Sejarah Lebih Berpihak Kepada Liverpool

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Sejarah Lebih Berpihak Kepada Liverpool

Liverpool FC kepayahan saat berhadapan dengan tuan rumah AS Roma di leg kedua semifinal Liga Champions 2017/18. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadio Olimpico, Kamis (3/5) dini hari WIB, Liverpool takluk 2-4.

Walau kalah, Liverpool tetap melangkah ke final Liga Champions, berkat keunggulan agregat 7-6 (5-2, 2-4) atas Roma. Bagi The Reds, ini merupakan final kedelapan mereka—tercatat sebagai yang terbanyak bila dibandingkan dengan pencapaian kesebelasan-kesebelasan Inggris lainnya di Liga Champions. Di final, Liverpool sudah ditunggu Real Madrid yang menapak ke final setelah menyingkirkan Bayern Muenchen dengan agregat 4-3 (2-1, 2-2).

Pertandingan final akan berlangsung di NSC Olimpiyskiy Stadium, 27 Mei mendatang. Laga antara Liverpool melawan Madrid mungkin tak diprediksi sebelumnya. Mengingat kiprah kedua kesebelasan yang tak terlalu meyakinkan di awal kompetisi.

Liverpool bukanlah tim unggulan—mereka bahkan harus melawati dulu fase kualifikasi sebelum memastikan diri tampil putaran final. Performa Liverpool di fase grup juga tidak terlalu bagus. Tergabung di Grup E bersama Sevilla, Spartak Moskwa, dan Maribor, Liverpool yang tidak terkalahkan sepanjang fase grup cukup kesulitan untuk lolos ke fase gugur.

Penentuan lolos-tidaknya Liverpool ke 16 besar, bahkan ditentukan sampai pertandingan terakhir Grup E. Juergen Klopp selau manajer Liverpool pun mengaku kaget dengan pencapaian anak asuhnya di Liga Champions musim ini.

Menurut Kloop, Liverpool mencatatkan perjalanan fantastis, karena keberhasilan melewati setiap fase di Liga Champions dengan apik, membuat Liverpool berhasil mengubah status dari tim kuda hitam menjadi kandidat juara di Liga Champions musim ini.

“Kami datang sebagai kualifikasi dan sekarang di final. Saya sangat senang untuk anak-anak, klub dan para penggemar. Ini adalah perjalanan fantastis sejauh ini; sekarang kita pergi ke Kiev, yang kedengarannya gila tapi itu adalah kebenaran. Kami akan pergi ke Kiev,” katanya, dilansir dari The Guardian.

Tidak hanya Liverpool, kiprah Madrid di Liga Champions musim ini juga boleh dibilang tak terlalu bagus. Di fase grup, Los Blancos terseok. Mereka bahkan lolos ke 16 besar dengan status runner-up Grup B. Di babak 16 besar, Madrid mendapat tantangan dari Paris Saint-Germain (PSG), yang justru lebih diunggulkan menjadi juara Liga Champions musim ini. Tapi, Madrid membuat kejutan dengan menghajar PSG dan terus melaju hingga sampai ke babak final.

***

Meski Liverpool dan Madrid awalnya tidak terlalu diunggulkan bersua di partai final, tapi partai puncak Liga Champions musim ini akan menjadi duel klasik antara dua kesebelasan sarat prestasi dan sejarah di kancah sepakbola Eropa.

Madrid merupakan tim tersukses di Liga Champions dengan koleksi 12 gelar. Ini menjadi kesempatan bagi Los Blancos untuk meraih gelar ke-13 mereka. Bahkan, bila mampu mengalahkan Liverpool di final, Madrid akan mencatatkan rekor sebagai satu-satunya kesebelasan yang mampu menjadi kampiun Liga Champions dalam tiga musim beruntun.

Tak kalah dengan Madrid, Liverpool juga dalam upaya menyamai pencapaian Barcelona dan Bayern Muenchen dengan koleksi enam gelar juara. Andai bisa meraih gelar keenamnya, Liverpool pun akan menegaskan diri sebagai kesebelasan Inggris paling sukses di Liga Champions.

Menyoal pertandingan nanti, di atas kertas Madrid mungkin lebih diunggulkan Prediksi tersebut mengacu pada performa impresif Los Blancos di Liga Champions dalam beberapa musim terakhir, khususnya di partai final.

Sejak tahun 1998 hingga 2017, tercatat sudah enam kali Madrid menjejak partai final Liga Champions. Hebatnya, Los Blancos sukses menyapu bersih enam laga yang mereka capai itu; Juventus (1998 dan 2017), Valencia (2000), Bayer Leverkusen (2002), dan Atletico Madrid (2014 dan 2016)semua takluk dari Madrid di partai pamungkas.

Meski begitu, bukan berarti Liverpool tak punya peluang untuk meraih trofi keenam mereka di Liga Champions. Kans The Reds terbuka lebar, meski Madrid begitu digdaya. Setidaknya, mengacu pada sejarah pertemuan kedua kesebelasan di pentas Eropa, Liverpool unggul atas Madrid dengan tiga kemenangan dan dua kekalahan, dari total lima pertemuan keduanya.

Terlebih, salah satu kemenangan yang diraih Liverpool atas Madrid terjadi di final kompetisi tertinggi antarklub Eropa. Tepatnya di Piala Champions 1981. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Parc des Princes itu, Liverpool berhasil menumbangkan Madrid 1-0 melalui gol tunggal Alan Kennedy pada menit ke-82.

Merunut kiprah Madrid di final kompetisi antarklub Eropa, tumbang dari Liverpool di final Piala Champions 1981 merupakan satu-satunya kekalahan yang dialami Los Blancos dalam tujuh laga final yang mereka mainkan dalam 36 tahun terakhir (1981-2017). Artinya, Liverpool adalah satu-satunya kesebelasan yang mampu mengalahkan Madrid di final Piala/Liga Champions dalam tiga dekade terakhir.

“Pergi ke final benar-benar bagus tetapi menang bahkan lebih baik. Kami akan siap tetapi itu adalah Real Madrid. Anda tidak bisa lebih berpengalaman dalam kompetisi ini daripada Real Madrid. Saya pikir 80% dari tim mereka memainkan semua final ini. Mereka empat kali dalam lima tahun terakhir dan masih bersama. Mereka berpengalaman, kami tidak, tetapi kami akan benar-benar terbakar," tukas Kloop.

Komentar