Penyesalan Terbesar Seorang Pavel Nedved

Cerita

by Eki Nurdiansyah

Eki Nurdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Penyesalan Terbesar Seorang Pavel Nedved

Musim 2002/2003 akan menjadi musim yang tak terlupakan bagi seorang Pavel Nedved sepanjang karirnya bersama Juventus. Pasalnya ia berhasil membawa Si Nyonya Tua menjuarai Serie A untuk ke-27 kalinya. Prestasi yang tak kalah mengesankan lainnya, ia berhasil membawa Juventus mencapai partai final Liga Champions. Pencapaian tersebut membuat majalah France Football pada 2013 memberi penghargaan Ballon d’Or atau pesepakbola terbaik di Eropa. Ia mengalahkan pesaing lainnya seperti Thierry Henry dan Paolo Maldini.

Namun dibalik pencapaian itu ada rasa sesal yang terasa begitu sesak di dada Nedved. Sebuah goresan yang mencoreng catatan gemilangnya pada musim tersebut. Saat Del Piero dan rekan-rekannya berjibaku di atas lapangan, Nedved hanya terpaku dari balik kursi penonton. Ia mesti absen karena mendapat akumulasi kartu di babak semifinal. Ya, sebuah pelanggaran yang tidak perlu sebenarnya, karena toh tekelnya terhadap Steve McManaman tak berarti apa-apa bagi Juventus.

Tak ada yang menyangkal, bahwa penampilan Nedved di Liga Champions saat itu begitu gemilang. Ia berhasil mencetak 5 gol sepanjang kompetisi.Termasuk gol indahnya saat mengelabui beberapa pemain bertahan Barcelona di babak perempat final,serta satu cannon ball-nya ke gawang Casillas di babak semi final. Capaian tersebut seolah menegaskan ia tengah berada di puncak karirnya ketika itu.

“Saya sangat kecewa, karena tak bisa main di final. Saya sedih, bahkan serasa mau mati.” ungkap Nedved usai pertandingan menghadapi Madrid. Sambil berlinang air mata, Nedved menunjukan penyesalan yang begitu mendalam. Ia yang mati-matian membawa Juventus ke babak final, harus absen berlaga di partai puncak karena hal yang sebenarnya tak perlu.

Pelatih Juventus kala itu, Marcelo Lippi, turut menyesali absennya Nedved di partai final., “Kami akan mendedikasikan kemenangan di final untuk dia. Saya sedih, karena pemain yang paling berperan akhirnya harus absen di final,” ucap Lippi.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Nedved pun bergabung Bersama 63,125 penonton lain di tribun Stadion Old Trafford. Nedved hanya bisa berharap dan berdoa atas perjuangan rekan-rekannya untuk membawa trofi Champions ke kota Turin.

Namun perjuangan habis-habisan Juventus hingga 120 menit, harus dibayar menyakitkan ketika mereka gagal dalam babak adu penalti. Hanya tendangan Alessandro Birindelli dan Alessandro Del Piero yang berhasil menembus gawang Dida saat itu. Sementara di kubu AC Milan,  Serginho, Allesandro Nesta dan Andriy Shevchenko berhasil mengelabui Gianluiggi Buffon. Hal ini seolah menjadi pelengkap kesedihan bagi Nedved: absen di final dan harus menyaksikan Juventus kalah menyakitkan seperti itu.

Memang, kalaupun Nedved main tak akan ada yang bisa memastikan Juventus akan menang. Namun, setidaknya akan hadir secercah harapan karena Nedved begitu vital bagi Juventus hingga mereka mampu menembus partai final.

Kini, Nedved memiliki kesempatan untuk membayar penyesalan yang bersemayam lebih dari 12 tahun tersebut.Nedved saat ini duduk di jajaran petinggi Juventus. Ia memang gagal mempersembahkan trofi Liga Champions ketika menjadi seorang pemain, maka ia harus mampu mengembalikan kejayaan Juventus di Eropa ketika menjadi seorang direktur klub. Peluang tersebut kemungkinan bisa diwujudkan karena Juventus telah kembali ke habitatnya di Liga Champions.

Komentar