Kehilangan Kante Begitu Terasa Saat Chelsea Dihancurkan Roma

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kehilangan Kante Begitu Terasa Saat Chelsea Dihancurkan Roma

Chelsea takluk di tangan AS Roma dengan skor telak 3-0. Walau begitu, skor akhir sebenarnya tidak merefleksikan dominasi Roma atas sang tamu pada laga yang digelar Rabu (1/11) dini hari WIB tersebut. Pertandingan pada dasarnya berjalan cukup berimbang seperti laga pertama di Stamford Bridge yang berakhir 3-3. Hanya saja ada detail-detail kecil yang menjadi pembeda.

Pada laga ini, Chelsea bermain dengan skema dasar 3-4-2-1, berbeda dengan laga pertama yang menerapkan skema dasar 3-5-2. David Luiz yang sebelumnya jadi gelandang, kembali ditempatkan sebagai bek tengah. Wing-back kanan diisi oleh Cesar Azpilicueta, bukan Davide Zappacosta. Pedro Rodriguez menemani Eden Hazard dan Alvaro Morata sebagai penggedor di lini depan.

Di kubu Roma, pola 4-3-3 tetap digunakan. Yang membedakan, Maxime Gonalons yang bermain sejak menit pertama di Stamford Bridge digantikan oleh Daniele De Rossi. Sementara Gerson pun ditarik dari susunan pemain utama, digantikan Stephane El Shaarawy. Alessandro Florenzi yang pada pertemuan pertama jadi pemain pengganti pun diturunkan mengisi pos yang sebelumnya diisi Bruno Peres.

Permainan Chelsea sejak awal permainan tidak menunjukkan permainan yang buruk. Meski mereka tertinggal 0-2 saat turun minum, Chelsea sebenarnya tampil lebih membahayakan dibanding Roma. Peluang-peluang yang diciptakan tidak hanya satu-dua. Total, sembilan tembakan skuat asuhan Antonio Conte tersebut ciptakan, sementara Roma lebih sedikit, lima tembakan.

Secara tim, Chelsea tampil sesuai instruksi Conte. Namun sejumlah individu tampak tidak sigap di beberapa kondisi. Ketika pertandingan berjalan satu menit misalnya (tepatnya 38 detik), mungkin para pemain Chelsea, khususnya Marcos Alonso, tidak menyangka jika tendangan El Shaarawy akan melesat tajam dan tak mampu dihalau Thibaut Courtois.

Begitu juga ketika El Shaarawy mencetak gol keduanya. Ketika itu Antonio Ruediger melakukan kesalahan antisipasi dengan membiarkan bola, berharap Courtois keluar gawang dan mengamankan bola. Nyatanya di belakangnya El Shaarawy sudah siap berburu bola dengan Azpilicueta. Kecepatannya mampu mengungguli bek asal Spanyol tersebut dan menyontek bola untuk mengelabui Courtois.

Gol Roma dicetak pada menit pertama dan ke-35. Tapi dalam periode tersebut, justru sebenarnya Chelsea yang terus menerus meneror pertahanan Roma. Sebelum gol kedua El Shaawy, tujuh tembakan diciptakan Chelsea. Bahkan dua di antaranya merupakan peluang emas. Morata misalnya ketika mendapatkan bola muntah di depan gawang Roma, namun tendangannya malah melambung tinggi.

Kedua kesebelasan bermain dengan pressing tinggi dan tekel-tekel agresif. Keduanya berusaha merusak build-up serangan sejak lawan menguasai bola di lini pertahanan masing-masing. Tak heran Roma mencatatkan 31 tekel (18 berhasil) dan Chelsea 24 tekel (16 berhasil) karena banyaknya duel-duel perebutan bola.

Namun Chelsea kalah duel di tengah. Kehilangan N`Golo Kante begitu terasa bagi skuat berjuluk The Blues tersebut. Keputusan Conte mengembalikan Luiz ke bek dan Chelsea kembali bermain dengan duet Cesc Fabregas dan Tiemoue Bakayoko berbuah fatal di lini pertahanan. Keduanya tak mampu membendung tusukan-tusukan para pemain Roma ke area depan kotak penalti.

Paling kentara terlihat pada gol yang dicetak Diego Perotti, gol ketiga Roma pada laga ini. Setelah Fabregas salah umpan dan berusaha menghalau Kolarov yang menguasai bola, Bakayoko tidak meng-cover area di belakang Fabregas. Alhasil ketika Perotti menerima umpan dan melewati Pedro (berpindah menjadi wing-back kanan setelah Willian dimasukkan menggantikan Gary Cahill), Perotti punya sudut yang pas dan bisa menendang dengan leluasa dari luar kotak penalti.

Sejak awal memang ada celah di depan kotak penalti Chelsea karena tidak seimbangnya Fabregas dan Bakayoko. Perlu diketahui, Fabregas mencatatkan empat tekel berhasil dari lima percobaan sementara Bakayoko hanya satu kali berhasil dari dua percobaan. Bakayoko yang diharapkan bisa seperti Kante ternyata gagal.

Peluang sebelum terciptanya gol Perotti

Pada gambar di atas terlihat bagaimana Roma menciptakan peluang. Ketika Perotti berhasil melewati Fabregas yang tak melakukan tekel (gambar 1), Bakayoko tidak meng-covernya sehingga Luiz yang awalnya menjaga Dzeko harus menghalau Perotti, penjagaan Dzeko diganti Cahill. Tapi Perotti mengoper pada El Shaarawy, yang lagi-lagi Bakayoko gagal merebut bola. Akhirnya Rudiger terpancing dan Cahill melepaskan penjagaan Dzeko. Dzeko menggiring bola ke area kosong, tendangannya nyaris berbuah gol, tipis melayang di atas gawang Chelsea.

Bahkan jika melihat gol pertama dan ketiga, sebenarnya gol tersebut bisa dihindari andaikan gelandang perebut bola Chelsea berada pada posisinya. Karena kedua gol tersebut tercipta ketika pemain Roma bisa melepaskan tembakan tanpa gangguan sehingga bisa menempatkan bola dengan akurat ke gawang Courtois.

Perlu diingat, El Shaarawy dan Perotti merupakan pemain sayap yang bukan ditugaskan untuk menciptakan umpan-umpan silang bagi Dzeko. Tugas tersebut diemban oleh Aleksandr Kolarov dan Bruno Peres (atau Florenzi pada laga semalam). Karenanya, pergerakan cut inside keduanya merupakan ancaman tersendiri, yang sejatinya bisa diminimalisasi seandainya Chelsea memiliki gelandang perebut bola yang mengganggu mereka, dalam hal ini Kante yang biasanya menjadi perebut bola Chelsea.

***

Mengenai celah di lini tengah ini, Conte pun tampak menyadarinya. Buktinya ia memasukkan Danny Drinkwater untuk menggantikan Fabregas pada menit ke-71. Bahkan pada pertemuan di Stamford Bridge ia memainkan Luiz sebagai gelandang bertahan untuk memudahkan Fabregas dan Bakayoko.

Tapi selain keberhasilan Roma memanfaatkan area di depan kotak penalti, sebenarnya skuat Roma lebih bugar pada laga ini. Jika Chelsea hampir menurunkan skuat yang sama dengan ketika mereka menghadapi Bournemouth di Liga Primer, Roma mencadangkan Kolarov dan Nainggolan di Serie A saat menghadapi Bologna. Perotti juga saat itu baru masuk pada babak kedua. Ini tentu menjadi faktor lain mengingat Perotti, Nainggolan dan Kolarov tampil impresif pada laga ini.

Komentar