Milan Terus Melaju Bersama Gattuso Berkat Formasi 4-3-3

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Milan Terus Melaju Bersama Gattuso Berkat Formasi 4-3-3

Bola digulirkan dari Donnarumma pada Bonucci, Bonucci lantas mengirimkan umpan jauh pada Calhanoglu atau Suso yang berada di kotak penalti. Itu skema utama. Ada lagi skema lain. Ricardo Rodriguez dan Andrea Conti bisa menginisiasi serangan dari kedua sayap. Serangan balik? Tidak perlu khawatir. Kessie atau Biglia bisa meredamnya. Ah, Musacchio juga membuat Donnarumma tidak akan terlalu bekerja keras.

Sebelum musim 2017/18 dimulai, mungkin Vincenzo Montella bermonolog sambil memandang langit-langit kamarnya dengan kalimat-kalimat di atas. Ia membayangkan Milan asuhannya punya banyak skema untuk bisa berprestasi. Para pemain barunya itu bisa membuat Milan kembali ditakuti di Serie A dan Liga Europa. Kekuatan finansial presiden baru Milan, Yonghong Li, membuat angan-angannya itu lebih nyata.

Apa yang ada dalam benak Montella itu ia aplikasikan pada laga pertama Serie A melawan Crotone (pertandingan kualifikasi Liga Europa tidak dihitung karena skuat Milan belum komplet sepenuhnya). Dari 10 pemain baru, tujuh pemain diturunkan sejak menit pertama. Andrea Conti, Leonardo Bonucci, Mateo Musacchio, Ricardo Rodriguez pada posisi empat bek. Hakan Calhanoglu dan Franck Kessie menemani Manuel Locatelli di lini tengah. Fabio Borini melengkapi Patrick Cutrone dan Suso di lini depan. Lucas Biglia tidak dimainkan karena cedera pada pra-musim.

Milan menang telak 3-0. Tiga gol langsung dicetak sebelum menit ke-25 lewat Kessie, Cutrone, dan Suso. Tapi Montella belum puas karena saat itu tim lawan bermain dengan 10 pemain sejak menit ketiga.

Laga berikutnya melawan Cagliari menjadi ujian berikutnya Montella. Susunan pemain utama diperkuat dengan memasukkan nama senior, Ricardo Montolivo, dengan menggantikan Locatelli. Namun permainan Milan tak sesuai ekspektasinya karena Milan menang agak susah payah, 2-1, gol kemenangan pun lahir dari eksekusi tendangan bebas Suso.

Melawan Lazio pada pekan ke-3 Serie A menjadi angin pengubah nasib Montella. Sebelum laga tersebut, Conti cedera saat membela timnas Italia. Davide Calabria menghuni susunan pemain. Di saat bersamaan Biglia sudah pulih. Calhanoglu yang tergeser ke bangku cadangan. Pola tetap 4-3-3. Akan tetapi Milan kalah telak 1-4. Hasil itu menjadi awal dahi Montella lebih sering mengerut karena impiannya mulai sulit digapai.

***

Kebobolan empat gol dan hanya mencetak satu gol di laga melawan Lazio membuat Montella tak puas pada pemainnya. Cedera Conti pun menambah pikirannya saat itu. Karena Calabria tak bisa membuat sisi kanan Milan aman, akhirnya keputusan mengubah pola dasar diambil Montella. Milan kembali menggunakan 3-5-2, formasi yang digunakan Montella di Liga Europa. Beberapa pemain dibangku cadangkan.

Dalam bayangannya, lagi-lagi, skema 3-5-2 bisa meningkatkan penyerangan sambil menguatkan lini pertahanan. Alessio Romagnoli, salah satu talenta berbakat Italia saat ini, bisa menambah kekokohan lini pertahanan Milan bersama Bonucci dan Musacchio. Nikola Kalinic, yang datang terakhir sebagai pemain anyar ke-11 Milan musim ini, dicoba berduet dengan Suso, penyerang andalan Milan musim lalu. Milan mengalahkan Udinese 2-1 dengan pola anyar ini.

Montella pun percaya bahwa pola dasar 3-5-2 akan cocok untuk Milan. Terlebih Conti ternyata akan absen untuk waktu yang lama setelah divonis cedera ACL. Calabria yang kurang dipercaya dan Ignazio Abate yang tak andal bertahan pun melandasi skema tiga bek Milan ini. Kalinic-Silva-Cutrone juga jadi punya dua slot untuk diperebutkan.

Sempat menang 2-0 atas SPAL, skema 3-5-2 ternyata membuat Milan kalah dari Sampdoria. Kekalahan itu diteruskan dengan hasil negatif melawan Roma (kalah 0-2), Inter (kalah 3-2) dan imbang melawan Genoa. Menang melawan Chievo (1-4), Juventus tak mampu ditaklukkan Montella setelah kalah 0-2. Di situ Milan semakin merasa ada yang tidak beres dengan Montella sehingga kabar pemecatan Montella mulai mencuat.

Gonzalo Higuain saat mencetak gol ke gawang Milan (via: acmilaninfo.com)

Dari serangkaian hasil kurang memuaskan, Montella mengeluh jika para pemainnya terlalu bermain individual. Walau begitu, Montella memaklumi hal tersebut karena timnya diisi oleh 11 pemain baru. "Dalam sepakbola Italia, Anda terikat dengan banyak hal. Kami tidak punya kekuatan mental untuk melawan, karena semua ingin mengubah permainannya sendiri, tidak bekerja sebagai tim," kata Montella mengomentari kekalahan melawan Lazio.

Di samping keluhan Montella, tanpa disadari Montella masih berhalusinasi akan penampilan terbaik Milan dengan para pemain anyar yang ia rekomendasikan pada manajemen tim. Ini terbukti dari susunan pemain Milan yang berubah-ubah tapi beberapa pemain anyar dipaksakan untuk beradaptasi lebih cepat padahal tidak tampil maksimal. Kalinic, Musacchio dan Borini cukup sering dimainkan sejak menit pertama meski kurang berkontribusi. Belum lagi Calhanoglu yang kesulitan masuk dalam skema 3-5-2.

Puncaknya, Montella dipecat setelah Milan diimbangi Torino 0-0. Ketika itu, duet Kalinic dan Andre Silva tak berkutik. Yang paling disoroti oleh manajemen Milan, mungkin, adalah Montella tidak memainkan para "pemain baru"-nya, karena dari 11 pemain susunan pemain, hanya lima pemain baru yang dimainkan; Kalinic, Silva, Bonucci, Kessie, dan Rodriguez. Suso ditempatkan sebagai wing-back kanan. Calhanoglu baru masuk pada babak kedua.

Mungkin manajemen Milan merasa bahwa Montella menyia-nyiakan pemain baru pilihannya sendiri. Apalagi selain Conti, Milan tidak banyak kehilangan pemain karena cedera. Tapi mungkin bagi Montella banyaknya pemain baru lama-kelamaan menjadi beban baginya sendiri karena impian yang ia buat di awal musim.

***

Ketika Montella dipecat, ia menjalani 23 laga musim ini bersama Milan. Dari 23 laga tersebut hanya 13 kemenangan diraih Montella, 6 kalah, empat imbang. Catatan tersebut menjadi buruk karena di Serie A kemenangan yang diraih Milan hanya enam kali. Enam kekalahan Montella pun semuanya terjadi di Serie A. Untuk Serie A yang ketika itu sudah berjalan 14 pekan hasil tersebut jelas tidak memuaskan, terlebih Milan ditargetkan bisa kembali ke Liga Champions musim depan.

Montella lantas digantikan oleh legenda Milan, Gennaro Gattuso. Meski tanpa pengalaman melatih yang mentereng, Gattuso justru mampu mengangkat prestasi Milan. Saat artikel ini ditulis Milan menjalani 12 laga tanpa terkalahkan. Selain itu dari 18 laga yang sudah dipimpin Gattuso, Milan meraih 11 kemenangan dan hanya kalah tiga kali.

Perubahan yang paling terasa dilakukan oleh Gattuso untuk meningkatkan performa Milan adalah keberaniannya mengubah kembali strategi Milan ke formasi dasar 4-3-3. Ia gunakan formasi ini sejak pertandingan ketiganya melawan Bologna (Milan menang 2-1). Pertandingan perdana (Benevento) dan keduanya (Rijeka di Liga Europa) ia menggunakan formasi tiga bek untuk meneruskan jejak Montella, tapi laga berakhir 2-2 dan kalah 0-2.

Sempat kalah dua kali beruntun melawan Verona dan Atalanta, akhirnya Gattuso menemukan komposisi susunan pemain terbaik Milan sejak mengalahkan Inter di Coppa Italia. Pada laga tersebut ia melihat kokohnya duet pertahanan Milan yang diisi oleh Bonucci dan Romagnoli. Anggapan yang tidak sepenuhnya salah karena ternyata bersama Musacchio, Milan lebih sering kebobolan.

Musacchio akhirnya tak lagi dimainkan Gattuso setelah Milan dikalahkan Atalanta 0-2 pada 23 Desember silam (beberapa hari sebelum melawan Inter). Sejauh ini, bek asal Argentina tersebut bermain sebanyak 18 laga (sejak menit pertama) bersama Milan. Dari 18 laga tersebut Milan hanya mencatatkan 5 nirbobol, itu pun dua nirbobol tercipta pada dua laga penyisihan Liga Europa melawan CS Craiova. Selain itu, Musacchio juga tak menjamin lini belakang Milan aman di laga besar, karena ketika ia bermain, Milan dikalahkan Lazio, Roma, Inter, dan Napoli.

18 laga bersama Musacchio, Milan kebobolan sebanyak 23 kali. Sementara sejauh ini, 12 laga tanpa Musacchio, selain tak terkalahkan, Milan hanya kebobolan empat gol dengan mencatatkan delapan kali nirbobol. Milan pun belum lagi kebobolan lebih dari satu gol dalam satu laga sejak Musacchio dibangku cadangkan.

Walaupun begitu, tidaklah etis menyalahkan Musacchio seorang sebagai biang kerok hasil negatif Milan. Bagaimana pun, kekuatan pertahanan sebuah tim tetap dipengaruhi 11 pemain di lapangan. Maka dari itu sistem 4-3-3 yang terus digunakan Gattuso sampai saat ini menjadi faktor utama Milan punya lini belakang yang solid.

Selain itu, dengan 4-3-3 juga, beberapa pemain Milan tampil dengan potensi terbaiknya dengan pola 4-3-3 ini (ketika pola 3-5-2 membatasi potensi beberapa pemain Milan). Dimulai dari Calabria, Romagnoli, Cutrone, Suso hingga Calhanoglu. Sementara itu, para pemain anyar seperti Musacchio, Borini, Kalinic, dan juga Andre Silva, semakin mengakrabkan diri dengan bangku pemain pengganti.

Berbeda dengan Montella, Gattuso memang tak punya beban ketika ia merasa "pemain anyar" Milan harus dicadangkan, toh ia ditunjuk sebagai pengganti Montella dengan tujuan untuk menyelamatkan Milan yang terpuruk apapun caranya. Sedangkan di sisi lain, para "pemain anyar" yang dicadangkan pun tak akan menciptakan ketidakharmonisan di ruang ganti. Memangnya, mereka berani melawan Gattuso?

Baca juga: Tanpa Pirlo, Gattuso Bukan Siapa-siapa

Sumber foto: gazzetta.it

Komentar