Aksi Rasisme Didapatkan Mario Balotelli yang Sedang Merajut Impian dan Ambisi

Berita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Aksi Rasisme Didapatkan Mario Balotelli yang Sedang Merajut Impian dan Ambisi

Mario Balotelli yang menemukan ketajamannya kembali sempat mengungkapkan ingin kembali berkarir di Serie-A atau Liga Primer Inggris.

Keinginannya itu dibuktikan Balotelli dengan 13 gol dari 18 pertandingan Ligue 1 2017/2018 bersama OGC Nice. Catatan itu menunjukan bahwa ia sedang menikmati musim terbaiknya. Meskipun Balotelli merindukan bermain di Serie-A setelah sempat berkunjung ke Kota Milan pada Desember lalu.

Tapi kunjungannya itu justru membuatnya diisukan bakal hengkang ke Napoli atau Juventus pada bursa transfer Januari lalu. Sementara jika kembali ke Inggris, Balotelli ingin memperkuat Manchester City untuk kedua kalinya.

Ia mengaku mencintai pendukung dan kesebelasan berjuluk The Citizens tersebut. Bahkan ia rela kembali ke City tanpa biaya transfer. Kesebelasan manapun berpotensi mendapatkan Balotelli secara gratis karena kontraknya bersama Nice akan berakhir pada Juni 2018.

"Klub itu adalah tahun terbaik di dalam hidup saya, meskipun ada kesulitan tinggal di kota itu. Di dalam sepakbola, City begitu spektakuler. Saya senang mereka semakin kuat dengan Pep Guardiola dan berharap mereka memenangkan gelar," kata Balotelli seperti dikutip dari Daily Mail.

Ia mengaku sempat berdiskusi dengan agennya tentang pergerakan transfernya pada Januari lalu. Ketika ditanya, agennya itu dikatakan Balotelli masih belum memiliki rencana tentang transfer pada Januari lalu. Diskusinya itu dikatakannya karena ingin berada di skuat yang kuat dari suatu kesebelasan tertentu.

"Saya ingin bermain di Liga Champions dan memenangkan sesuatu. Tujuannya adalah untuk kembali ke klub besar. Memenangkan sesuatu yang penting lagi. Saya tentu saja belum memikirkan akhir karir saya. Saya masih 27 tahun, jadi saya masih bisa bermain enam atau tujuh tahun lagi di level atas," tutur Balotelli.

Di sisi lain keinginannya itu agar lebih mudah mencuri perhatian dipanggil ke Tim Nasional (timnas) Italia. Apalagi Balotelli kecewa karena mantan Pelatih Italia, Giampiero Ventura, seperti tidak melihat sesuatu yang baru dalam diri pemain berdarah Ghana tersebut.

"Dia (Giempiero Ventura) diharapkan untuk melihat sikap seorang pemimpin dalam diri saya dan kemudian saya tidak pernah mendengar kabar darinya lagi," imbuh Balotelli seperti dikutip dari ESPN FC.

Meskipun kembali berkarir ke Italia atau Inggris gagal pada Januari lalu, ia menegaskan untuk fokus menikmati karirnya di Nice dengan mencetak gol pada musim ini. "Ini tentu musim spesial, tapi saya yang pertama tahu setiap tahunnya harus seperti ini jika saya ingin bertahan di level tertinggi," ujar Balotelli.

Tapi ambisi Balotelli itu sedikit terganggu ketika menghadapi Dijon pada pertandingan Ligue 2017/2018 di Stadion Gaston-Gerard, Minggu (11/2). Balotelli diganjar kartu kuning pada menit 74 oleh kepemimpinan wasit Nicolas Rainville. Padahal Balotelli cuma melayangkan protes setelah mendapatkan aksi rasisme dari pendukung Dijon.

Balotelli pun tidak mencetak gol pada laga itu dan kesebelasannya harus kalah 3-2 dari tuan rumah Dijon. "Sementara itu, Mario Balotelli diberi kartu kuning, setelah merasa terganggu dengan tuduhan rasisme dari publik," tulis pernyataan akun resmi Nice melalui media sosial Twitter.

Ini bukan pertama kalinya Balotelli mendapatkan rasial di Liga Prancis. Pada Januari 2017, ia marah kepada pendukung Bastia yang membuat suara monyet selama pertandingan. Catatan aksi rasialisme yang didapatkan Balotelli selama Ligue 1, sepertinya akan membulatkan tekadnya untuk pergi dari Prancis.

Balotelli sendiri masih berusia 27 tahun dan sekarang sedang kembali menemukan ketajamannya. Masih ada waktu sekitar lima tahun lagi untuknya berkarir di kesebelasan besar. Kemudian membuktikan diri bahwa kemampuannya mencetak gol bisa lebih hebat dibandingkan aksi rasial yang sering didapatkannya.

Komentar