Akibat Fatal Perayaan Gol yang Berlebihan

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Akibat Fatal Perayaan Gol yang Berlebihan

Kebahagiaan sesaat setelah mencetak gol lazim dirasakan oleh semua pesepakbola. Untuk meluapkan kegembiraan tersebut, umumnya mereka melakukan perayaan sebagai ekspresi kegembiraan yang meletup-letup, setelah menjadi aktor sentral dalam keberhasilan memenuhi tujuan utama dalam sepakbola.

Namun bagaimana jadinya, bila perayaan yang dilakukan oleh pesepakbola dalam mengekspresikan kebahagiaannya itu terlalu berlebihan, hingga membahayakan bagi pemain tersebut? Tentunya ini akan menjadi mimpi buruk, perayaan untuk kebahagiaan itu malah berujung penderitaan.

Hal tersebut yang agaknya dialami oleh winger Hamburg SV, Nikolai Mueller, sesaat setelah membawa klub yang dibelanya unggul atas FC Augsburg di pekan pertama Bundesliga yang berlangsung di Volksparkstadion, Hamburg, Sabtu (19/8).

Kejadian nahas yang dialami oleh pemain asal Jerman itu terjadi pada menit ketujuh, setelah berhasil mengonversi umpan Walace Souza Silva menjadi gol, Mueller berlari ke pinggir lapangan untuk meluapkan kegembiraannya itu.

Namun tidak hanya berlari, terlihat ia juga memutar tubuhnya sebanyak tiga kali sambil merentangkan tangan. Setelah berputar ia meloncat, namun saat mendarat lutut kaki kanannya menabrak tiang corner. Mueller seketika ambruk, ia langsung meringis memegangi lututnya itu. Rekan setimnya, menghampiri untuk ikut dalam perayaan.

Mereka tidak sadar kalau rekan setimnya itu mengalami masalah di lututnya. Namun setelah melihat Mueller meringis, sesegera mungkin para pemain Hamburg lainnya memanggil petugas medis untuk memeriksa kondisi pemain berusia 29 tahun itu. Setelah beberapa menit mendapat perawatan, Mueller terlihat terpincang-pincang.

Namun ia masih bisa melanjutkan pertandingan, meski hanya beberapa menit saya ia mampu bertahan sebelum akhirnya ditarik keluar untuk digantikan Aaron Hunt pada menit 15. Sampai tulisan ini diturunkan belum ada konfirmasi terkait seberapa parah cedera lutut yang dialami pemain bernomor punggung 27 itu.

Dari Kehilangan Jari Manis Hingga Nyawa

Dengan apa yang ia alami dalam pertandingan tersebut, setidaknya itu bisa dijadikan pelajaran bagi Mueller atau pemain lainnya untuk tidak terlalu berlebihan dalam melakukan perayaan gol. Namun setidaknya Mueller patut bersyukur juga, karena yang ia alami hanya cedera lutut.

Tidak sampai harus kehilangan manis seperti yang dialami oleh pemain dari Liga Swiss, Paulo Diogo. Kejadian tersebut terjadi pada Desember 2014, saat ia memperkuat Servete di Liga Swiss. Saat itu satu umpannya berhasil dikonversi gol oleh Jean Beausejour pada menit ke-87, sebagai gol ketiga timnya dalam kemenangan tandang 4-1 atas Schaffhausen di Liga Super Swiss.

Diogo yang pada saat itu baru saja menikah, tak sanggup menahan letupan kegembiraan atas gol tersebut. Saat Beausejour berlari ke sisi kiri lapangan, ia memilih berlari ke sisi berbeda. Diogo menghampiri para penggemar, dengan melompat ke atas pagar pembatas. Ia tidak menyadari kalau jari manisnya yang tersemat cincin pernikahannya itu tersangkut di ujung pagar. Akibatnya, sebagian ruas jari manisnya terputus karena tersangkut pagar.

Lukanya dianggap parah, sehingga diputuskan sebagian ruas jari manisnya itu harus diamputasi. Tidak hanya itu, setelah perayaan mengenaskan yang membuatnya kehilangan jari manisnya itu, Diogo pun mendapat kartu kuning dari wasit karena dianggap terlalu berlebihan dalam mengekspresikan kegembiraannya itu.

Kejadian yang lebih nahas akibat selebrasi berlebihan terjadi di India. Peter Biaksangzuala, harus meregang nyawa setelah perayaan gol yang diciptakan ke gawang Chanmari West dalam laga lautan divisi 1 Liga India. Pemain Bethlehem Vengthlang FC itu memilih untuk merayakan gol ia cetak itu dengan aksi akrobatik salto. Namun aksi tersebut gagal, Peter terjatuh dengan posisi kepala yang terlebih dulu mendarat ke tanah.

Peter pun mengalami luka serius yang membuatnya tak sadarkan diri di lapangan. Pemain berusia 23 tahun itu kemudian dilarikan ke rumah sakit karena perawatan darurat yang dilakukan tim medis di lapangan tak membuahkan hasil. Lima hari kemudian, Peter mengembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

Foto: Bundesliga

Komentar