Volker Ippig, Penjaga Gawang Ideologi St. Pauli

Cerita

by Frasetya Vady Aditya Pilihan

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Volker Ippig, Penjaga Gawang Ideologi St. Pauli

Volker Ippig adalah satu dari sejumlah nama ketika St. Pauli perlahan mulai dikultuskan pada 1980-an. Ippig sejatinya berposisi sebagai penjaga gawang. Namun, bukan penyelamatan hebat dengan lompatan indah yang terkenang darinya. Ippig dikenal karena kecintaannya pada pemikiran dan ideologi sosialis.

Sebagai sebuah klub, St. Pauli memiliki fondasi ideologi kiri yang begitu kuat. Ini yang membuat klub yang berdiri pada 1910 tersebut menjadi acuan bagi penggemar bola yang ingin menikmati sajian lebih dari sekadar sepakbola.

"Corgito ergo sum" begitu ungkapan filsuf Prancis, Rene Descartes. "Aku berpikir maka aku ada". Karl Marx sudah hilang entah ke mana, tapi bukunya ada di mana-mana. Antonio Gramsci lebih banyak melihat dunia dari balik jendela penjara ketimbang melihat teori hegemoninya berkembang di masyarakat.

Pun dengan Ippig. Meski sudah tak lagi aktif sebagai pesepakbola, ia selalu dicintai karena keteguhan pendiriannya. Itu semua bukan sekadar gagasan. Ippig menerapkan nilai-nilai dalam ideologinya ke dalam kehidupan. Seolah ia hidup hanya untuk masyarakat. Dalam karirnya sebagai pesepakbola, Ippig berhenti beberapa kali. Ia pernah mengajar di TK untuk anak berkebutuhan khusus.

Posisi penjaga gawang sejatinya adalah posisi yang spesial. Jarang sebuah klub bergonta-ganti kiper sepanjang musim. Satu klub identik dengan satu kiper. Ia adalah posisi yang jarang tergantikan. Uniknya, ada faktor suka-tidak suka saat pelatih memilih kiper utama.

Jauh lebih dalam, kiper adalah satu-satunya orang di lapangan yang tak pernah menoleh ke belakang. Seandainya dia sering menoleh, pastilah dia kiper yang gagal. Ya, satu-satunya kesempatan kiper menoleh ke belakang adalah saat bola meluncur masuk ke dalam gawang. Karena hal ini, kiper biasanya memiliki pandangan lain tentang sepakbola dan kehidupan. (Baca: Buffon, Jangan Mau Jadi Kiper)

Ippig berasal dari Lensahn, sekitar 100 kilometer arah utara Hamburg. Pada akhir 1970-an, Hamburg dan daerah di sekitarnya tumbuh subur ideologi kiri, baik secara gagasan maupun tindakan.

Banyak orang berkumpul dan bicara mengenai gagasan politiknya di bar dan kafe. Tentu, stadion pun tak ketinggalan. Pertandingan St. Pauli menjadi jembatan pertukaran gagasan tersebut. Sejumlah komunitas yang berkumpul di kafe-kafe pindah tempat dan bertemu komunitas lainnya di stadion, dengan membawa ideologi yang radikal bersama mereka.

Ippig pernah berujar bahwa St. Pauli selalu menjadi istimewa terutama bagi orang yang menyenangi sepakbola, tanpa memerhatikan pandangan politik. "Sebelum kesuksesan kami, banyak yang percaya bahwa seseorang tidak seharusnya secara terbuka mengakui pandangan politiknya. Namun, bersama kami hal tersebut menjadi mungkin dan diperlukan," tutur Ippig.

Bagi fans St. Pauli, tidak ada pemain lain yang mewujudkan pandangan politik sayap kiri lebih ideal dari Ippig. Tak seperti pesepakbola lain, apa yang ada di kepala Ippig bukan sekadar gagasan, tapi diwujudkan dalam kenyataan. Ia merasa pandangan politiknya jauh lebih penting ketimbang sepakbola itu sendiri.

Selain bekerja di TK untuk anak berkebutuhan khusus, Ippig pun membangun sebuah rumah di pedesaan. Di akhir pekan, ia pergi ke sana, menyalakan perapian dan membaca karya Carlos Castenada. Ia mencoba memahami dirinya sendiri di sana.

Di sejumlah kesempatan, ia berhenti dari sepakbola dan bergabung menjadi pekerja di Nikaragua. Ia terlibat aktif dalam pengerjaan pembangunan di sana. Saat ia pulang ke St. Pauli, ia selalu masuk lapangan dengan ciri khasnya: mengangkat tinju ke angkasa, untuk para penggemar.

Karirnya berakhir pada 1991 karena kecelakaan di lapangan latihan. Tulang belakangnya patah. Delapan tahun berselang, dengan sakit yang dideritanya, ia kembali ke St. Pauli sebagai pelatih kiper membawanya untuk memahami lebih dalam untuk menangani cedera pemain.

Karena berkonflik dengan manager St. Pauli ketka itu, Dietmar Demuth, Ippig meninggalkan Pauli pada 2003. Ia pun pernah melatih di Vfl Hamburg, VfB Lubeck, dan Vfl Wolfsburg. Pada 2008 ia menambah pemasukannya dengan bekerja di dermaga Hamburg.

Ippig menyebut bahwa ia bangga atas pilihan hidupnya. "Apapun yang terjadi padaku, aku ada karena sepakbola. Aku menghargai nilai-nilai sosial dan kelompok. Dan� ini akan menjadi aset yang besar bagi St. Pauli."



Sumber gambar: ndr.de

Sumber cerita: insunandshadow.com

Komentar