Minimnya Kreativitas Atletico dan Real Madrid Membuat Derbi Madrileno Berakhir Tanpa Gol

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Minimnya Kreativitas Atletico dan Real Madrid Membuat Derbi Madrileno Berakhir Tanpa Gol

Skor imbang 0-0 menjadi hasil akhir dalam partai Derbi Madrileno yang mempertemukan Atletico Madrid dengan Real Madrid di Estadio Wanda Metropolitano, Minggu (19/11) dini hari WIB. Laga penuh gengsi itu berlangsung sengit dan keras. Saking kerasnya, 26 pelanggaran tercipta selama 90 menit pertandingan, dengan 20 di antaranya dilakukan oleh para pemain Atleti. Selain itu wasit juga dipaksa untuk mengeluarkan delapan kartu kuning (enam untuk Atleti dan dua untuk Real Madrid).

Sergio Ramos yang biasa tampil trengginas menjadi tukang jagal di area pertahanan Madrid bahkan hanya mampu tampil setengah babak, karena tulang hidungnya patah setelah mendapat terjangan kaki salah satu pemain Atleti pada menit 36. Bahkan pada sisa pertandingan babak pertama, dua kapas menempel di hidung bek asal Spanyol itu karena terus mengalami pendarahan.

Dalam laga tersebut, Atletico dan Real Madrid sama-sama menurunkan skuat terbaiknya. Di kubu Atleti, Diego Simeone menerapkan formasi dasar 4-4-2 sementara Zinedine Zidane dari kubu Real Madrid menggunakan formasi 4-3-1-2. Dalam susunan pemain yang diturunkan Zidane menarik melihat kehadiran sosok Luka Modric di lapangan tengah. Sebelumnya pemain asal Kroasia itu diragukan tampil karena cedera.

Disiplinnya pertahanan kedua kesebelasan

Absennya Gareth Bale menjadi salah satu alasan Madrid menggunakan skema 4-3-1-2, tendensinya bila Bale bisa ditampilkan dalam laga melawan Atleti, Zidane sepertinya akan menerapkan skema 4-3-3 dengan mengandalkan akselerasi Bale dan Ronaldo dari sektor sayap. Namun Zidane tampaknya belum menemukan sosok yang pas untuk dijadikan sebagai pengganti Bale sehingga ia lebih memilih menerapkan formasi dasar 4-3-1-2 selama Bale menepi.

Melalui formasi 4-3-1-2, poros utama serangan Madrid praktis bertumpu di sektor tengah, dengan mengandalkan Isco yang diplot sebagai gelandang serang untuk menjadi kreator penyerangan klub berjuluk Los Blancos itu. Skema tersebut memang membuat Madrid tampil agresif. Sejak awal pertandingan, mereka terus mencecar pertahanan Atleti.

Penguasaan bola Madrid dalam laga tersebut mencapai 65 persen berbanding 35 persen milik Atleti. Selain itu, ada 14 tembakan yang dilepaskan Madrid namun tidak ada satu pun gol yang berhasil dicetak. Salah satu faktor yang membuat buntunya Madrid di laga tersebut adalah rapatnya pertahanan Atleti yang tak memberikan sedikitpun celah bagi Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan mengancam gawang Jan Oblak.

Seperti biasa, Atleti kerap melakukan pressing tinggi untuk membuat Madrid kesulitan membangun serangan dari belakang. Namun saat pressing tersebut mampu diatasi, para pemain Atleti langsung bergerak mundur mengawal areanya sendiri, termasuk duet penyerang mereka, Antoine Griezmaan dan Angel Correa. Bisa dibilang saat bertahan mereka melakukan sistem low block.

Gambar: Sembilan pemain Atleti menumpuk di kotak penalti sendiri untuk menutup celah bagi para pemain Madrid

Saat para pemain Madrid memasuki area tengah lapangan, para pemain Atleti langsung menjaga zona merah (area depan kotak penalti) hinga kotak penalti mereka. Pada dua era tersebut, Atleti menumpuk hingga sembilan pemain. Tentu saja itu sangat menyulitkan, Isco yang biasanya atraktif menyisir penyerangan dari sektor tengah pun seakan tak berkutik.

Madrid kemudian mencoba untuk menjadikan sektor sayap sebagai poros serangan. Cara tersebut tampak berhasil untuk membuat mereka masuk ke area penalti Atleti. Beberapa kali Marcelo dan Ronaldo mampu mengeksploitasi pertahanan Atleti dari sisi kiri penyerangan mereka. Namun cara tersebut juga masih saja membuat Madrid kesulitan untuk mencetak gol. Hal itu disebabkan minimnya pergerakan Daniel Carvajal dari sayap kanan. Akibatnya, Madrid terus melakukan serangan dari sektor kiri.

Bahkan Isco, Benzema, Ronaldo, dan Toni Kross pun lebih banyak bergerak di area kiri. Tentu saja, hal tersebut malah membuat Atleti lebih mudah untuk mematahkan serangan Madrid. Juanfran yang kerap dibantu Saul Niguez, Gabi, dan Thomas Partey kerap kali mampu menghentikan upaya serangan Madrid.

Secara keseluruhan Atleti memang tampil begitu disiplin, total ada 36 sapuan, 10 intersepsi, dan 21 blok yang dilakukan untuk membuat Madrid kepayahan mencetak gol atau bahkan menciptakan peluang yang mengancam gawang Oblak. Upaya terakhir yang bisa dilakukan untuk memecah kebuntuan hanya dari tembakan jarak jauh dan bola mati pun belum berbuah gol.

Meski lebih banyak di tekan namun bukan berarti Atleti tampil tanpa perlawanan. Atleti beberapa kali mampu membahayakan gawang Madrid. salah satunya di awal babak pertama. Angel Correa yang berhasil lepas dari kawalan barisan pertahanan Los Blancos melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti. Sayang bola hasil tembakannya itu melebar.

Dalam upayanya membobol gawang Madrid, Atleti lebih banyak mengandalkan serangan balik. Saat bola berhasil dikuasai, mereka langsung melancarkan serangan cepat balik melalui bola direct yang langsung diarahkan kepada Griezmann. Atau memanfaatkan daya jelajah Correa yang kerap menjemput bola dari belakang. Tapi pertahanan Madrid juga tampil disiplin, karena mampu melakukan sembilan intersepsi, 22 sapuan, dan 13 blok.

Grafis tekel kedua tim. Sumber: Squawka

Minimnya kreativitas

Selain disiplinnya pertahanan Atleti dan Madrid, hasil imbang tanpa gol dalam Derbi Madrileno edisi 218 ini juga dipengaruhi dengan minimnya kreativitas kedua tim dalam melancarkan serangan. Sekilas laga memang terlihat menarik, karena jual beli serangan kerap terjadi. Namun nyatanya, pola serangan yang dilakukan oleh kedua kesebelasan hanya sebatas serangan yang bersifat sporadis.

Madrid misalnya, mereka seperti tak memiliki opsi lain untuk bisa memecah kebuntuan. Sepanjang 90 menit pertandingan sektor sayap kiri terus dijadikan poros serangan, yang sangat mudah dibaca dan dipatahkan lawan. Peran Isco sebagai kreator serangan tidak terlihat begitu menonjol, begitu pula dengan Modric yang bahkan sepanjang pertandingan hampir tidak terlihat kontribusinya. Jumlah sentuhan Modric dalam laga tersebut hanya mencapai 92, terhitung paling rendah bila dibandingkan dengan gelandang Madrid lainnya.

Grafis heat maps Real Madrid. Sumber: Squawka

Pada babak kedua, Zidane mencoba melakukan perubahan dengan masukan Marco Asensio yang masuk menggantikan Benzema. Asensio yang di plot sebagai second striker diharapkan bisa menambah kreativitas serangan Madrid. Namun harapan tersebut tampaknya sirna, karena perubahan yang dilakukan Zidane dengan memasukkan Asensio pun terbilang sia-sia. Tidak banyak yang bisa dilakukan pemain berusia 21 tahun, bahkan untuk melepaskan tembakan pun ia seolah tak mampu.

Sama halnya dengan Madrid, Atleti pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka sepertinya memang lebih fokus untuk menggalang pertahanan yang kuat, sehingga hanya serangan balik yang menjadi opsi serangan mereka. Tidak banyak yang bisa dilakukan Atleti, untuk membongkar pertahanan Madrid mereka sering juga melepaskan tembakan dari jarak jauh yang tak mengancam gawang Casilla. Dari total tujuh tembakan yang dilepaskan Atleti, empat di antaranya dilepaskan dari luar kotak penalti.

Simeone sebenarnya juga berupaya untuk menghadirkan perubahan dengan memasukkan tiga pemain bertipikal menyerang seperti Fernando Torres, Kevin Gameiro, dan Yannick Carrasco. Tapi sama halnya dengan upaya Zidane yang memasukkan Asensio, ketiga pemain tersebut juga gagal untuk memecah kebuntuan.

Foto: Twitter Atletico Madrid

Komentar