Menanti Taktik Allegri Bersama Si Nyonya Tua

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menanti Taktik Allegri Bersama Si Nyonya Tua

Banyak yang berpendapat bahwa Juventus tak akan terlalu superior pada musim ini. Mereka sepakat bahwa kepergian Antonio Conte, pelatih yang membangkitkan Juve dari keterpurukan calciopoli, akan berdampak besar pada performa Juve musim ini.

Beralasan memang, kesuksesan Juve dalam tiga tahun terakhir tak bisa dilepaskan dari jerih payah Conte dalam membentuk skuat dengan mental pemenang. Pelatih berusia 45 tahun ini berhasil memberikan tiga scudetto secara beruntun bagi Juventus.

Setelah Conte mengundurkan diri, manajemen Juve menunjuk Massimilliano Allegri sebagai pelatih Juventus untuk musim ini, sebuah keputusan yang cukup kontroversial. Pasalnya, bagi Juventini, Allegri identik dengan sosok ‘merda’ karena sebelumnya melatih tim rival, AC Milan. Belum lagi dengan kebiasaan Allegri yang gemar merekrut pemain medioker ketika di Milan. Cemoohan dan kritik pun terus mengalir pada manajemen Juve maupun Allegri.

Tapi sepertinya Juventini terlalu meremehkan Allegri, disamping segala kekurangan yang dimiliki Allegri, nyatanya Allegri cukup memiliki catatan bagus selama karir kepelatihannya.

Pada 2008, Allegri berhasil mempromosikan Sassuolo ke Serie A. Keberhasilannya itu membuatnya dilirik oleh tim papan tengah Italia, Cagliari, pada 2008-2009. Bersama Cagliari, Allegri dinobatkan sebagai ‘Panchina d’Oro’ atau pelatih terbaik Serie A, mengalahkan Jose Mourinho yang meraih scudetto bersama Inter Milan. Prestasi inilah yang kemudian mengantarkan Allegri ke San Siro.

Allegri menunjukkan kualitasnya dengan langsung mempersembahkan trofi juara Serie A di musim pertamanya, di mana sebelumnya Milan sempat tak menyentuh trofi tersebut selama tujuh musim. Tahun berikutnya pun tak mengecewakan, Milan berhasil finish di peringkat dua klasemen akhir.

Tak hanya di kancah domestik, Allegri pun terbilang pelatih sukses untuk ukuran pelatih yang menukangi klub Italia. Di tengah keterpurukan Serie A, AC Milan selalu berhasil dibawanya lolos ke babak 16 besar Liga Champions setiap musim. Padahal Milan secara berurutan harus kehilangan pemain bintang seperti Thiago Silva, Zlatan Ibrahimovic, Alessandro Nesta, Filippo Inzaghi, dan Gennaro Gattuso.

Catatan tersebut tentunya memberikan harapan tersendiri bagi Juve. Saat ditukangi Conte, Juve selalu kesulitan menampilkan permainan terbaiknya di kompetisi Eropa. Bahkan musim lalu Bianconeri harus terlempar ke Europa League karena harus mengakui keperkasaan Real Madrid dan Galatasaray.

Selain itu, dengan Allegri sebagai pelatih, skuat Juve pun diperkenalkan dengan beberapa formasi. Jika musim lalu Juve hanya mengandalkan 3-5-2, musim ini kita akan lebih sering melihat Juve menggunakan formasi 4-3-2-1, 4-3-1-2 bahkan 4-3-3.

Penggunaan pola empat bek mungkin cukup asing bagi lini pertahanan Juve yang masih mengandalkan Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini, serta Kwadwo Asamoah dan Stephan Lichtsteiner. Tapi dengan adanya pemain baru seperti Patrice Evra atau pun Romulo Souza untuk posisi sayap, tampaknya lini pertahanan Si Nyonya Tua tak akan terlalu kesulitan untuk bisa beradaptasi.

Pada laga pra-musim penggunaan pola empat bek beberapa kali diterapkan Allegri. Dan hasilnya cukup positif. Ketika melawan Australia All Star misalnya, saat menggunakan pola 3-5-2 pada bebak pertama, Juve terlihat kesulitan mengembangkan permainan sehingga harus tertinggal 1-0 pada pertama. Pada pertengahan babak kedua Allegri mengubahnya menjadi 4-3-1-2, Juve pun berbalik unggul menjadi 2-3.

Dan yang perlu menjadi catatan penting adalah, pada musim ini, Juve memiliki kedalaman skuat yang cukup menjanjikan. Kehadiran Evra membuat Asamoah memiliki pemain pengganti yang sepadan. Lalu Romulo dan Roberto Pereyra yang bisa bermain di berbagai posisi membuat Allegri tak perlu khawatir jika ada pemain utama yang mengalami cedera.

Selain itu lini depan pun tak ‘gendut’ seperti beberapa musim sebelumnya. Jika dalam tiga musim terakhir juve selalu memiliki lebih dari lima penyerang, musim ini Juve hanya mengandalkan Tevez, Llorente, Giovinco, dan Alvaro Morata.

Terdengar selintingan kabar bahwa Juve tertarik untuk mendatangkan satu penyerang baru. Namun pemain yang didatangkan pun sepertinya pemain yang cukup berkualitas. Karena santer diberitakan Juve sedang mendekati Radamel Falcao dan Javier Chicharito. Jadi, meskipun ada penambahan pemain baru di lini depan, kualitasnya cukup menakutkan, tak seperti beberapa musim sebelumnya yang menampung banyak penyerang ‘kelas dua’.

Oleh karena itu, Juventus pada musim ini masih memiliki asa untuk bisa kembali berprestasi. Tapi dengan catatan-catatan di atas, bukan hal yang mustahil untuk Allegri membungkam semua pengkritiknya.

Laga melawan Chievo  malam nanti (30/8) menjadi ujian pertama bagi Allegri. Dengan beberapa pemain utama yang cedera, ia wajib meraih poin penuh pada laga pembuka Serie A ini. Karena hanya dengan kemenangan lah ia bisa meyakinkan kepada Juventini bahwa Massimilliano Allegri pun siap mengantarkan Juventus untuk meraih kejayaan.

Komentar