Karena Karma Bisa Datang dalam Sekejap

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Tidak bisa berbahasa Finlandia.

Karena Karma Bisa Datang dalam Sekejap

Hidup memang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Anda bisa menjadi pahlawan di satu titik, dan selang beberapa detik anda bisa jadi pecundang dalam seketika. Inilah yang terjadi kepada pemain muda Perancis, Layvin Kurzawa.

Kurzawa bahkan tidak hanya menjadi pecundang. Ia layak disebut seorang pesakitan. Bahkan Raymond Domenech, eks pelatih kepala tim nasional Perancis, sampai tega menyebut Kurzawa sebagai orang bodoh yang tidak memiliki otak.

“Kurzawa adalah orang bodoh. Anda layak bertanya-tanya apakah ia memiliki otak atau tidak,” ujar Domenech seperti dikutip pada situs resmi FIFA.

Lantas apa yang bisa membuat  pemain muda ini mendapat cacian sedemikian kejam? Hal itu bermula saat leg pertama pertandingan play-off Piala Eropa U21 2015, Perancis menang dua gol tanpa balas. Kedua gol Les Bleues dicetak oleh Florian Thauvin dan Geoffrey Kondogbia.

Kenyataannya saat bertandang ke kota Halmstad, Perancis malah jadi bulan-bulanan. Swedia tampil garang. Dua gol penyerang muda Swedia, Isaac Thelin di menit ketiga dan ke-35 membuat agregat menjadi sama kuat. Swedia bahkan mampu mencetak gol tambahan pada menit ke-71 lewat Oscar Lewicki. Swedia unggul 3-2 secara agregat.

Satu gol saja sebenarnya cukup untuk menyelamatkan Perancis. Dan memang itulah yang mereka dapatkan. Di menit ke-87, Kurzawa mencetak gol ke gawang kawalan Patrik Carlgren. Walaupun agregat tetap sama kuat 3-3, Perancis memiliki keunggulan gol tandang.

Kurzawa lepas kontrol. Sembari merayakan keberhasilannya menyelamatkan Perancis, ia mengolok-olok lawan. Pemain yang berposisi sebagai bek kiri itu menaruh tangannya di kening saat berpapasan dengan bintang muda Swedia, John Guidetti yang kini bermain di Manchester City. Gesture yang Kurzawa lakukan ini meledek seolah  “kami lolos, dan kami tidak bisa melihat kalian!”

Tindakan sombong dan melecehkan lawan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Pelajaran pahit pun didapatkan oleh pemain berusia 21 tahun tersebut. Karma pun datang dalam sekejap.

Satu menit setelah gol Kurzawa, aksi Guidetti di dalam kotak penalti membuat Thelin memiliki peluang emas untuk mencetak gol tambahan. Benar saja, Thelin berhasil menyarangkan bola di gawang Alphonse Areola.

Hal pertama yang dilakukan oleh Guidetti selepas gol penentu kemenangan tercipta adalah menghampiri Kurzawa. Di hadapan pemain AS Monaco tersebut, ia mempraktekkan selebrasi yang sama. Para pemain lain pun mengikuti. Kini, bukan Kurzawa yang tidak bisa melihat Swedia. Semua pemain Swedia kini tak dapat melihat Perancis.



Keunggulan agregat 4-3 berhasil dipertahankan oleh Swedia hingga laga usai. Saat peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan oleh wasit Ivan Kruzliak, Swedia berpesta. Pelatih kepala Hakan Ericson diangkat tinggi dan dilemparkan ke udara.

Aksi pembalasan ternyata tidak berhenti seiring dengan berakhirnya laga. Para pemain Swedia kembali mengolok-olok Kurzawa saat berkumpul di ruang ganti. Mereka bergaya dengan pose selebrasi Kurzawa. Foto yang diambil kemudian diunggah ke dunia maya.

Sebagaimana kita tahu, apa yang sudah diunggah ke internet tidak akan pernah hilang dari peredaran. Kurzawa, karenanya, akan dihantui oleh kenangan pahit tentang selebrasinya sendiri seumur hidupnya.


Catatan tambahan: Swedia terus melaju dan kini berhasil menang adu penalti di final melawan Portugal,resmi menyandang gelar juara Euro U-21 2015. Sungguh epik sekali cerita ini . . .

Komentar