Mereka yang Pindah Kesebelasan dengan Alasan Berbeda-Beda

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mereka yang Pindah Kesebelasan dengan Alasan Berbeda-Beda

Kepindahan seorang pemain dari satu klub ke klub yang lain, tentu memiliki motivasinya masing-masing. Itu pula yang terjadi kepada Kylian Mbappe, Emre Mor, serta Naby Keita yang memutuskan untuk berpindah klub.

Per bursa transfer musim panas 2017 ini, sudah banyak transfer dan proses perpindahan pemain yang terjadi di Eropa. Beberapa di antaranya melibatkan pemain-pemain dengan harga yang mahal, seperti Neymar maupun Ousmane Dembele. Beberapa di antaranya juga melibatkan pemain-pemain muda dengan prospek yang cukup menjanjikan.

Dari sekian transfer yang sudah terjadi di Eropa, ada tiga transfer yang melibatkan tiga pemain muda yang memiliki masa depan cukup baik, jika mereka diasuh dengan baik. Kylian Mbappe, Emre Mor, serta Naby Keita sudah menentukan masing-masing klub apa yang akan mereka bela di masa depan. Alasan-alasan tersendiri pun diutarakan oleh ketiga pemain tersebut, menyoal kepindahan mereka dari klub lama mereka.

Pulang kampung sekaligus merasakan suasana yang kompetitif

Masa-masa indah sudah dilewati Kylian Mbappe di AS Monaco. Ia berkembang sedemikian rupa dan menjadi bagian dari skuat AS Monaco yang berhasil menembus babak semifinal Liga Champions musim 2016/2017, serta mengakhiri dominasi Paris-Saint Germain di Ligue 1 pada musim yang sama.

Namun memasuki musim 2017/2018 ini, atas prestasinya pada musim 2016/2017, beberapa nama kesebelasan lain pun bermunculan dan mengganggu Kylian Mbappe, salah satunya adalah Real Madrid yang diberitakan gencar ingin merekrutnya. Hal ini pun ternyata sedikit mengganggu Mbappe, yang sebenarnya tidak ingin pindah dari Monaco cepat-cepat.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, ia akhirnya memilih PSG sebagai labuhan barunya untuk masa depan. Ia diberitakan sudah lolos tes medis dan akan mulai menjadi bagian dari skuat Les Parisiens untuk musim 2017/2018. Jean-Claude Lafargue, direktur akademi di INF Clarefontaine, tempat Mbappe pernah menimba ilmu sepakbola, menyebut bahwa langkah ini adalah langkah yang tepat untuk perkembangan kariernya. Pindah ke Paris, bagi Mbappe, juga tak ubahnya seperti pulang kampung.

"Ia akan memenangkannya (gelar Liga Champions) dengan pindah ke PSG. Selain itu, suasana di sana lebih kompetitif, baik untuk perkembangannya. Ia akan mudah beradaptasi di sana karena ada juga beberapa pemain yang ia kenal di Tim Nasional yang juga bermain di PSG. Ia akan tumbuh menjadi pemain besar," ujar Lafargue seperti disitat The Guardian.

Meski pada akhirnya ia baru bisa berstatus sebagai pemain PSG permanen pada musim 2018/2019, Mbappe akhirnya bisa pindah ke kesebelasan yang jauh lebih kompetitif. Namun lebih jauh, kepindahannya ke PSG ini lebih seperti sebuah proses pulang kampung, karena bagaimanapun ia besar dan lahir di Paris.

Jam terbang yang lebih banyak

Sedikit berbeda dengan Mbappe, Emre Mor punya tujuannya sendiri. Mor sudah meresmikan kepindahannya ke Celta Vigo, dan akan menjadi bagian dari skuat Celta Vigo pada musim 2017/2018.

Kepindahan Mor, yang baru satu musim berseragam Borussia Dortmund ini tentu sedikit menimbulkan tanda tanya. Namun dari apa yang terjadi pada musim 2016/2017 silam, Mor punya alasan logisnya tersendiri untuk pindah. Ia butuh jam terbang lebih banyak, apalagi di usianya yang sekarang baru menginjak 20 tahun. Hal ini pun dikonfirmasi di dalam situs resmi Dortmund oleh Michael Zorc, direkrur olahraga Die Borussen.

"Saya percaya di klub barunya kelak, Mor akan dapat jam terbang yang lebih banyak daripada yang ia dapatkan di sini. Saya dan juga jajaran manajemen menghormati keputusan Mor dan semoga ia sukses di masa depan," ujar Zorc.

Ambisi yang lebih besar

Hampir mirip dengan Mbappe, Keita pun pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke Liverpool. Saga yang sudah berlangsung sejak awal bursa transfer musim panas 2017 ini akhirnya rampung, dengan Keita yang akan menjadi bagian dari skuat The Reds pada musim 2018/2019 kelak.

Keita pun mengungkapkan rasa senangnya atas kepastian yang sudah ia dapat perihal masa depannya ini. Ia pun tak sabar menjadi bagian dari proyek besar Liverpool, yang secara tidak langsung menjadi ambisi pribadinya yang memang ingin membela klub yang lebih besar. Hal ini pun mengakhiri spekulasi Keita dan Liverpool yang sempat menemui jalan buntu.

"Saya senang bahwa sebuah kesepakatan telah tercapai yang akan memungkinkan saya bergabung dengan Liverpool Football Club musim panas mendatang. Tentunya saya sangat antusias ketika saya akan menjadi bagian dari sebuah proyek besar di Liverpool," ujar Keïta, dikutip dari situs resmi Liverpool.

"Setelah masa depan saya terpecahkan berarti saya sekarang saya bisa lebih fokus untuk membantu RB Leipzig mencapai hal-hal hebat musim ini. Sampai saya bergabung dengan kesebelasan baru saya, musim panas mendatang, saya akan bermain dengan maksimal untuk kesebelasan ini,” tambahnya.

***

Setiap orang memiliki alasannya masing-masing dalam kehidupannya, terutama dalam soal pengambilan keputusan yang cukup genting dalam hidup mereka. Pun dengan ketiga pemain muda di atas. Mereka punya alasan mereka masing-masing yang menjadi sebab mereka berpindah klub, terlepas dari apapun alasan di balik kepindahan mereka tersebut.

Sekarang, pilihan sudah mereka tetapkan. Satu hal yang harus mereka lakukan, adalah menikmati konsekuensi dari pilihan mereka tersebut. Apakah buruk atau baik pilihan mereka tersebut, itu akan segera mereka alami kelak setelah mereka memilih.

Komentar