Spurs Kalah dari Arsenal Bukan Hanya Karena Dua Gol Berbau Offside

Analisis

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Menulis dan menyunting di Pandit Football. Menulis untuk Tirto jika cuaca sedang bersahabat. Menulis kalimat pendek, membaca artikel panjang.

Spurs Kalah dari Arsenal Bukan Hanya Karena Dua Gol Berbau Offside

Sampai batas tertentu, keluhan Mauricio Pochettino saat Tottenham kalah dari Arsenal bisa dimaklumi. Tayangan ulang memang menunjukkan bahwa Shkodran Mustafi dan Alexandre Lacazette berada dalam posisi offside -- tipis, tipis sekali sampai berpotensi mengundang debat yang tak berkesudahan. Namun menyebut para pemain Tottenham Hotspur tampil baik jelas tidak tahu diri.

Mustafi dan Lacazette berada dalam posisi offside karena para pemain Tottenham mengaturnya demikian. Namun wasit dan hakim garis dua kali salah menilai adalah satu hal; gagal menerapkan jebakan offside secara sempurna adalah hal lain. Sepersekian detik terlambat menarik, dan dua kali pula, jelas bukan salah siapa pun selain diri sendiri.

Itu soal jebakan offside yang buruk saja. Namun walau itu merupakan alasan Tottenham kebobolan dua gol, penyebab kekalahan Tottenham bukan hanya itu.

Tottenham tampak tidak punya jawaban untuk tekanan lini depan Arsenal. Mesut Ozil, Alexis Sanchez, dan Lacazette begitu disiplin menjadi baris pertahanan pertama, menutup jalur umpan lini belakang Tottenham. Karena kesulitan mengumpan kepada para gelandang, umpan-umpan panjang langsung ke lini depan menjadi pilihan. Pilihan yang tidak efektif. Sepanjang babak pertama, di daerah permainan Arsenal, Tottenham delapan kali kehilangan bola karena direbut dan delapan kali kehilangan bola karena kontrol buruk.

Soal bertahan dari depan, Aaron Ramsey juga pantas mendapat apresiasi. Ketika jalur umpan dari belakang ke tengah tidak tertutup baik, ia cepat bergerak merebut bola; dari sembilan tekel, lima berhasil. Yang berhasil memang hanya berselisih satu dari yang berhasil, namun merebut atau tak merebut, Ramsey merusak usaha Tottenham membangun serangan.

Babak Kedua Tegaskan Buruknya Penampilan Tottenham

Pertandingan babak kedua tak seterbuka babak pertama. Arsenal lebih reaktif -- lebih banyak menunggu di wilayah sendiri, meredam serangan demi serangan. Tottenham Hotspur mendominasi penguasaan bola, hingga 64%, namun tampak melakukan segalanya dengan terburu-buru. Bahkan lemparan ke dalam mereka lakukan dengan cepat. Seperti tak boleh ada sedetik pun waktu terbuang.

Keduanya dapat dimengerti. Arsenal akan kelelahan dan rentan kebobolan jika terus bermain seperti babak pertama; Tottenham butuh mencetak gol secepatnya.

Walau demikian Arsenal tetap lebih mengancam. Dengan menerapkan pendekatan reaktif, Arsenal mengundang Tottenham untuk mengirim banyak pemain ke wilayah permainan mereka. Serangan balik demi serangan balik, karenanya, dilancarkan dengan cukup mulus. Statistik babak pertama menunjukkan Arsenal melepas tiga tembakan tepat sasaran; Tottenham hanya dua.

Tottenham tidak membahayakan walau mendominasi karena dua alasan. Pertama, pertahanan Arsenal terlalu rapat untuk dibongkar. Tottenham melepas 316 umpan sepanjang babak kedua (sebagai perbandingan: Arsenal hanya 180), namun tidak satu pun yang merupakan umpan terobosan. Arsenal menunggu, dan mereka menunggu dengan sangat baik.

Kedua, performa para pemain Tottenham terlalu buruk untuk bisa membongkar pertahanan Arsenal. Tidak ada lagi umpan-umpan panjang seperti babak pertama, namun kehilangan bola di wilayah permainan Arsenal masih saja terjadi -- empat kali karena direbut, enam kali karena kontrol buruk.

Tottenham, singkatnya, bermain sangat buruk. Namun itu tidak berarti Arsenal menang karena lawan mereka tidak tampil dalam permainan terbaik. Arsenal tidak menang gratis. Benar Tottenham tidak sebaik biasanya, namun Tottenham tidak sebaik biasanya juga karena Arsenal melakukan semuanya dengan baik.

Arsenal memainkan pendekatan pertahanan yang berbeda di kedua babak dan keduanya tepat. Arsenal efektif dalam pemanfaatan peluang. Arsenal bermain dengan sangat kompak sebagai tim dan semua pemainnya tampil prima. Yang kurang hanya jumlah golnya. Selebihnya tak perlu dipersoalkan.

Komentar