Kisah Diklat Salatiga dan Pendidikan Pemain Muda

Cerita

by redaksi

Kisah Diklat Salatiga dan Pendidikan Pemain Muda

Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas adalah salah dua alumni terbaik Diklat Salatiga. Legenda-legenda lainnya, seperti  Oyong Liza, Risdianto, Iswadi Idris, Sartono Anwar, sampai Anjas Asmara, juga merupakan jebolan Diklat Salatiga. Jika kita sekarang mengenal istilah "Diklat Sepakbola", hampir semuanya dimulai dari Diklat Salatiga ini.

Apa yang dikenal oleh pecinta sepakbola Indonesia sebagai Diklat Salatiga, kini namanya berganti jadi Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga, dimulai pada 1963. Awalnya, ini semacam pusat pelatihan atau training center untuk para pemain muda hasil kerjasama antara PSSI dengan Departemen Olahraga.

Ketika itu dikenal dengan nama TC Ngebul Salatiga. Ngebul merupakan nama sebuah tempat di Salatiga. Di era kolonial, Ngebul memiliki bandara. Ngebul di Salatiga dipilih sebagai tempat TC karena udaranya yang sejuk dan segar, juga agak sepi dan lumayan terpisah dari keramaian dan hiruk-pikuk kota besar seperti Jakarta atau Semarang.

TC Ngebul Salatiga kemudian berubah formatnya menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) Salatiga. Fase ini dimulai pada 1973 saat PSSI dipimpin oleh Kosasih Poerwanegara.

Dalam formatnya yang baru ini, sepakbola masih menjadi pusat kegiatan, tetapi aktivitas belajar para pemain muda juga menjadi perhatian. Mereka berlatih dan sekolah di tempat yang sama. Guru-guru disediakan agar para pemain muda ini tidak ketinggalan pelajaran sekolah. Itulah kenapa DIklat Salatiga saat itu melibatkan Departemen Pendidikan & Kebudayaan (P&K), bukan lagi Departemen Pemuda dan Olahraga.

Keberhasilan Diklat Salatiga ini mendorong Gubernur DKI Jakarta untuk mendirikan Diklat Ragunan yang diresmikan oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono pada 1976. Sejak itulah, alumni-alumni kedua diklat itu banyak mewarnai skuad tim nasional Indonesia dari berbagai kelompok usia.

Godokan dari kedua diklat inilah yang membuat Indonesia mampu menjadi salah satu kekuatan penting sepakbola yunior di Asia. Berkali-kali Indonesia berhasil lolos ke final dan bahkan menjadi juara Piala Pelajar Asia.

Kerjasama yang intens dan terbukti memberi hasil bagus antara PSSI dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) ini kemudian dikembangbiakkan pada awal 1990an saat PSSI dipimpin oleh Azwar Anas. Mulailah format diklat ini disebarkan ke berbagai penjuru Indonesia, seperti Medan, Padang, Bandung, Bontang, Malang, Makassar, Manado dan Jayapura.

PPLP Papua, misalnya. Tak lama begitu berdiri, mereka langsung menggebrak pentas sepakbola Indonesia. Dengan tulang punggung pemain didikan PPLP Papua (Chris Yarangga, Aples Tecuari, sampai Izaac Fatari), Papua secara sensasional menjuarai PON XIII. Di partai final, mereka mengalahkan tim Provinsi Aceh dengan skor telak 6-3 melalui permainan indah dan menyerang.

Kini Diklat Salatiga dan Ragunan masih eksis, juga berbagai PPLP dan PPLD. Berawal dari sepakbola, pusat-pusat pendidikan dan latihan itu kini juga mendidik atlet-atlet cabang olahraga yang lain.

Alas dasar prestasi sepakbola ada di pembinaan pemain muda. Dan para pemain muda ini adalah remaja-remaja yang masih punya kewajiban mengenyam pendidikan. Suatu skema pembinaan pemain muda yang memadu-padankan sepakbola dan pendidikan menjadi hal mutlak, karena itulah juga yang dilakukan negara-negara maju sepakbola.

(zenrs)

foto: ssbterbang.blogspot.com

Komentar