Kegemaran Pochettino Merespons Pergantian Pemain Lawan

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kegemaran Pochettino Merespons Pergantian Pemain Lawan

Pertandingan antara Liverpool menghadapi Tottenham Hotspur berjalan semakin instens di 15 menit terakhir. Laga yang digelar Minggu (4/2) tersebut kemudian berakhir dengan skor imbang 2-2. Dari empat gol yang tercipta, tiga gol di antaranya terjadi di 15 menit terakhir (termasuk tambahan waktu).

Tottenham sebenarnya mendominasi laga ini. Penguasaan bola mereka di akhir laga mencapai 65%. Meski begitu, situasi ini tidak hanya membuat Liverpool tertekan. Spurs yang pada laga ini berstatus sebagai tamu pun tertekan karena harus mengejar ketertinggalan sementara lini pertahanan Liverpool begitu rapat dan sulit ditembus.

Tapi penguasaan bola tak mengartikan keseluruhan laga ini. Pada kenyataannya, babak pertama bisa dibilang milik Liverpool; meski kalah penguasaan bola mereka berhasil membuat lini belakang Spurs keteteran saat membangun serangan (dan akhirnya terjadi gol Mohamed Salah di menit ketiga). Sementara babak kedua sepenuhnya milik Spurs yang lambat laun menemukan celah di pertahanan Liverpool.

Liverpool, meski tertekan, berada di atas angin sebelum gol Harry Kane mengeksekusi tendangan penalti menjelang akhir laga. Tapi berkat respons taktikal Pochettino, Liverpool akhirnya gagal mengamankan tiga poin di laga ini. Pochettino sekali lagi membuktikan bahwa ia punya kemampuan membaca pertandingan dan reaksi yang jitu untuk mengubah jalannya pertandingan, hingga hasil akhir pertandingan.

***

Liverpool, sebagaimana biasanya, menekan lawan dengan garis pertahanan tinggi. Lawan dibuat tak leluasa membangun serangan. Hasilnya tak butuh waktu lama, Mohamed Salah sudah mencetak gol pada menit ke-2. Prosesnya tak lepas dari pressing para pemain Liverpool di lini pertahanan Spurs.

Pertandingan malam tadi memang berlangsung dalam tempo cepat. Dalam hitungan detik, bola dengan cepat bisa berpindah dari kotak penalti Spurs ke kotak penalti Liverpool. Begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi, sebenarnya serangan kedua kesebelasan mayoritas hanya sebatas mencapai kotak penalti, dalam kata lain pertahanan kedua kesebelasan kokoh. Pada babak pertama peluang yang tercipta tak banyak; Liverpool berhasil melepaskan enam tembakan, sementara Spurs hanya empat kali.

Pada babak kedua, Liverpool mulai kesulitan menyentuh kotak penalti Spurs. Karena itulah Juergen Klopp, manajer Liverpool, langsung memasukkan dua pemain pengganti pada menit ke-65. Alex Oxlade-Chamberlain dan Georginio Wijnaldum dimasukkan, menggantikan Sadio Mane dan Jordan Henderson.

Sebelum keduanya diganti, atau 20 menit babak kedua berjalan, tak satu pun tembakan berhasil dicetak Liverpool (sementara Spurs sudah empat kali). Keputusan itu langsung berdampak, Liverpool mencetak dua tembakan melalui Chamberlain dan Salah meski tak ada yang mengenai sasaran.

Pergantian Liverpool langsung direspons Pochettino. Erik Lamela masuk menggantikan Davinson Sanchez pada menit ke-71, enam menit setelah pergantian pemain Liverpool. Seorang bek tengah diganti gelandang serang. Perubahan posisi terjadi. Posisi Sanchez diisi oleh Eric Dier yang sebelumnya bermain sebagai gelandang bertahan. Pos Dier digantikan Christian Eriksen. Lamela bermain di antara kedua sayap, Dele Alli dan Son Heung-min.

Spurs meningkatkan daya serang dengan memasukkan Lamela. Melihat ini, Klopp pun bereaksi. James Milner ditarik keluar untuk digantikan Joel Matip. Gelandang digantikan bek. Liverpool mengubah formasi dasar 4-3-3 menjadi 5-3-2/5-2-3 setelah pergantian ini (Chamberlain kerap sejajar dengan Wijnaldum dan Emre Can). Skema serangan balik dilancarkan dengan mengarahkan bola pada Salah yang punya akselerasi mumpuni.

Pochettino kembali merespons tak lama setelah masuknya Matip. Victor Wanyama masuk menggantikan Mousa Dembele yang ditugaskan sebagai gelandang lebih defensif setelah pergantian Lamela. Wanyama diposisikan sebagai double pivot bersama Eriksen. Akan tetapi saat Spurs menguasai bola, ia tampaknya ditugaskan untuk lebih sering mengoper ke kedua sisi. Tidak hanya Wanyama, tapi untuk mencapai kotak penalti Liverpool, Spurs mulai lebih sering mengarahkan bola serangan ke kedua sisi pertahanan The Reds.

Hasilnya langsung terasa tak lama setelah Wanyama masuk. Bahkan gelandang asal Kenya ini yang mencetak gol penyama kedudukan lewat tendangan jarak jauhnya pada menit ke-80, satu menit setelah ia berada di lapangan. Serangan ini pun buah dari kejelian Wanyama mengirimkan umpan ke sisi kanan pertahanan Liverpool yang kemudian diteruskan dengan umpan silang tarik dari Eriksen. Umpan itulah yang diblok Loris Karius namun mengarah pada Wanyama.

Gol ini terjadi karena keunggulan pemain Spurs di lini tengah. Apalagi sebenarnya terdapat Chamberlain di sekitar Wanyama (karena saat bertahan para pemain depan Liverpool pun harus berada di depan kotak penalti pertahanan mereka). Bahkan bola sebenarnya mengarah pada Chamberlain sebelum diserobot oleh Wanyama. Tak heran beberapa pemain Liverpool tampak "menyalahkan" Chamberlain pada gol ini.

Gara-gara Chamberlain

Pada menit ke-84, Spurs mendapatkan peluang berbalik unggul melalui tendangan penalti. Penalti ini terjadi karena keberhasilan lini tengah Spurs unggul jumlah di depan kotak penalti Liverpool. Saat itu, Eriksen-Alli-Lamela-Son ada di antara Wijnaldum-Can. Umpan Alli diarahkan pada Lamela, yang dibiarkan menuju Kane. Kane menerima bola yang kemudian dilanggar Karius. Hanya kemudian tendangan penalti, yang kontroversi itu, gagal dieksekusi dengan baik oleh Kane.

4 pemain Spurs vs 2 pemain Liverpool sebelum terjadinya penalti untuk Spurs

Namun tidak selamanya respons taktikal Pochettino berjalan dengan baik. Kenyataannya, skema serangan balik lewat umpan direct yang diterapkan Klopp berhasil membuat Liverpool kembali unggul.

Trent Alexander-Arnold mengirimkan umpan jauh pada Salah. Bola lebih dekat pada kiper Spurs, Hugo Lloris. Lloris yang sebenarnya bisa menangkap bola tersebut lebih memilih membuang bola ke luar lapangan. Dari situasi lemparan ke dalam itulah Salah menyengat dengan mengobrak-abrik pertahanan Spurs sendirian. Ada kesalahan Wanyama juga pada situasi ini karena posisinya membuat Salah tidak dalam posisi offside.

Gol Salah yang membuat skor menjadi 2-1 terjadi pada menit pertama dari total empat menit tambahan waktu. Liverpool mendekati kemenangan. Dengan perayaan gol Liverpool, waktu yang tersisa hanya sekitar dua menit. Tapi Pochettino langsung bereaksi dan responsnya tersebut kembali berbuah positif.

Setelah gol kedua Salah terjadi, Pochettino langsung memasukkan Fernando Llorente, menarik keluar Son. Dalam satu momen, penyerang asal Spanyol tersebut langsung memberikan kontribusi yang menjadi awal penalti kedua untuk Spurs. Menerima lemparan ke dalam, Llorente berhasil menang duel udara dan mengarahkan bola mendekati gawang.

Saat itulah kemelut yang menyebabkan "pelanggaran" Virgil van Dijk pada Lamela terjadi. Kane tak gagal pada eksekusi keduanya ini. Skor berakhir 2-2.

***

Respons jitu lewat pergantian pemain yang dilakukan Pochettino ternyata bukan kali ini saja berhasil. Salah satu contohnya pada laga melawan West Ham United (4/1), Spurs menyamakan kedudukan berkat gol Son yang menerima umpan Lamela. Lamela ketika itu masuk pada menit ke-74, 10 menit setelah West Ham memasukkan Andre Ayew menggantikan Javier Hernandez.

Lebih jauh, Pochettino sendiri memang lebih gemar merespons pergantian pemain lawan ketimbang buru-buru mengganti pemainnya untuk mengubah keadaan. Dari 10 laga Liga Primer terakhir misalnya, hanya dua pertandingan pelatih asal Argentina tersebut melakukan pergantian lebih dulu dibanding lawannya. Itu pun dilakukan setelah Spurs menang 4-0 (vs Southampton dan vs Stoke City).

Indikasi Pochettino lebih sering memasukkan pemain pengganti belakangan terlihat dari rataan menit pemain yang digantikan. Berdasarkan football-lineups, Spurs punya rataan pergantian pemain pada menit ke-75. Hanya sekali Pochettino memasukkan pemain di bawah menit ke-65, yaitu ketika menarik keluar Jan Vertonghen pada menit ke-60 saat Spurs melawan West Bromwich Albion di pekan ke-13. Kesebelasan lain bisa mencapai 22 kali (Manchester City), 23 kali (Huddersfield dan WBA), 31 kali seperti Watford, atau Everton yang mencapai 38 kali (tanpa menghitung pemain yang diganti karena cedera).

Pada laga melawan Liverpool, pergantian pemain Spurs berhasil menjadi bagian dari proses terciptanya kedua gol yang diciptakan Spurs. Pertama Wanyama yang menyamakan kedudukan, kedua Llorente yang mengawali kemelut berbuah penalti. Belum lagi gerakan pasif Lamela saat penalti pertama untuk Spurs diberikan.

Baca juga: Liverpool 2-2 Tottenham, Kontroversi Wasit Hanya karena Masalah Sudut Pandang

foto: thesouthafrican.com

Komentar