Perlukah Liverpool Membeli Kiper Baru?

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Perlukah Liverpool Membeli Kiper Baru?

Setelah Loris Karius melakukan dua blunder fatal di partai final Liga Champions 2017/18, tak sedikit fans Liverpool yang mulai menyuarakan perekrutan kiper baru untuk musim depan. Pada laga yang berakhir dengan skor 3-1 untuk Real Madrid itu, tak sedikit memang yang mengambinghitamkan Karius.

Kiper Timnas Brasil yang bermain untuk AS Roma, Alisson Becker, jadi pemain yang paling dianggap cocok sebagai rekrutan Liverpool. Pada musim ini, Alisson berhasil mengantarkan Roma ke semi-final Liga Champions dan mengakhiri Serie A Italia di posisi ketiga. Dari total 49 penampilannya, ia mencatatkan 22 nirbobol dan kebobolan 47 kali.

Jika mengacu statistik, Alisson sebenarnya bukan kiper terbaik musim ini. Untuk urusan minim kebobolan dan nirbobol, kiper terbaik yang berlaga di liga top Eropa musim ini layak disematkan pada kiper Atletico Madrid, Jan Oblak. Saat persentase kebobolan Alisson mencapai 0,96 per laga, Oblak mencatatkan 0,57 kebobolan per laga. Untuk jumlah 20 pertandingan ke atas angka Oblak ini yang paling impresif.

Oblak bermain sebanyak 49 kali musim ini. Kebobolannya hanya 28 kali saja. Nirbobolnya lebih banyak, 29 kali. Persentase nirbobolnya mencapai 59,2% per pertandingan (Alisson 44,9%). Jika rata-rata kebobolan Alisson setiap 94 menit sekali, Oblak punya rata-rata kebobolan setiap 154 menit sekali.

Baca juga: Dari Tak Inginkan Jadi Tak Tergantikan

Di liga top Eropa, Oblak punya statistik nirbobol dan kebobolan terbaik. Alisson "hanya" menempati posisi kelima. Di antara Oblak dan Alisson terdapat Marc-Andre Ter Stegen (Barcelona), Pepe Reina (Napoli), dan David De Gea (Manchester United).

Ter Stegen yang bermain 48 kali pada musim ini berada di urutan kedua dengan jumlah nirbobol 24 kali dan kebobolan 39 kali. Disusul De Gea yang mencatatkan 22 nirbobol dan kebobolan 35 kali dari 46 kali berlaga. Reina juga mencatatkan 22 nirbobol bersama Napoli. Bahkan Reina bermain sebanyak 47 kali musim ini. Tapi bersamanya, Napoli kebobolan 43 gol.

Dari lima kiper dengan statistik terbaik itu, yang paling mudah direkrut sebenarnya Reina. Kontraknya bersama Napoli akan habis pada akhir Juni ini. Namun beberapa rumor menyebut jika kiper asal Spanyol tersebut telah menjalin kesepakatan dengan AC Milan.

Oblak, Ter Stegen, dan De Gea pun bisa dibilang berstatus untouchable yang artinya sangat sulit untuk diboyong. Butuh dana transfer yang luar biasa tinggi untuk memboyong salah satu di antara mereka bertiga. Yang bisa didapatkan lebih murah mungkin Ter Stegen karena Barca masih punya kiper timnas Belanda, Jasper Cillessen. Cillessen dari 11 kesempatan musim ini, 8 di antaranya nirbobol.

Sebenarnya Liverpool tidak perlu membeli kiper baru jika statistik dijadikan tolok ukur. Karius termasuk 15 kiper terbaik di liga top Eropa musim ini. Dari total 33 kali bermain, ia mencatatkan 16 nirbobol dan kebobolan 31 kali. Rata-rata kebobolannya tak jauh berbeda dengan Allison, 96 menit per kebobolan.

Karius punya torehan statistik yang sejajar dengan nama-nama besar. Selain lima nama yang sudah disebut di atas, Karius hanya kalah dari Ederson Moraes (Manchester City), Alphonse Areola (PSG), Gianluigi Buffon (Juventus), Samir Handanovic (Inter), Sven Ulreich (Bayern Muenchen), Vicente Guaita (Getafe), Ralf Fahrmann (Schalke 04), dan Norberto Neto (Valencia). Tiga nama terakhir bisa jadi opsi Liverpool.

Guaita menjadikan Getafe sebagai kesebelasan paling sedikit kebobolan ketiga di La Liga. Maka Guaita bisa disebut kiper terbaik ketiga setelah Oblak dan Ter Stegen. Dari total 34 laga, kebobolannya hanya 28 kali. Jumlah nirbobolnya 12 kali. Rataan kebobolannya lebih tinggi dari Reina, Alisson, Karius, dan Ulreich. Persoalannya, usia Guaita sudah mencapai 31 tahun sedangkan Liverpool lebih gencar ke perekrutan pemain muda.

Di La Liga, setelah Guaita, kiper terbaik berikutnya adalah Neto. Mantan penjaga gawang Juventus ini kebobolan 33 kali dari 33 kali bermain. Nirbobol 10 kali. Target yang cukup ideal tidak hanya untuk Liverpool, tapi juga untuk kesebelasan manapun yang ingin punya kiper baru. Usianya masih 28 tahun. Saat dibeli dari Juventus nilai transfernya hanya 9 juta euro sudah termasuk bonus.

Akan tetapi Fahrmann lebih realistis untuk didatangkan Liverpool. Usianya masih 29 tahun. Sama seperti Karius dan Klopp, ia berasal dari Jerman. Dari total 39 kali bermain pada musim lalu, ia kebobolan 39 kali. Nirbobol 16 kali. Schalke musim ini menempati posisi kedua di bawah Bayern. Jumlah kebobolan pun tersedikit kedua. Fahrmann bisa dikatakan kiper kedua terbaik Bundesliga setelah Ulreich. Karius sendiri saat didatangkan Liverpool berstatus kiper terbaik kedua Bundesliga di bawah kiper Bayern, Manuel Neuer.

Di Liga Primer, kiper yang punya catatan statistik serupa Neto dan Fahrmann adalah Hugo Lloris (Tottenham) dan Thibaut Courtois (Chelsea). Persoalan untuk merekrut Fahrmann adalah ia merupakan produk asli Schalke. Belum lagi Schalke yang musim depan kembali ke Liga Champions dan berupaya mengembalikan nama besar mereka. Sementara untuk Neto, ia baru bergabung Valencia musim ini.

Selain nama-nama di atas, ada juga beberapa nama lain yang patut dipertimbangkan Liverpool. Mereka adalah Wojciech Szczesny (Juventus), Jack Butland (Stoke City), Marcus Bettinelli (Fulham), dan John Ruddy (Wolverhampton Wanderers).

Szczesny musim ini hanya mendapatkan 21 kali kesempatan bermain. Tapi dari minimnya penampilan tersebut ia berhasil mencatatkan 14 nirbobol dan kebobolan hanya 10 kali. Ini artinya kiper asal Polandia tersebut punya rataan kebobolan dan persentase nirbobol lebih baik dari Oblak. Buffon memang akan meninggalkan Juve akhir musim ini. Tapi Juve pun dikabarkan tengah berusaha mendapatkan kiper Genoa, Mattia Perin. Peluang mendapatkan Szczesny cukup terbuka.

Butland yang berstatus kiper Timnas Inggris juga bisa jadi alternatif. Apalagi Stoke tidak lagi bermain di Liga Primer musim depan. Dibanding Nick Pope, Butland lebih realistis untuk direkrut.

Meski ia kebobolan 61 kali pada musim ini dan hanya mencatatkan 6 nirbobol, tapi Butland memiliki statistik menggiurkan: 145 penyelamatan (terbanyak di antara kiper Liga Primer lainnya) dari 201 tembakan yang mengarah kepadanya (terbanyak), dan dengan 28 di antaranya berhasil ia tangkap (terbanyak kedua setelah Lukasz Fabianski). Ia berhasil mencatatkan satu save setiap 21,7 menit (terbaik).

Melihat statistik di atas, Butland akan sangat berguna untuk taktik gegenpressing Klopp sehingga Liverpool bisa lebih kuat ketika diserang. Lagipula dalam bentuk terbaiknya, kiper berusia 25 tahun itu pernah mencatatkan 10 nirbobol dan 37 kebobolan dari 31 laga pada musim 2015/16.

Sementara itu Bettinelli dan Ruddy menjadi dua kiper yang berhasil mengantarkan timnya masing-masing promosi ke Liga Primer. Bettinelli dari 30 kali penampilan hanya kebobolan 21 kali dan mencatatkan 14 nirbobol. Sedangkan Ruddy dari 45 kali bermain berhasil meraih 24 kali nirbobol dan hanya kebobolan 36 kali. Walau begitu kualitasnya masih diragukan karena tidak bermain di top level pada musim lalu.

***

Melihat statistik-statistik di atas, sebenarnya Liverpool tidak perlu membeli kiper baru. Karius punya statistik impresif dan termasuk 15 kiper terbaik liga top Eropa musim ini. Lagipula ia sempat tak reguler bermain sebagai kiper inti Liverpool.

Jika pun ingin membeli kiper baru, Liverpool harus mendapatkan nama besar seperti Oblak atau Alisson. Nama-nama lain yang bisa dipertimbangkan untuk "menyisihkan" Karius sebagai kiper utama adalah Neto, Fahrmann, Szczesny, atau bahkan Butland. Di luar lima nama ini rasanya Liverpool tak perlu membeli kiper baru.

Liverpool bisa melangkah ke babak final Liga Champions tak lepas dari penampilan Karius. Ia jadi pemain Liverpool dengan menit bermain tertinggi di Liga Champions: 1170 menit. Karius memang pilihan utama Klopp di Liga Champions. Bersama Roberto Firmino, ia bermain di semua laga Liverpool di Liga Champions. Jadi bukankah langkah Liverpool ke final pun berkat adanya kontribusi besar Karius? Lalu, pantaskah Karius dihukum dengan tidak lagi jadi kiper utama karena blundernya di partai final?

Karius masih muda. Masih 24 tahun. Jika terus dipercaya dan mendapatkan jam terbang yang cukup, itu bisa meminimalisasi kesalahan-kesalahan elementer. Ia juga sudah terbiasa menghadapi ujian hidup dan siap kembali lebih kuat. Lagipula Liverpool masih punya kiper lainnya yang berstatus kiper Timnas Belgia dalam diri Simon Mignolet.

Kecuali Liverpool punya rencana menjual Mignolet, mereka perlu mencari pengganti sepadan yang bisa menantang Karius untuk menjadi kiper utama.

foto: Daily Star

Komentar