Aroma Dendam Inzaghi versus Allegri di San Siro

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Aroma Dendam Inzaghi versus Allegri di San Siro

Juventus akan melawat ke kandang AC Milan pada giornata ke-3 Serie A nanti malam, ada aroma dendam diantara Massimilliano Allegri sebagai allenatore Juventus, dan Filippo Inzaghi sebagai allenatore Milan.

Dua pelatih ini nyatanya memiliki cerita negatif diantara keduanya. Keduanya memiliki masa kelam di mana mereka berusaha saling menjatuhkan satu sama lain. Seperti yang ditulis oleh James Horncastle di situs ESPN FC.

Perselisihan keduanya mencuat kala Allegri dan Inzaghi dipanggil manajemen klub Milan ke Via Turati, sebuah kantor yang berisi trofi-trofi Milan. Manajemen klub meminta keduanya mengklarifikasi atas apa yang terjadi diantara mereka berdua. Malam sebelumnya, keduanya dikabarkan terlibat perselisihan di Vismara, markas akademi muda Milan.

Pertemuan tersebut tak berlangsung lama. Beberapa sumber menuliskan bahwa keduanya hanya berjabat tangan seperti sepasang anak kecil yang memiliki perbedaan pendapat, lalu diharuskan saling memaafkan oleh orang tua mereka.

“Tak terjadi apa-apa,” ujar Allegri selepas keluar dari kantor tersebut. “Saya tak memiliki masalah dengan Pippo. Tak ada penyerangan atau kekerasan apapun seperti yang dituliskan dan diberitakan media.”

Berbeda dengan Allegri, Inzaghi yang kala itu berstatus sebagai pelatih primavera Milan sedikit mengakui adanya pergesekan di antara keduanya, walaupun secara tersirat. “Kami adalah Milan,” ujarnya. “Kami ingin yang terbaik untuk Milan. Namun kami justru memunculkan sesuatu yang seharusnya tak terjadi. Saya sangat menyesal.”

Bagi Inzaghi, menegakkan martabat dan kehormatan klub adalah segalanya. Maka ketika Milan terpuruk, ia berbicara pada skuat Milan seolah ia adalah pelatih Milan, mengesampingkan Allegri. Karena itulah perselisihan keduanya terjadi.

Hasil negatif yang diterima Milan membuat namanya dikaitkan dengan pemecatan. Saat itu Milan tengah menderita dua kekalahan dari tiga laga pembuka Serie A dan hanya mampu meraih hasil imbang kala menjamu Anderlecht di San Siro pada kompetisi Liga Champions.

Ya, Allegri merasa terancam. Allegri merasa Inzaghi ingin mencuri posisnya. Dan Allegri tahu bahwa Inzaghi memang dipersiapkan untuk menjadi pelatih Milan berikutnya. “Kamu menginginkan tempatku?” Tanya Allegri pada Inzaghi, seperti yang ditulis harian La Gazzetta dello Sport. “Tentu, aku akan mengambil alih posisimu dan melakukannya lebih baik,” jawab Inzaghi.

Percikan perselisihan Inzaghi dan Allegri tampaknya memang sudah ada sejak lama. Allegri adalah orang yang ‘meminggirkan’ Inzaghi pada musim 2010-2011. Keputusan Allegri yang tak memasukkan Inzaghi pada daftar skuat Milan untuk Liga Champions disinyalir menjadi sumbu dari permasalah ini.

Allegri melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, selain saat itu Inzaghi mengalami masalah serius dengan lututnya, Allegri pun mendapat mandat dari manajemen klub untuk melakukan regenerasi pada skuat Milan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen ingin lebih mengandalkan pemain muda sehingga bisa menekan pengeluaran dari gaji pemain.

Tapi Inzaghi tetap menyesalkan atas keputusan itu. Alasannya, ia ingin memiliki kesempatan untuk mencapai dan melewati rekor pencetak gol terbanyak di kompetisi Eropa  yang saat ini dipegang oleh Raul Gonzalez. Inzaghi saat ini memang berada di bawah Raul dengan torehan 70 gol, terpaut satu gol.

Inzaghi mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan Milan kala kontraknya akan berakhir pada akhir musim 2011-2012. Tawaran pun kemudian datang dari Parma, tim yang tak asing baginya karena ia pernah berseragam Parma pada musim 1995-1996.

Tapi di saat bersamaan, Milan menawarkan posisi pelatih primavera bagi Inzaghi, sebagai bentuk penghargaan atas jasanya selama berkarir di Milan. Inzaghi pun bimbang.

Ditengah kebimbangannya itu, Simone Inzaghi, adik Inzaghi, memberikan saran,“Saya tahu ia ingin terus bermain beberapa tahun lagi, dan mungkin pula ia mencetak 10 gol lagi. Tapi itu tak mengubah apapun.”

“Karena alasan itulah saya menyarankannya untuk menerima tawaran Milan (untuk menjadi pelatih primavera seperti yang dilakukan Simone bersama Lazio). Karena perasaan melatih pembinaan anak-anak itu sangat luar biasa,” lanjutnya.

Pippo pun mendengarkan saran adiknya tersebut. Ia pun akhirnya memilih pensiun pada akhir musim, lalu menjadi pelatih primavera Milan di musim berikutnya. Perjalanan Inzaghi sebagai pelatih pun dimulai.

Sempat melatih Milan U-16, Inzaghi kemudian berhasil mengantarkan Milan Primavera untuk meraih trofi Viareggio pertama mereka dalam satu dekade terakhir. Atas prestasi itulah Inzaghi dianggap telah siap dan layak untuk menukangi tim senior Milan, di mana ia kemudian menggantikan Clarence Seedorf yang menggantikan Allegri pada awal tahun 2013.

Atas kisah di atas lah laga Milan kontra Juventus yang akan berlangsung dini hari nanti (21/9) akan menyajikan aroma dendam tersendiri di antara Inzaghi dan Allegri. Ditambah lagi dengan status Juventus sebagai juara bertahan dan Milan sebagai pemuncak klasemen sementara Serie A. Tak terbayang bagaimana serunya laga yang akan tersaji di stadion San Siro ini.

foto: gazzetta.it

Komentar