Menilik Perjalanan Terbentuknya Regulasi Financial Fair Play

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menilik Perjalanan Terbentuknya Regulasi Financial Fair Play

Bermain di kompetisi sekelas Liga Champions atau pun Liga Europa merupakan prestise tersendiri bagi klub-klub Eropa. Selain bisa meningkatkan popularitas, hadiah yang diberikan UEFA untuk para kompetisi itu pun sangat menggiurkan.

Bermain di Liga Champions, UEFA telah menyiapkan total hadiah sebesar 900 juta euro. Sedangkan untuk Liga Europa, total hadiah sebesar 225 juta telah menanti. Karena pundi-pundi itulah banyak tim yang rela melakukan apa saja untuk bisa berlaga di salah satu kompetisi tersebut.

Klub-klub dengan dana melimpah menjadi gelap mata dengan mulai tak mempedulikan pengeluaran mereka untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan berprestasi di Liga Champions atau pun Liga Europa. Sekumpulan pemain mahal didatangkan untuk menjadi stimulus dengan harapan bisa berbuat banyak di kompetisi Eropa. Namun tak sedikit yang pada akhirnya hanya akan gigit jari karena prestasi tak kunjung menghampiri. Alih-alih mendapat keuntungan, setumpuk hutang malah menghantui.

Karena itulah aturan Financial Fair Play (FFP) diberlakukan oleh UEFA. Tujuannya jelas, untuk meminimalisir kerugian dalam bisnis sepakbola yang semakin tahun semakin meningkat. Pada tahun 2010, total kerugian klub-klub di liga top Eropa mencapai 1,6 miliar euro. Bahkan kabarnya total tersebut bisa meningkat hingga mencapai 8 miliar euro!

Jumlah tersebut didapatkan tim investigasi UEFA yang melakukan pendataan keuangan pada klub-klub di Eropa. 650 klub tercatat mengalami kerugian setiap tahunnya. Hal itu diungkapkan Direktur UEFA, Gianni Infantino.

“Sekitar sepertiga dari klub tersebut menghabiskan 70 persen atau lebih dari pendapatan mereka untuk menggaji pemain. Pendapatan di sepak bola Eropa sebenaranya tumbuh sebesar 10 persen pada tahun lalu, namun gaji pemain dan pelatih mengalami kenaikan sekitar 18 persen,” ujar Infantino saat drawing fase grup Liga Champions musim 2012-2013.

Peraturan Financial Fair Play (FFP) awalnya mewajibkan setiap tim maksimal mengalami kerugian sebesar 45 juta euro per dua musim, atau 22,5 juta euro per musim. Namun UEFA menilai jumlah tersebut masih terlalu tinggi sehingga pada akhir musim 2013-2014, maksimal kerugian mencapai 45 juta euro tersebut diberlakukan untuk tiga musim, atau 15 juta euro per musim.

Karena perubahan jumlah inilah Manchester City dan Paris Saint-Germain yang memiliki anggaran belanja tak terbatas terkena dampaknya. Menurut harian Guardian, Manchester City dilaporkan mengalami kerugian sebesar 122,3 juta euro pada akhir musim 2012-2013 dan 64,7 juta euro pada musim lalu, sedangkan PSG sekitar 130 juta euro pada musim lalu. Meski jumlah tersebut masih termasuk dengan pengeluaran untuk biaya pembangunan fasilitas dan hal-hal lain, ada indikasi sebagian besar pengeluarannya bermuara pada pembayaran gaji dan transfer pemain.

Ya, kerugian yang dimaksud dalam FFP adalah hasil pendapatan klub dikurangi pengeluaran yang berkaitan dengan transfer pemain dan total pembayaran gaji pemain per musim. Itu artinya, pengeluaran di luar biaya itu tak dihitung. Itulah kenapa klub-klub Bundesliga, seperti Schalke, Hannover, dan Bayern Munich yang berinvestasi besar pada akademinya tak terbentur dengan regulasi FFP. Pun begitu dengan pembangunan infrastruktur lainnya seperti pembangunan stadion dan hal-hal lain yang menyangkut dengan kebaikan untuk klub itu sendiri.

Bagi setiap klub yang melanggar regulasi FFP ini, UEFA telah menyiapkan beberapa hukuman bagi klub tersebut. Dimulai dari peringatan, denda, pengurangan poin, pemotongan hadiah jika berlaga di UEFA, larangan pendaftaran pemain baru untuk kompetisi UEFA, pembatasan jumlah pemain yang bisa didaftarkan, didiskualfikasi dari kompetisi UEFA yang sedang berlangsung, dan yang terberat adalah larangan untuk berkompetisi di kompetisi UEFA musim berikutnya.

Pemberian hukuman tersebut tergantung pada level pelanggaran FFP klub itu sendiri. Man City dan PSG yang sempat mendapat peringatan pada awal musim 2013-2014, akhirnya mendapatkan hukuman pemotongan hadiah dan pembatasan jumlah pemain pada musim ini.

Pada musim ini, FFP benar-benar akan mendisiplinkan klub-klub Eropa perihal finansial masing-masing klub. Aturan baru ditambahkan di mana hukuman akan menyambut klub yang tak membayar iuran pajak pemerintah yang disertakan dalam setiap transfer pemain.

Atas aturan ini, 23 klub terancam tak mendapatkan bonus partisipasi di kompetisi Eropa. Dari deretan lub yang terancam itu, terdapat Malaga, Sporting Lisbon, Fenerbahce dan Atletico Madrid. Namun ketuk palu belum dijatuhkan karena masih dalam penyeledikan UEFA.

Pemberlakuan FFP ini tampaknya mengarahkan sepakbola ke arah yang lebih baik. Karena dengan adanya FFP, setiap klub memiliki batasan dalam perekrutan pemain. Karena jika tim-tim kaya dibiarkan semena-mena menggunakan anggaran tak terbatasnya, tak menutup kemungkinan akan muncul ketimpangan kualitas satu klub dengan yan lainnya. Jika itu terjadi, maka kompetisi di Eropa atau domestik pun akan menjadi kurang kompetitif sehingga pertandingan sepakbola kurang seru untuk disaksikan.

foto: geobvb.hol.es

Komentar