Tepukan Arbeloa dan "Jimat" This Is Anfield

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tepukan Arbeloa dan

Beberapa tahun lalu, Arvalo Arbeloa selalu melakukan ritual rutin. Sebelum bertanding, tepatnya di lorong sebelum pintu masuk lapangan Stadion Anfield, ia selalu menepuk sebuah tulisan yang dipasang di sana. Kata orang, tulisan itu memiliki daya magis. Motivasi akan berlipat ganda bagi penggawa Liverpool, sementara nyali lawan akan ciut karenanya.

Beberapa tahun berselang, Arbeloa kini kembali ke Anfield dengan seragam putih-putih milik juara sepuluh kali Liga Champions, Real Madrid. Di Madrid, Arbeloa bukanlah pilihan utama Ancelotti. Awalnya ia merasa kedatangannya ke Anfield adalah piknik belaka. Namun, Ancelotti punya rencana lain. Ia memasukkan Arbeloa sebagai starter dan memainkannya hingga 90 menit pertandingan berakhir.

Kenangan Arbeloa bersama Liverpool sebenarnya tidak semanis cerita cinta di novel-novel remaja. Malah, ia mengaku saat membela Liverpool adalah masa-masa terberat sepanjang pertandingan. Bukan karena ia tak menikmati dukungan hebat dari para suporter, tapi karena ia mengalami cedera di Liverpool.

“Menderita cedera adalah hal yang sulit, tapi yang momen paling sulit bagiku adalah kekalahan di final (Liga Champions) di Athena, bersama Liverpool,” kata Arbeloa dalam wawancara dengan Guardian jelang pertandingan.

Arbeloa menganggap meski Anfield memiliki kapasitas hanya 45 ribu, tapi ada atmosfer unik di dalamnya. Ia membayangkan bagaimana dukungan suporter saat menyanyikan “You’ll Never Walk Alone”, misalnya. Atau ketika para pemain melakukan lemparan ke dalam yang jaraknya begitu dekat dengan tribun penonton.

“Kembali ke Liverpool setelah lim tahun akan menjadi sangat spesial. Aku menghabiskan dua musim yang mengesankan di sana dan aku memeroleh kultur baru,” ujar Arbeloa

Arbeloa pun memiliki “misi” lain saat berkunjung ke Anfield tadi (23/10) dini hari. Ia ingin memeroleh kekuatan lebih dengan menepuk tanda “This is Anfield”.

“Aku biasa menyentuhnya sebelum pertandingan, dan aku akan melakukan hal yang sama Rabu nanti,” janji Arbeloa.

Pertandingan yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Entah karena apa, Ancelotti lebih memilih Arbeloa di fullback kanan ketimbang Carvajal yang memang biasa bermain di pos tersebut. Magis dari tepukan tersebut merasuki diri Arbeloa. Ia mencatatkan sembilan tekel atau yang terbanyak di pertandingan tersebut. Satu hal yang pasti, ia turut serta dalam menjaga keperawanan gawang Madrid pada malam itu.

Hingga wasit meniupkan tanda akhir permainan, Madrid tetap unggul 3-0 atas Liverpool. Jimat “This is Anfield” pun berarti benar bagi Arbeloa. Kini, ia tak sial lagi.

Baca juga: Prediksi Pembantaian Liverpool di Anfield dan Kesialan Arbeloa di Liga Champions dan Liverpool yang Penuh Cerita

Sumber gambar: Dailymail.co.uk

Komentar