Empat Ajang Berbeda, Empat Kartu Merah Tidak Perlu untuk Indonesia

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Empat Ajang Berbeda, Empat Kartu Merah Tidak Perlu untuk Indonesia

Ketika seorang pemain mendapatkan kartu merah, banyak hal yang tercermin di dalamnya. Apalagi jika kartu merah tersebut didapatkan saat laga-laga genting macam semifinal, final, atau pertandingan menentukan lolos tidaknya sebuah tim dari fase grup. Sialnya, hal tersebut kerap terjadi kepada timnas Indonesia, dari berbagai tingkatan usia.

Dalam Laws of the Game, disebutkan bahwa hukuman kartu merah diberikan oleh wasit kepada pemain ketika tindakan pemain tersebut sudah kelewat batas untuk diganjar dengan kartu kuning. Kartu merah juga kerap didapatkan pemain ketika ia dua kali mendapatkan kartu kuning dalam satu pertandingan, berarti bahwa pemain tersebut melakukan kesalahan yang sama dua kali di dalam satu pertandingan.

Khusus untuk timnas Indonesia, kartu merah menjadi sebuah momok tersendiri. Gara-gara kartu merah ini, terkadang Indonesia harus gagal dalam sebuah ajang multinasional, semacam Piala AFF, SEA Games, ataupun Kualifikasi Piala Asia. Dalam ajang-ajang internasional yang diikuti Indonesia pada kurun akhir 2016 sampai 2017, kartu merah seolah menjadi satu dari alasan-alasan yang menyebabkan gagalnya Indonesia melaju jauh di ajang multinasional.

Berikut adalah kejadian-kejadian kartu merah yang terjadi sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam ajang internasional sejak akhir 2016 sampai 2017. Kartu merah yang, sebenarnya bisa dibilang tidak terlalu penting dan bisa dihindari jika para pemain Indonesia memiliki mental yang baik.

Abduh Lestaluhu, Piala AFF 2016

Kejadian kartu merah tidak penting pertama terjadi ketika Indonesia menghadapi Thailand dalam leg kedua partai final Piala AFF 2016. Ketika itu, pertandingan dilaksanakan di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, dengan total agregat 3-2. Bekal kemenangan 2-1 dalam leg pertama di Stadion Pakansari gagal mereka manfaatkan di leg kedua saat mereka kalah 2-0 dari tuan rumah.

Saat tertinggal 2-0 tersebut, Indonesia sebenarnya masih punya peluang jika mereka berhasil mencetak satu gol. Namun, alih-alih berjuang untuk mencetak gol, mental para pemain Indonesia malah turun. Puncaknya terjadi pada akhir pertandingan, saat Abduh Lestaluhu dengan sengaja menendang bola ke arah bench pemain Thailand. Tindakan tidak perlunya ini membuatnya diganjar kartu merah, melengkapi kekalahan Indonesia 2-0 dalam laga tersebut.

Asnawi Mangkualam, Kualifikasi Piala Asia U23

Kejadian kartu merah tidak perlu lainnya kembali dialami oleh pemain Indonesia dalam ajang kualifikasi Piala Asia U23 yang dihelat pada akhir Juli 2017 silam. Kala itu, dalam laga perdana melawan timnas U23 Malaysia, Asnawi Mangkualam mendapatkan kartu merah karena melanggar keras pemain Malaysia. Kartu merah yang sebenarnya tidak perlu didapatkan oleh Asnawi jika ia bisa bermain lebih tenang.

Menjadi berat bagi Indonesia, karena kartu merah ini didapatkan justru saat Indonesia sedang berusaha mengejar ketertinggalan 0-3 atas Malaysia. Hasilnya, selain kehilangan Asnawi, mereka harus kalah dengan skor 0-3 pada pertandingan tersebut. Kekalahan yang berdampak besar atas tidak lolosnya Indonesia ke ajang Piala Asia U23 yang dihelat di Tiongkok pada 2018 mendatang.

Hanif Sjahbandi, SEA Games 2017

Dalam ajang SEA Games 2017 grup B, timnas U22 Indonesia bersua dengan timnas U22 Vietnam dalam partai yang cukup menentukan lolos tidaknya kedua tim ke babak semifinal. Pentingnya pertandingan ini membuat laga berjalan dengan tensi yang cukup panas. Permainan keras menjurus kasar Vietnam membuat beberapa pemain Indonesia sedikit terprovokasi, salah satunya adalah Hanif Sjahbandi.

Pada sebuah kejadian di babak kedua, Hanif sedang berduel dengan salah satu pemain timnas U22 Vietnam. Pemain tersebut sedikit memprovokasi Hanif dengan menjahili pemain yang membela Arema FC tersebut. Sedikit terpancing, Hanif membalas tindakan jahil pemain Vietnam tersebut. Namun, justru ia yang terkena kartu kuning. Kartu kuning itu menjadi kartu kuning kedua baginya pada laga tersebut dan ia pun mendapatkan kartu merah. Kartu merah tidak perlu jika Hanif mampu menahan emosinya.

Kartu merah Hanif ini melengkapi banyaknya hukuman akumulasi kartu yang didapat pemain Indonesia dalam ajang SEA Games 2017. Kartu-kartu yang, sebenarnya tidak perlu didapat jika pemain timnas U22 mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.

Saddil Ramdani, Piala AFF U18

Belum usai kekecewaan saat ajang SEA Games, kartu merah kembali menjadi satu alasan di balik gagalnya timnas Indonesia meraih gelar dalam ajang multinasional. Saddil Ramdani, salah satu pemain timnas U19 Indonesia yang juga bagian dari timnas U22 dalam ajang SEA Games, mendapatkan kartu merah dalam laga semifinal melawan Thailand. Kartu merah yang sebenarnya bisa ia hindari jika ia bisa menahan emosinya.

Kartu merah ini ia dapat tidak lama setelah ia dimasukkan pada masa injury time babak pertama. Saat itu Saddil dilanggar oleh salah seorang pemain Thailand. Pelanggaran sebenarnya diberikan kepada Indonesia, namun reaksi dari Saddil membuatnya mendapatkan kartu merah dari wasit. Sikutannya kepada pemain Thailand adalah penyebab dari hal tersebut.

Akibat kartu merah Saddil ini, Indonesia kesulitan dalam membongkar pertahanan Thailand, sehingga pada akhirnya "Garuda Nusantara" kalah dari Thailand lewat babak adu penalti. Indonesia kembali gagal meraih gelar.

***

Jika sebuah kesalahan terjadi satu kali, itu adalah hal yang wajar dan bisa dimaklumi. Namun ketika kesalahan itu terjadi berulang-ulang, pertanyaan pun patut untuk diajukan: apakah mereka belajar dari kesalahan mereka yang lalu? Manusia memang tempatnya salah. itu adalah hal yang wajar. Tapi, apa salahnya belajar dari kesalahan agar ke depan bisa jadi lebih baik lagi?

Timnas Indonesia bisa berprestasi di masa depan. Mereka bisa meraih juara dalam turnamen dan gelar apapun. Tapi jika masih melakukan kesalahan hal yang sama, maka bukan tidak mungkin juara akan menjauh. Belajar dari kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu, adalah jalan awal agar gelar juara bisa mendekat.

Baca juga: Dari Mana Datangnya Emosi Para Pesepakbola (Indonesia)?

Komentar