Raheem Sterling, Timnas U-19 Indonesia, dan Beban Para Pemain Muda

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Raheem Sterling, Timnas U-19 Indonesia, dan Beban Para Pemain Muda

Bermain sejak menit pertama, apalagi untuk sekelas pertandingan tim nasional, adalah impian setiap pesepakbola di dunia. Apalagi bagi seorang pemain muda, menjadi starter, tentunya akan menambah menit bermain baginya sehingga ia bisa memiliki jam terbang lebih banyak.

Namun hal itu tak berlaku bagi penyerang Liverpool, Raheem Sterling, kemarin (12/10). Dipanggil untuk membela tim nasional Inggris, pemain Liverpool ini menolak untuk bermain sejak awal.

Inggris menjalani matchday ke-3 babak kualifikasi PIala Eropa 2016. Melawan tim Eropa Utara, Estonia. Sejatinya Sterling dipersiapkan untuk masuk dalam starting line-up pada laga yang berlangsung di Tallin, kandang Estonia. Namun sehari sebelum menjelang pertandingan, Sterling menyatakan tak siap untuk menjalani laga itu.

“Lihat, saya terlihat cukup kelelahan. Dan saat ini saya tak sedang dalam permainan terbaik saya,” ujar Sterling pada manajer tim nasional Inggris, Roy Hodgson, mengutip dari harian London Evening Standard.

Akhirnya, Hodgson memainkan Adam Lallana, rekan setim Sterling di Liverpool, untuk mengisi pos yang ditinggalkan Sterling. Meskipun begitu, Sterling tetap bermain pada laga ini. Ia masuk pada menit ke-64, setelah 15 menit sebelumnya Estonia bermain dengan 10 pemain.

Hodgson sendiri memaklumi sikap Sterling ini. Menurutnya, musim ini memang menjadi musim yang berat bagi Sterling. “Saya memberikan kelonggaran bagi Sterling. Ia berhasil menembus skuat utama Liverpool musim lalu dan menjalani musim yang luar biasa. Ia pun kemudian bermain baik di level Piala Dunia. Dan ia dengan baik menjalani kehidupannya dengan reputasi barunya ini.”

“Namun pada akhirnya ia hanyalah pemain berusia 19 tahun. Ini tak sesederhana anda terus berlatih dan menghasilkan kaki-kaki anda menjadi hebat, sesuatu yang mengerikan bisa terjadi pada pikirannya,” lanjut Hodgson.

Ketika Sterling menyadari bahwa ia membutuhkan istirahat, di tempat lain, tepatnya di Myanmar, sekumpulan pemuda seusianya masih berjuang penuh dengan semangat untuk membela tanah airnya. Tak seperti Sterling, mereka masih dalam kepercayaan diri tinggi dan terus berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya.

Sekumpulan pemuda yang dimaksud tentulah Evan Dimas cs. Dan ya, mereka sebenarnya mengalami hal yang serupa dengan Sterling. Mereka mengalami kelelahan dan mendapatkan tekanan yang terlalu besar pada diri mereka.

Kelelahan, Sterling dengan ketatnya liga Inggris dan bermain di level Piala Dunia. Sedangkan para pemain timnas U-19, sepanjang tahun 2014, timnas U-19 menjalani lebih dari 30 pertandingan, seperti menjalani sebuah kompetisi liga.

Perbandingan yang cukup timpang memang, karena level Sterling dan timnas U-19 jelas bak bumi dan langit. Timnas U-19 pun hanya melawan tim-tim lokal dan beberapa pertandingan persahabatan internasional.

Namun keduanya sama-sama remaja yang sangat diharapkan bisa mengubah nasib timnya. Seperti Sterling yang diharapkan menjadi perantara timnas Inggris untuk berprestasi di kancah internasional, para pemain timnas U-19 pun diharapkan bisa memberikan sesuatu pada persepakbolaan Indonesia yang sedang kering kerontang akan prestasi.

Bedanya, Sterling menyadari bahwa dirinya kelelahan dan membutuhkan istirahat karena jadwal ketat, sedangkan para pemain timnas U-19 tidak (mengakuinya). Para pemain timnas U-19 melawan kelelahan mereka kala menjalani Tur Nusantara jilid I & II dengan harapan bisa meningkatkan kualitas mereka sehingga bisa memberikan prestasi bagi timnas Indonesia.

Rakyat Indonesia pun semakin mengharapkan sesuatu dari mereka. Dengan perjuangan dan usaha mereka itu, rakyat Indonesia mulai berekspektasi bahwa timnas U-19 bisa menghasilkan suatu kebanggaan. Tekanan pada mereka pun semakin membesar.

Tapi mengutip apa yang dikatakan Hodgson, pada akhirnya seorang pemain berusia 19 tahun akan mengalami masalah mengerikan dalam pikirannya. Dan bisa jadi masalah mengerikan yang dimaksud Hodgson itu adalah ketidak mampuan si pemain muda tersebut menyikapi tekanan besar pada dirinya.

Ekspektasi tinggi yang dibebankan pada pundak mereka pada akhirnya malah menjadikan pikiran mereka menjadi terganggu. Dan sudah barang tentu hal ini akan berpengaruh pada performa mereka di lapangan. Pada Piala Asia U-19 ini, beberapa pemain tak mampu menampilkan kemampuan terbaiknya.

EvanD
photo: @mcxoem

Tim nasional U-19 memiliki skema permainan cantik dengan umpan-umpan pendeknya. Namun dengan pikiran mereka yang terganggu (ditambah strategi yang tak berkembang), hasil positif pun tak mampu mereka raih. Tersingkir dari Piala Asia U-19 membuat perjuangan mereka selama ini menjadi sia-sia, setidaknya untuk saat ini.

Maka pada akhirnya kita hanya akan memaklumi bahwa mereka hanyalah pemuda biasa. Kita tentunya akan mengapresiasi usaha mereka (baik Sterling maupun para pemain Timnas U-19) yang telah memberikan kemampuan terbaiknya pada tim.

Kita pun hanya bisa berharap apa yang terjadi pada mereka saat ini akan menghasilkan sesuatu di masa yang akan datang. Berharap nantinya Sterling bisa terus diandalkan timnas Inggris, dan para pemain timnas U-19 saat ini bisa membanggakan rakyat Indonesia.

Komentar