Hampden Park Menjadi Saksi Kisah Derby Tertua di Glasgow

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Hampden Park Menjadi Saksi Kisah Derby Tertua di Glasgow

Apa jadinya jika tim Anda bermain di kandang tetapi fans tim tamu jumlahnya lebih banyak? Itulah yang terjadi pada pertandingan derby saat Queen’s Park bertemu Rangers di Piala Liga Skotlandia akhir bulan lalu. Tepatnya 500 fans Queen’s Park menghadapi 30.000 fans Rangers... di kandang mereka sendiri!

Queen’s Park melawan Rangers? Bukan Queens Park Rangers alias QPR si tim Liga Premier itu, kan? Tentu bukan.

Queen’s Park adalah tim dari Glasgow yang sekarang bermain di divisi Scottish League Two, atau tiga tingkat di bawah Liga Premier Skotlandia, liga dimana tim raksasa Skotlandia, Glasgow Celtic, berada.

Sedangkan Rangers..Siapa yang sudah lupa dengan Rangers? Sejak dilikuidasi tahun 2012, tim rival abadi Celtic ini harus bermain dari divisi bawah kembali, yaitu Scottish League Two, untuk kemudian mengais nasib mereka sampai bisa kembali menjadi rival abadi Celtic dan berlaga di Liga Premier Skotlandia.

Selama dua musim terakhir ini, Celtic harus kesepian dan mendominasi liga selama Rangers tidak ada. Rangers kini bermain di divisi Championship. Jika semuanya berjalan lancar, musim depan kita bisa kembali melihat rivalitas Celtic dan Rangers di Liga Premier Skotlandia.

Tetapi siapa yang menyangka ada pertandingan derby yang lebih hebat di Glasgow daripada Old Firm Derby Celtic melawan Rangers? Derby tersebut adalah derby antara Queen’s Park menghadapi Rangers.

Stadion kandang Queen’s Park adalah stadion utama tim nasional Skotlandia juga, yaitu Hampden Park. Tidak heran, tim kecil ini memiliki stadion yang begitu besarnya (kapasitas 52.000 tempat duduk), tetapi rata-rata penonton mereka setiap pertandingan hanya seperseratusnya, atau sekitar 500 penonton.

Untuk tim sekelas Queen’s Park Football Club, kehidupan di Hampden Park adalah sebuah paradoks. Satu-satunya tim (yang bisa dibilang) amatir di salah satu dari delapan liga top di Britania Raya bisa-bisanya bermain di stadion bersejarah dan bahkan sempat menjadi stadion terbesar di dunia sampai tahun 1950.

Biasanya, hanya ada 600 bangku yang terisi oleh fans tuan rumah dan tim tamu pada pertandingan Scottish League Two. Namun, menghadapi Rangers, yang sebenarnya juga pernah mereka hadapi dua musim lalu di divisi terbawah, mengunjungi Hampden Park adalah pertandingan kandang yang tidak biasa bagi tim berjuluk The Spiders ini.

Kata kedua fans, derby ini adalah sebuah derby tertua di dunia. Well, sebenarnya pernyatan tersebut tidak sepenuhnya benar. Derby antara Notts County menghadapi Nottingham Forest adalah derby yang umurnya sembilan tahun lebih tua daripada derby Glasgow ini.

Ketika fans Queen’s Park bersiap-siap untuk pertandingan bersejarah ini, tidak jelas siapa penonton yang netral. Itu bisa dipahami karena menurut survei, Queen’s Park adalah “everybody’s secont team” di Glasgow. Jadi kita perlu curiga, jangan-jangan ada beberapa fans Celtic menyelinap menjadi fans Queen’s Park pada hari itu.

Namun, kenyataannya masih mencolok, fans Rangers yang datang jauh lebih banyak daripada fans Queen’s Park. “Kami memiliki banyak fans away yang datang dari setiap pertandingan, tetapi kali ini berbeda”, kata salah seorang fans Queen’s Park.

Pertandingan itu sendiri berakhir dengan kemenangan 2-1 bagi Rangers. Dua gol berhasil diciptakan oleh Kris Boyd untuk Rangers, sementara satu gol Queen’s Park dicetak oleh kapten mereka, Tony Quinn.

Meskipun demikian, pendapatan tiket dari pertandingan tersebut dilaporkan mencapai angka satu juta poundsterling. Uang ini akan digunakan sepenuhnya oleh Queen’s Park untuk membangun markas baru bagi mereka, agar mereka tidak menumpang terus-menerus ke stadion milik tim nasional Skotlandia ini.

Lagipula, Hampden Park memang terlalu besar untuk tim sekelas Queen’s Park.

Rangers yang sebenarnya tidak biasa bermain di divisi bawah sebelumnya, menganggap pertandingan ini adalah pertandingan yang penting. “Sudah lama mereka tidak bermain di Old Firm Derby (melawan Celtic), jadi mereka bisa menganggap ini adalah derby terbesar mereka juga musim ini,” canda salah seorang fans Queen’s Park lagi.

“Tetapi sejujurnya saya merasa tidak ada rivalitas di sini. Hidup di satu kota yang sama biasanya membuat salah satu tim ingin menyingkirkan tim lainnya, tetapi tidak ada rasa seperti itu di sini.”

Sejujurnya, fans Rangers tidak pernah sebanyak ini sebelumnya. Terakhir kali mereka berjumlah 30.000 adalah ketika mereka melaksanakan protes keras kepada Asosiasi Sepakbola Skotlandia (SFA) dua tahun lalu, saat mereka terancam harus bermain dari divisi terbawah lagi.

Ditambah lagi, stadion-stadion yang dimiliki oleh tim-tim Scottish League Two, Scottish League One, dan Scottish Championship, tidak ada yang sampai memiliki kapasitas 50.000 tempat duduk.

Manajer Queen’s Park, Gus MacPherson sampai-sampai mengatakan bahwa hari itu ia merasa timnya tidak sedang berada di kandang. “Hari ini tidak terasa seperti bermain di kandang. Normalnya, kamu bisa mendengar fans kamu sendiri di pertandingan kandang,” tutupnya.

Komentar