Conte Memang Tak Perlu Khawatir Dipecat Chelsea

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Conte Memang Tak Perlu Khawatir Dipecat Chelsea

Chelsea berada dalam performa negatif. Dua kekalahan beruntun dari kesebelasan berstatus medioker di Liga Primer Inggris menjadi indikasi keterpurukan Chelsea saat ini. Kekalahan pertama yang diderita Chelsea terjadi pada Kamis (1/2) di Stamford Bridge, saat menjamu AFC Bournemouth(0-3). Derita Chelsea berlanjut sepekan kemudian, tepatnya pada Selasa (6/2), saat kalah 1-4 dari tuan rumah Watford.

Dua kekalahan beruntun yang dialami Chelsea membuat peluang mempertahankan gelar juara Liga Primer musim ini hampir tertutup. Di tabel klasemen sementara Chelsea berada di posisi empat dengan selisih 19 poin dari Manchester City yang nyaman berada di puncak klasemen.

Tak hanya itu, Chelsea pun terancam terdepak dari persaingan di empat besar bila tak mampu memperbaiki performa. Saat ini, Chelsea memang hanya tertinggal satu poin dari Liverpool yang menempati posisi tiga. Namun, hanya unggul satu poin atas Tottenham Hotspur yang berada di posisi lima dan dari Arsenal yang hanya terpaut lima poin membuat Chelsea bisa turun peringkat kapan saja.

Bergulirnya tahun 2018 yang berarti memasuki pertengahan musim 2017/2018 tak berjalan baik untuk Chelsea. Dari 10 pertandingan di semua ajang, Chelsea hanya meraih tiga kemenangan, masing-masing atas Norwich City dan Newcastle United di Piala FA, serta Brighton & Hove Albion di Liga Primer. Sisanya dilalui dengan empat imbang dan tiga kekalahan.

Ada banyak faktor yang memengaruhi buruknya performa Chelsea di musim 2017/18. Salah satunya bisa jadi karena pembelian gagal di bursa transfer. Pada jendela musim panas 2017 lalu, Chelsea mendatangkan Davide Zapacosta (Torino), Antonio Ruediger (AS Roma), Danny Drinkwater (Leicester City), Alvaro Morata (Real Madrid), dan Tiemoue Bakayoko (AS Monaco).

Alvaro Morata. Sumber: Sky Sports

Dari empat nama anyar yang didatangkan Chelsea di jendela transfer musim panas, pembelian Morata menjadi sorotan. Morata, yang didatangkan dengan mahar 70 juta paun, ganas di awal musim namun melempem setelah mengalami serangkaian cedera. Penyerang asal Spanyol itu baru mencetak 12 gol dari 31 penampilan di semua ajang. Secara tidak langung, Morata dianggap gagal menjadi pengganti sepadan bagi Diego Costa yang dilepas ke Atletico Madrid.

Selain itu, Morata pun masih kesulitan beradaptasi dengan pola 3-4-3 yang diusung Conte bersama Chelsea. Upaya The Blues mencari alternatif menambah daya gedor pun ditempuh dengan mendatangkan Olivier Giroud dari Arsenal pada jendela transfer musim dingin 2018.

Selain Morata, peran Bakayoko yang sejatinya menjadi pengganti Nemanja Matic pun belum terlihat tajinya. Bahkan pada pertandingan terakhir Chelsea menghadapi Watford, Bakayoko mendapat kartu merah, yang kemudian membuat Chelsea kesulitan mengimbangi permainan cepat Watford hingga akhirnya kalah 1-4.

Conte sebelumnya pernah mengeluh terkait kebijakan para petinggi Chelsea di jendela transfer. Pelatih asal Italia itu menyebut bahwa kerap kali dirinya mendapatkan pemain baru yang tak sesuai dengan keinginannya.

"Saya tak memasang target tinggi dalam permintaan saya, terutama karena dalam sejarahnya saya jarang mendapatkan pemain yang saya inginkan. Saya selalu berada di klub yang sedang menjalani program penghematan," ujar Conte dilansir dari The Sun beberapa waktu lalu.

Conte tak perlu khawatir

Berkaca pada buruknya performa Chelsea musim ini, rumor berembus bahwa posisi Conte saat ini berada di ujung tanduk. Ancaman pemecatan menghantui Conte andai tak mampu memperbaiki performa The Blues. Apalagi, Chelsea dikenal sebagai kesebelasan yang tak pernah segan memecat pelatih meski pelatih tersebut belum lama ini mempersembahkan trofi (Conte musim lalu bawa Chelsea juara Liga Primer).

Beberapa nama seperti Roberto Di Matteo, Carlo Ancelotti, hingga Jose Mourinho pernah mengalami pemecatan tragis meski pada musim sebelumnya mampu membawa Chelsea juara. salah satu pandit sepakbola Inggris, Jamie Carragher, bahkan memprediksi Conte bisa terdepak sebelum pertandingan menghadapi West Bromwich Albion.

“Ada peluang bagus (melawan WBA), tapi dia bisa pergi sebelum itu. Bukan hanya karena bagaimana Chelsea bermain belakangan ini, tapi karena sejarah pergantian manajer di Chelsea ketika klub khawatir takkan lolos ke Liga Champions," kata mantan bek timnas Inggris itu, dilansir dari Sky Sports.

Namun bila memang pada akhirnya Conte mengalami pemecatan, ia seharusnya tidak perlu khawatir. Pemecatannya tidak akan mereduksi nama besarnya sebagai pelatih andal. Masih banyak kesebelasan yang tampaknya sudah mengantri untuk mendapatkan tanda tangannya. Selain karena kualitas yang tak perlu diragukan lagi, usianya yang masih muda pun menjadi salah satu alasan Conte tak perlu khawatir menganggur.

Sebelumnya, Conte mendapat tawaran untuk kembali menukangi timnas Italia setelah Gian Piero Ventura terdepak karena gagal meloloskan Italia ke Piala Dunia 2018. Wakil Komisioner Federasi Sepakbola Italia (FIGC), Alessandro Costacurta, secara terang-terangan menginginkan Conte kembali menukangi timnas Italia.

“Conte menjalankan pekerjaannya dengan baik di Piala Eropa. Dalam waktu dekat, dia bisa melatih timnas lagi. Kami tidak akan menunggu terlalu lama, namun kami harus mengambil langkah dengan benar," katanya, dilansir dari Football Italia, belum lama ini.

Belakangan, Conte menolak usulan kembali menukangi timnas Italia. Alasannya ia hanya ingin menukangi klub, bukan tim nasional. Bila memang itu yang menjadi keinginan Conte, kembali ke Italia mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Sebab, banyak kesebelasan Serie A Italia seperti Inter Milan, AC Milan, atau AS Roma yang performanya di kompetisi domestik tengah menurun. Mungkin bagi ketiga kesebelasan tersebut, mendatangkan Conte untuk menukangi timnya menjadi pilihan tepat. Apalagi Conte sudah mengenal betul kultur sepakbola Italia ditambah prestasinya yang pernah membawa Juventus meraih scudetto tiga kali berturut-turut.

Tapi, Conte tampaknya belum mau memikirkan masa depannya seperti apa. Bagi Conte, fokus utamanya saat ini bekerja semaksimal mungkin untuk memperbaiki performa timnya. Apalagi, Chelsea juga masih berpeluang meraih gelar juara di ajang Piala FA dan Liga Champions.

"Saya tidak khawatir dengan posisi saya saat ini. Saya bekerja setiap hari, dan saya memberikan 120 persen kemampuan saya. Saya sadar, klub bisa mengambil keputusan yang berbeda, tapi saya tidak khawatir. Saya mencoba untuk melanjutkan karier saya, saya mencoba terus bekerja, untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang ada,” katanya, dilansir dari ESPNFC.

Ya, jika pun ia dipecat, akan banyak kesebelasan yang siap menampungnya. Dipecat Chelsea memang tak membuat seseorang pelatih hebat jadi punya karier yang buruk. Contoh terbaru adalah Jose Mourinho yang kini menukangi Manchester United. Jadi, mungkin bagi Conte, silakan saja Ancelotti atau Guus Hiddink pemanasan untuk menggantikan posisinya. Karena Conte pun, dengan situasi sekarang ini, tampaknya tidak akan menyesali jika memang harus meninggalkan Chelsea.

Foto: Evening Standard

Komentar