobolan sebanyak satu kali saja.

“Kami tidak selalu bermain flamboyan namun kami telah bekerja keras dan bermain konsisten sepanjang fase grup. Kami tidak selalu menunjukkan permainan sepakbola indah namun kami solid,” ujar kapten tim, Jérémy Toulalan. Jika semua itu mampu dipertahankan oleh Monaco, bukan tak mungkin mereka akan kembali berhasil mencapai final. Final melawan Dortmund, tepatnya. Agar menarik saja.

Komentar