Inter Milan Hampir Kalah Karena Kurang Agresif Eksploitasi Sayap Kanan AS Roma

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Inter Milan Hampir Kalah Karena Kurang Agresif Eksploitasi Sayap Kanan AS Roma

Meski sedang sama-sama membutuhkan kemenangan, tuan rumah Internazionale Milan yang melawan AS Roma harus puas berbagi poin di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (22/1).

Masing-masing mendapatkan satu poin karena pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Roma unggul terlebih dahulu melalui gol Stephan El Shaarawy pada menit 31`. Sementara Inter baru bisa membalasnya pada menit 86` melalui gol Matias Vecino.

Hasil yang didapatkan kedua kesebelasan ini membuat Inter turun satu peringkat ke posisi empat klasemen sementara Serie-A 2017/2018. Sementara Roma tetap tertahan di peringkat lima dengan raihan 40 poin. Jumlah itu tertinggal tiga angka dari Inter di atasnya.

Formasi dan Susunan Pemain

Inter tidak bisa diperkuat Danilo D`Ambrosio di posisi full-back kanan karena cedera pada laga ini. Joao Cancelo diplot untuk mengisi posisi yang ditinggalkan D`Ambrosio. Sementara Inter bermain dengan formasi 4-2-3-1 pada laga tersebut.

Nasib apes justru didapatkan Roma pada beberapa waktu sebelum pertandingan. Tiga pemainnya yaitu Daniele De Rossi, Diego Perotti dan Maxime Gonalons tidak bisa dimainkan karena kurang fit. Paling kentara adalah absennya De Rossi dan Gonalons sehingga Roma tidak memiliki gelandang bertahan murni pada formasi 4-3-3 yang diterapkan.

Alhasil Lorenzo Pellegrini dijadikan gelandang bertahan pada laga ini. Sementara absennya Perotti, membuat Gerson dimainkan sejak menit awal di posisi sayap kiri. Padahal peran itu bukanlah posisi asli Gerson. Di sisi lain, Roma pun masih memiliki Cengiz Under dan Gregoire Defrel yang merupakan pemain sayap murni di bangku cadangan.

Kecenderungan Serangan Sayap yang Berbeda

Kendati tertinggal terlebih dahulu, Inter sebetulnya bermain lebih seimbang daripada Roma. Aliran bola dan sayap, terutama di sebelah kanan berjalan cukup baik dan beberapa kali sering merepotkan pertahanan Roma. Buktinya, Inter memenangkan penguasaan bola 52 persen pada laga ini.

Serangan dari sisi kanan Inter lebih dominan atas sering naiknya Cancelo membantu serangan bersama Antonio Candreva. Dua pemain ini masuk ke sepertiga akhir pertahanan Roma memanfaatkan transisi bertahan yang tidak terlalu bagus dari Aleksandar Kolarov.

Pada laga kali ini, dua full-back Roma sering naik ke depan membantu serangan dari sayap. Hanya saja pasangan sayap Roma ini kurang klop terutama di sisi kiri antara Kolarov dengan Gerson. Sering terjadi kesalahan individual terutama dalam kombinasi bola sehingga lebih mudah didapatkan Inter.

Sisi kanan Roma sedikit berjalan lebih baik namun bertahannya Davide Santon, full-back kiri Inter, cukup membatasi pergerakan El Shaarawy maupun Alesandro Florenzi. Bertahannya Santon membuat lini tengah Inter menjadi penopang utama untuk memberikan suplai bola ke sisi kiri.

Ketika Inter menyerang dari sisi kanan dan kemudian di tengah, gelandangnya memberikan umpan-umpan terobosan kepada Perisic. Tapi ia tetap saja kesulitan mendapatkan ruang di area tersebut karena bertahannya Santon. Sisi kiri serangan Inter lebih hidup sejak Dalbert masuk pada menit 77.

Heat map Davide Santon dan Joao Cancelo. Sumber: Squawka.

Masuknya Dalbert dan bantuan serangannya bisa membuat Perisic lebih mendapatkan ruang di sisi kanan pertahanan Roma. Gol balasan Inter pun terjadi melalui sisi kiri setelah umpan silang Perisic berhasil disambut Matias Vecino di dalam kotak penalti.

Solidnya gelandang Inter juga yang membuat Roma menghindari serangan dari tengah pada laga ini. Mereka justru memaksakan serangan melalui sayap meskipun sering terjadi kesalahan-kesalahan individual antara full-back dengan pemain sayapnya.

Lini Tengah Roma Kurang Kontributif Membantu Serangan

Ada dua faktor yang membuat lini tengah Roma tidak terlalu berkembang saat menyerang. Hal pertama tentu saja karena tidak ada gelandang bertahan murni di skuat utama Roma saat ini. Artinya tidak ada satu pemain yang fokus melindungi para beknya. Pellegrini pada laga ini justru terbagi dua konsentrasinya untuk bertahan dan menyerang.

Hal itu membuat pertahanan Roma rentan menerima umpan-umpan terobosan dari gelandang Inter yang memiliki akurasi cukup baik dalam aksinya itu. Pellegrini kesulitan menghadapi tiga gelandang Inter yang memiliki umpan-umpan akurat, yaitu Borja Valero, Matias Vecino dan Roberto Gagliardini.

Pellegrini terkadang harus sendirian menyaring serangan Inter dari lini tengah. Hal itu karena Kevin Strootman dan Radja Nainggolan tidak selalu hadir untuk menemani Pellegrini ketika bertahan. Strootman dan Nainggolan sering bergerak lebar membantu pertahanan untuk menutupi agresivitas full-back Roma dalam membantu serangan.

Grafis umpan tiga gelandang Internazionale Milan. Sumber: Squawka.

Maka dari itu Roma kelimpungan dalam menghadapi serangan balik Inter pada laga ini dari tengah maupun sayap. Hanya saja Roma bisa sedikit lega karena dua bek tengahnya mampu meredam pergerakan Mauro Icardi, penyerang Inter. Gangguan bek tengah Roma, Federico Fazio dan Kostas Manolas, tidak bisa membuat Icardi terlalu leluasa.

Dari lima percobaan tembakan Icardi, hanya dua yang mengarah ke gawang dan itu pun mampu diantisipasi Alisson Becker yang tampil baik pada laga ini. Total, Becker mampu melakukan tujuh penyelamatan penting dalam mengantisipasi percobaan tembakan Inter. Becker juga berperan penting ketika membantu serangan Roma. Umpan jauhnya berhasil menjadi gol yang berhasil diselesaikan El Shaarawy.

Kesimpulan

Penampilan baik Becker dan jeleknya penyelesaian akhir Inter menjadi alasan mengapa tuan rumah cuma bisa mencetak satu gol. Padahal Inter sering berhasil masuk ke sepertiga akhir pertahanan Roma dari sayap. Tapi terlalu bergantungnya Inter kepada Icardi dalam mencetak gol justru menjadi kebuntuan tersendiri.

Kesalahan Inter lainnya adalah keterlambatan respon Luciano Spalletti sebagai pelatihnya untuk bermain lebih total menyerang dari sayap. Jika melihat kurang baiknya kombinasi Roma di kedua sisi lapangan, Spalletti seharusnya tidak ragu menginstruksikan Santon agar lebih agresif membantu serangan Perisic.

Komentar