Trauma Istanbul di Kepala Ancelotti

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Trauma Istanbul di Kepala Ancelotti

Real Madrid dengan mudahnya mempecundangi Liverpool tiga gol ke gawang Liverpool tanpa balas pada lanjutan Liga Champions dini hari tadi (23/10). Menjadi mudah karena tiga gol yang diciptakan skuat asuhan Carlo Ancelotti ini dicetak pada 45 menit babak pertama.

Gol pertama Madrid dicetak oleh Cristiano Ronaldo datang pada menit ke-23. Kemudian penyerang asal Prancis, Karim Benzema, memperbesar keunggulan Los Galacticos lewat dua golnya yang dicetak pada menit ke-30 dan 41.

Para pemain Madrid tentunya berseri-seri saat wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya babak pertama. Mereka cukup percaya diri akan memenangkan laga ini. Terlebih permainan Liverpool saat itu tak begitu istimewa.

Namun perasaan bahagia yang dialami anak asuhnya itu tak dialami pelatih mereka, Ancelotti.  Ia memasuki ruang ganti pemain dengan perasaan campur aduk. Meski situasi tersebut menguntungkan timnya, pikiran Ancelotti sempat mengawang-awang pada momen beberapa tahun lalu.

Ya, Ancelotti sedikit trauma dengan situasi unggul 3-0 pada babak pertama melawan Liverpool. Karena sembilan tahun lalu, tepatnya pada 25 Mei 2005, dirinya mengalami situasi yang sama saat masih menangani AC Milan. Dan pada pertandingan yang berlangsung di Istanbul itu, tanpa diduga, Liverpool berhasil mengejar ketertinggalan dengan mencetak tiga gol pada babak dua.

“Sebenarnya saya telah melupakannya (momen 2005),“ ujar Ancelotti pada Sky Sport. “Namun saya mengatakan pada para pemain, dalam sepakbola, apapun masih bisa terjadi. Maka dari itu, saya meminta mereka untuk tetap fokus hingga pertandingan berakhir.”

Apa yang terjadi pada 2005 memang sangat menyakitkan bagi Ancelotti. Selain Liverpool berhasil menyamakan kedudukan, come back Liverpool itu pun membuatnya gagal mengantarkan Milan meraih gelar juara Liga Champions. Laga tersebut memang bertajuk final, di mana Milan akhirnya harus menerima kekalahan lewat babak adu penalti.

Karena itulah, ketika laga semalam memasuki babak kedua, Ancelotti lebih memilih bermain aman. Tak seperti babak pertama yang sangat bernafsu mengincar gol, Ancelotti menginstruksikan para pemainnya untuk mengontrol pertandingan hingga wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir.

“Pada babak pertama, kami bermain sangat fantastis. Namun pada babak kedua, kami hanya mengontrol pertandingan untuk mengamankan skor. Alasannya, karena siapa lawan yang kami hadapi. Dan mereka pun bermain sangat baik,” tambahnya.

Para pemain Madrid pun menuruti apa yang diinstruksikan pelatihnya tersebut. Mereka cenderung bermain lebih santai. Cristiano Ronaldo yang sebenarnya sedang mengejar torehan gol Raul Gonzales sebagai pencetak gol terbanyak Liga Champions, ditarik keluar pada menit ke-75. Penggantinya pun Sami Khedira, seorang pemain bertipe gelandang bertahan.

Hasilnya, skor 3-0 pun menjadi hasil akhir pertandingan yang berlangsung di kandang Liverpool, Anfield Stadium ini. Ancelotti tentunya senang karena pada akhirnya ia bisa mencuri tiga poin dari Liverpool. Meskipun dirinya sempat dihantui memori buruk Istanbul saat jeda babak pertama.

foto: wikipedia.org

Komentar