Perubahan Skema Fiorentina Berikan Panggung Penghianatan Kepada Bernardeschi

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Perubahan Skema Fiorentina Berikan Panggung Penghianatan Kepada Bernardeschi

Juventus semakin memperbesar peluangnya untuk mengudeta Napoli dari puncak klasemen Serie-A 2017/2018. Hal itu karena Juventus berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya, Fiorentina, dengan skor 2-0 di Stadion Artemio Franchi, Sabtu (10/2) dini hari WIB.

Dua gol Juventus masing-masing dicetak Federico Bernardeschi pada menit 56 dan Gonzalo Higuain pada menit 86. Kemenangan itu membuat Juventus menyalip Napoli di puncak klasemen sementara dengan raihan 62 poin. Napoli yang mengoleksi 60 poin baru akan bertanding di Stadion San Paolo saat dini hari waktu Indonesia nanti, Minggu (11/2).

Formasi dan Susunan Pemain

Sebetulnya Fiorentina tampil hampir dengan kekuatan penuh pada laga ini. Hanya Vincent Laurini, bek sayap kanan, yang tidak bisa diturunkan karena cedera. Posisinya bisa digantikan oleh Nikola Milenkovic pada laga tersebut.

Di sisi lalin, Juventus datang ke kandang Fiorentina tanpa empat pemainnya, yaitu Blaise Matuidi, Benedikt Howedes, Juan Cuadrado dan Paulo Dybala. Absennya para pemain itu membuat Claudio Marchisio, Bernardeschi dan Mehdi Benatia diturunkan sejak awal pertandingan.

Perubahan Skema yang Menjadi Bumerang Fiorentina

Fiorentina memulai pertandingan dengan baik pada laga ini. Mereka menerapkan garis pertahanan tinggi dan tempo perebutan bola yang baik untuk meredam Juventus. Cara itu memaksa dua full-back Juventus bermain lebih rendah karena sebelumnya sering naik membantu serangan.

Tapi perebutan bola yang dilakukan Fiorentina di wilayah lawan cukup sabar. Mereka lebih sering membayangi pertahanan Juventus yang melakukan build-up serangan dari belakang. Tekanan agresif lini depan Fiorentina baru terjadi ketika kehilangan bola atau penguasaan Juventus masuk ke dalam wilayah pertahanannya.

Berbeda dengan Juventus yang sudah melancarkan tekanan agresif sejak bola sudah berada di wilayah Fiorentina. Tapi karena turunnya bek sayap, Juventus seperti kekalahan jumlah dalam menekan maupun membangun serangan. Alur serangan Juventus dari lini tengah juga sering kandas menghadapi agresifnya Fiorentina merebut bola di wilayahnya sendiri.

Turunnya bek sayap Juventus juga memberikan keleluasaan bagi bek sayap Fiorentina untuk membantu membangun serangan. Maka dari itu jumlah percobaan tembakan Fiorentina lebih banyak daripada Juventus pada babak pertama. Fiorentina melepaskan tiga percobaan (satu membentur tiang) dan Juventus cuma berhasil mendapatkan kesempatan satu kali.

Skema kedua kesebelasan baru berganti setelah turun minum. Fiorentina justru bermain lebih bertahan dan mengandalkan serangan balik. Pola seperti itu justru memberikan kesempatan bagi Juventus untuk menaikan kedua bek sayapnya, terutama Alex Sandro di sisi kiri. Pola serangan antara kedua kesebelasan pun menjadi lebih seimbang dibanding babak pertama.

Fiorentina yang menjadi lebih bertahan tapi tetap agresif dalam perebutan bola di wilayahnya sendiri ini membuahkan pelanggaran yang dieksekusi Bernardeschi dan menjadi gol pada menit 56. Fiorentina pun kembali menaikan garis pertahananya setelah tertinggal skor 1-0 tersebut.

Namun kembalinya pola serangan Fiorentina seperti awal laga itu juga menjadi bumerang bagi mereka. Garis pertahanan tinggi kesebelasan berjuluk Viola tersebut justru menjadi gol yang dicetak Higuain pada menit 86. Pertahanan Juventus yang cukup sabar meredam pertahanan garis tinggi Fiorentina berhasil mencuri bola melalui Giorgio Chiellini. Kemudian ia memberikan umpan terobosan yang melewati garis tinggi pertahanan Fiorentina dan disambut Higuain sehingga menjadi gol.

Panggung Penghianatan Federico Bernardeschi

Bernardeschi menjadi sorotan pertandingan ini. Ia mendapatkan cemoohan dari para pendukung Fiorentina sejak melakukan pemanasan di Stadion Artemio Franchi. Wajar karena Bernardeschi merupakan pemain asal Tuscany dan merupakan jebolan Fiorenetina bahkan sejak akademi yang diikutinya pada 2003.

Pindahnya Bernardeschi kepada musuh bebuyutan Fiorentina itu mengingatkan kepada transfer Roberto Baggio pada 1990 silam. Bedanya, Baggio kembali ke Stadion Artemio Franchi dengan menolak mengeksekusi penalti. Sementara Berardeschi berani mengeksekusi tendangan bebas yang berhasil membuat Marco Sportiello tak berkutik.

Satu lagi perbedaan besarnya adalah Bernardeschi melakukan perayaan gol setelah menjebol gawang mantan kesebelasannya yang telah membesarkan namanya tersebut. Padahal Bernardeschi tidak tampil terlalu baik pada laga kali ini. Lima percobaan giringan bolanya hanya berhasil dua kali.

Akurasi umpannya pun cuma mencapai 71 persen pada laga ini. Angka itu masih kalah dari sayap kanan Fiorentina, Federico Chiesa, yang mencapai 89 persen. Hanya golnya ke mantan kesebelasannya itulah yang menjadi pembeda Bernardeschi pada laga kali ini. Ia pun ditarik keluar digantikan Rodrigo Bentancur pada menit 78.

Bernardeschi masuk dan keluar dengan cemoohan para pendukung Fiorentina. Terasa jelas perasaan para pendukung Fiorentina saat itu ketika melihat mantan pujaannya justru memberikan goresan luka mendalam. Melalui gol dan perayaan tanpa beban Bernardeschi sudah cukup menjadikannya sebagai penghianatan besar bagi Fiorentina dan rakyat Tuscany.

Komentar