Mungkinkah Semarak Futsal Menyerupai Sepakbola?

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mungkinkah Semarak Futsal Menyerupai Sepakbola?

Bagi masyarakat perkotaan, futsal adalah alternatif yang tepat untuk menyalurkan hobi bermain sepakbola. Selain mahal, mencari lapangan sepakbola di perkotaan pun semakin sulit. Lahan hijau semakin tergerus oleh pohon-pohon beton yang berdiri kokoh.

Futsal sempat booming sekitar sepuluh tahun lalu. Arena futsal pun menjamur di sudut-sudut kota. Futsal bukan lagi dianggap sebagai olahraga, tapi juga perekat hubungan antara teman sekolah, hingga rekan sejawat di kantor.

Faktor fisik turut menjadi alasan. Bermain di lapangan besar membutuhkan massa yang banyak. Ketahanan tubuh mesti dijaga agar kondisi tubuh tetap stabil setelah pertandingan. Salah-salah, pemain malah kelewat capek sebelum bisa mendapatkan bola.

Terkadang, ada pertandingan sepakbola yang selama sembilan puluh menit berlangsung menjemukan. Tidak jarang, penulis ketiduran di tengah pertandingan saking monotonnya permainan kedua tim.

Namun, futsal mengubah pemikiran tersebut. Lima lawan lima di atas lapangan sepanjang 40 meter dengan lebar 20 meter, memberikan pengalaman yang berbeda untuk menyaksikannya. Permainan berlangsung cepat dan bola berpindah seketika.

Pada Minggu (7/9) lalu, digelar pertandingan futsal antara Brasil menghadapi Argentina. Uniknya pertandingan tersebut tidak digelar di arena futsal, melainkan di Stadion Mane Garrincha, stadion yang juga menjadi salah satu venue Piala Dunia 2014, Brasil.

Uniknya, Sekitar 56 ribu penonton tumpah ruah di stadion tersebut. Situs Federasi Sepakbola Dunia, FIFA, menyebutnya sebagai pertandingan futsal dengan jumlah penonton terbanyak.



Di Eropa bagian timur, fans Dinamo Zagreb mendirikan sebuah tim futsal sebagai imbas konflik dengan pemilik klub Zdravko Mamic. Bad Blue Boys (nama ultras tersebut), seringkali terlibat konflik dengan klub itu sendiri.

Pada 18 Mei lalu, dalam pertandingan antara Dinamo Zagreb menghadapi Hadjuk Split, BBB diusir dari stadion karena menghina federasi sepakbola Kroasia, dan Zdravko Mamic.

Sepekan sebelumnya, sebanyak 60 anggota BBB ditahan polisi karena tidak bisa menunjukkan tiket ataupun mereka membeli tiket yang salah. Perlakuan represif dari polisi dan steward membuat sejumlah anggota BBB dilarang masuk ke stadion untuk seumur hidup.

Sabtu (6/9) lalu, mereka pun menggelar pertandingan futsal dengan disaksikan ribuan penonton!

Ultras

Jika fans Zagreb yang lain mulai berpindah haluan, bukan tidak mungkin tim futsal tersebut semakin membesar, bahkan menyaingi klub itu sendiri.

Lantas, mungkinkah futsal menjadi sebuah industri?

Seharusnya, menggelar liga futsal jauh lebih mudah ketimbang liga sepakbola. Arena futsal telah tersebar di mana-mana, biaya sewa rendah, tidak terkendala cuaca dan lapangan. Lalu, mengapa futsal masih belum dapat menyaingi industri, setidaknya, industri bulu tangkis atau bola voli di Indonesia?

Jangankan di Indonesia, futsal sebenarnya tidak terlalu seksi untuk menjadi sebuah komoditas. Cara paling mudah dengan melihat berapa banyak pertandingan futsal yang disiarkan oleh televisi di negeri ini. Padahal, biasanya futsal menghadirkan jumlah gol yang lebih banyak. Artinya, ada hiburan lebih bagi para penggemar saat menikmati pertandingan.

Jika digarap dengan serius, futsal bisa saja semakin populer di Indonesia. Apalagi, jika timnas futsal bisa menorehkan prestasi yang tentu saja tak hanya berhenti dikancah Asia saja.

Namun tanpa prestasi timnas pun futsal sebenarnya akan terus berkembang, hanya saja yang jadi soal adalah keterlibatan orang dengan futsal tak seperti keterkaitan orang dengan sepakbola. Futsal hanya dijadikan sebagai alat untuk berolahraga. Beda dengan sepakbola yang dimana ada keterkaitan berlebih yang menegaskan bahwa sepakbola tak hanya olahraga semata.

Sumber gambar: FIFA.com

Komentar