Celah yang Bisa Dimanfaatkan dari Perbedaan Gaya Bertahan Napoli dan Juventus

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Celah yang Bisa Dimanfaatkan dari Perbedaan Gaya Bertahan Napoli dan Juventus

Pertandingan giornata 15 Serie-A 2017/2018 akan mempertemukan dua kesebelasan papan atas klasemen sementara antara tuan rumah SSC Napoli VS Juventus di Stadion San Paolo, Sabtu (2/11), dini hari Waktu Indonesia.

Napoli masih memuncaki klasemen dengan raihan 38 poin dari 14 pertandingan. Sementara Juventus berada di peringkat tiga dengan raihan 34 poin atas jumlah pertandingan seperti Napoli. Keduanya pun sama-sama baru meraih kemenangan pada pertandingan Serie-A terakhirnya masing-masing.

Tapi Napoli lebih sukses karena memenangkan dua laga secara beruntun. Berbeda dengan Juventus yang baru bangkit setelah sempat dikalahkan Sampdoria pada dua pertandingan sebelumnya. Tapi Juventus akan datang ke San Paolo dengan skuat lebih komplet dari Napoli.

Perkiraan Formasi dan Susunan Pemain

Napoli dipastikan tidak akan diperkuat full-back kiri andalannya, yaitu Faouzi Ghoulam karena cedera ligamen lutut. Posisi yang ditinggalkannya itu akan ditempati Mario Rui. Arkadiusz Milik juga masih belum bisa diturunkan karena cedera yang sama seperti Ghoulam. Kendati demikian, absennya Milik tidak masalah karena Dries Mertens masih menjadi penyerang tengah andalan Napoli dalam formasi 4-3-3.

Di sisi lain, Gonzalo Higuain diragukan tampil pada laga nanti karena cedera jari tangan. Kecil kemungkinan Higuain diturunkan sejak pertandingan dimulai. Posisinya di ujung tombak dalam formasi 4-2-3-1, kemungkinan bakal diganti Mario Mandzukic atau Paulo Dybala. Berbeda dengan Stephan Lichtsteiner yang sudah pasti tidak dibawa ke Napoli karena cedera paha. Namun kekosongannya bisa digantikan Mattia De Sciglio yang tampil baik ketika melawan Crotone pada pertandingan sebelumnya.

Menunggu Celah Saat Napoli Menerapkan Garis Pertahanan Tinggi

Tidak mudah untuk menjebol gawang Napoli. Sampai saat ini, bersama AS Roma, mereka masih menjadi kesebelasan dengan pertahanan terkuat di Serie-A 2017/2018 karena baru kebobolan sembilan gol. Tapi bukan berarti tidak ada cara untuk memorak-porandakan pertahanan Napoli. Ada beberapa momen ketika pertahanan Napoli kelimpungan menerima serangan dari lawan-lawannya.

Kunci kekuatan bertahan Napoli sebenarnya karena para keberadaan gelandang pekerja keras ketika menerapkan middle block atau garis pertahanan menengah. Tiga gelandang mereka yaitu Allan Marques, Jorginho dan Marek Hamsik, merupakan pemain pekerja keras yang agresif dalam perebutan bola.

Tapi pertahanan Napoli teramat rentan ketika mulai nyaman menerapkan high block atau garis pertahanan tinggi. Biasanya, sistem itu dilakukan Napoli ketika mereka sudah memenangkan lini tengah melalui sistem garis pertahanan menengah yang dijalankan mereka.

Para gelandang Napoli pun akan lebih fokus melancarkan serangan. Tapi low block atau garis pertahanan rendah Juventus sangat kuat untuk meredam serangan lawan. Sepertiga pertahanan Juventus pun akan menjadi padat dengan formasi 4-4-1-1 ketika bertahan dengan menyisakan satu atau dua pemain depan untuk mencegah aliran bola lawan kepada pemain belakangnya.

Jarak antara pemain belakang dengan tengah tidak terlalu jauh sehingga akan menyulitkan Napoli masuk ke dalam sepertiga akhir melalui umpan-umpan terobosan. Kesulitan para pemain Napoli untuk masuk ke sepertiga akhir pertahanan Juventus bisa dijadikan momen serangan balik.

Pada saat proses itulah garis pertahanan tinggi Napoli akan melemah karena dua full-back Napoli pun sering naik membantu serangan. Tapi dalam beberapa laga terakhir ini, full-back Napoli jarang naik sampai sepertiga akhir lawan sehingga cukup baik ketika melakukan transisi bertahan.

Napoli Mesti Waspadai Serangan Balik Juventus yang Mematikan

Ketika Napoli melakukan garis pertahan tinggi, saat itu juga Juventus harus memanfaatkan celahnya memakai serangan balik. Setidaknya serangan balik bisa menghasilkan bola mati sehingga menjadi peluang mencetak gol. Juventus sangat cepat ketika melancarkan serangan balik.

Proses itu ditentukan dari lini belakang karena bek dan gelandangnya mampu melepaskan umpan jauh akurat. Umpan-umpan mereka juga akan disambut oleh para pemain sayap yang memiliki kecepatan tinggi. Terutama melalui sisi kiri yang sering ditempati kecepatan Alex Sandro dan Douglas Costa.

Serangan Juventus juga bisa tiba-tiba dialirkan ke sayap kanan yang tidak kalah cepatnya karena keberadaan Juan Cuadrado. Apalagi De Sciglio sudah mulai nyetel dengan permainan Juventus sehingga bisa menopang Cuadrado secara signifikan.

Alhasil sumber serangan Juventus dari lini belakang kembali menemukan tujuan umpannya ke sisi kiri maupun kanan. Hal itulah yang tidak didapatkan Juventus pada awal musim ini. Kecepatan sayap Juventus bisa dipakai untuk mengakali keterlambatan transisi negatif para full-back Napoli.

Agar Permainan Juventus Tidak Berkembang

Juventus masih bergantung kepada build-up serangan dari lini belakang meskipun sudah tidak ada Leonardo Bonucci. Kemahiran Gianluigi Buffon dan Giorgio Chiellini dalam melepaskan umpan pendek maupun panjang adalah jawabannya. Terutama ketika kesebelasan berjuluk La Vechia Signora (Si Nyonya Tua) itu mendapatkan tendangan gawang.

Selain Buffon dan Chiellini, pemain paling berpengaruh dalam melakukan build-up serangan dari lini belakang adalah Miralem Pjanic. Ia adalah pemain kedua yang paling sering melepaskan umpan panjang akurat setelah Chiellini. Pjanic melakukan 5,2 per laga dan Chiellini 5,8 di setiap pertandingannya.

Faktor itulah yang membuat Napoli bisa bermain lebih agresif lagi ketika mulai menerapkan garis pertahanan tinggi. Soalnya, pada saat garis pertahanan tinggilah lini depan Napoli akan mendapatkan bantuan dari gelandangnya untuk melancarkan tekanan. Dries Mertens akan mengganggu Chiellini atau Buffon ketika menguasai bola.

Sementara Pjanic tidak akan terlalu bebas karena Hamsik bisa bergerak lebih dekat ke depan kotak penalti Juventus ketika menjalankan garis pertahanan tinggi. Pjanic sering menjadi penentu dalam build-up serangan Juventus dari lini belakang. Ia akan bergerak turun ke bawah di antara kedua beknya untuk membantu aliran bola dan menentukan arah serangan kesebelasannya.

Maka dari itu diperlukan Hamsik untuk memberikan tekanan kepada PJanic selaku pengatur tempo serangan Juventus. Hamsik sendiri merupakan pemain kelima yang paling sering melancarkan tekel bersih di Napoli, yaitu dengan rataan 1,5 di setiap pertandingannya.

Kesimpulan

Sistem pertahanan kedua kesebelasan masing-masing akan menjadi penentu pada pertandingan ini. Napoli harus bisa menghancurkan garis pertahanan rendah Juventus. Alasannya karena sistem itulah yang menentukan kuatnya pertahanan maupun serangan Juventus.

Sementara Juventus harus menemukan celah ketika Napoli mulai memainkan garis pertahan tinggi. Pada saat itulah Juventus lebih mendapatkan peluang untuk mencetak gol. Gaya bertahan dua kesebelasan inilah yang menjadi alasan mengapa pertandingan nanti akan lebih menarik.

Komentar