Bagaimana Cara Prancis Melahirkan Generasi Emas?

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Bagaimana Cara Prancis Melahirkan Generasi Emas?

Halaman kedua

Clairefontaine pada dasarnya adalah pusat pelatihan nasional untuk pemain-pemain usia 13 sampai 15 tahun atau timnas junior maupun senior. Clairefontaine merupakan tempat yang sangat menyokong pemain-pemain berbakat kesebelasan Liga Prancis maupun tim nasional juniornya.

Maka yang membedakan Clairefontaine dengan akademi lain adalah, akademi tersebut tidak mengikat para pemainnya. Pemain yang berasal akademi klub manapun bisa daftar untuk mengikuti pelatihan di sana tanpa meninggalkan akademi klub sebelumnya, tentu saja melalui proses seleksi. Di sini, para pemain terpilih, nantinya akan berlatih dari Senin sampai Jumat. Sementara akhir pekan diberikan waktu untuk mengunjungi keluarga atau bermain di akademi klubnya masing-masing.

Di Clairefontaine, para pemain selain ditingkatkan dari segi fisik, taktik, teknik, dan mental juga akan menemukan kekurangan setiap pemain untuk kemudian ditingkatkan. Dimulai dari meningkatkan kemampuan menggunakan kaki terlemah, membuat pemain bergerak lebih cepat, melatih efektivitas pergerakan pemain, dan lain-lain.

Clairefontaine sendiri sebenarnya terbagi ke dalam 12 akademi di 12 kota berbeda. Dari 12 kota tersebut akan diseleksi sebanyak 22 pemain setiap kota. Nantinya dari lebih 260 pemain, setelah seleksi selama tiga hari, akan disaring maksimal menjadi 22 pemain final. Ke-22 bakat-bakat terbaik itulah yang akan dikarantina secara khusus di Clairefontaine yang terletak di Ile-de-France.

Ile-de-France merupakan tempat terpencil di sebuah desa yang cuma dihuni sekitar 900-an jiwa. Bangunan seluas 56 hektar ini memiliki 302 kamar, 10 lapangan (tujuh rumput asli, tiga sintetis), laboratorium sains, ruang permainan, perpustakaan, hingga bioskop. Letaknya pun dekat sekolah menengah atas Lycée Louis Bascan de Rambouillet, di mana setiap pemain akan bersekolah di sana untuk sementara waktu dan diwajibkan meraih Baccalaureat, gelar akademik setingkat lulus SMA jika di Indonesia.

Selain sekolah, ruang permainan di Clairefontaine pun menjadi poin penting. Salah satu fungsinya untuk berinteraksi sosial. Dari ruangan itu juga Pogba dikenal sebagai raja pingpong, atau Lorient Koscielny dan Hugo Lloris ahli dalam bermain biliar, atau Griezmann, Mathieu Debuchy dan Pogba yang jago bermain Playstation. Koscielny dan Patrice Evra pun dikenal sebagai kutu buku karena paling rajin ke perpustakaan.

Pada intinya, semua kebutuhan pemain sepakbola tersedia di sana. Tidak terkecuali bagi Zidane yang ingin mencukur rambutnya. Clairefontaine sampai harus membawa tukang cukur ke sana karena Zidane sempat kabur karena ingin memotong rambutnya. Tak heran model pemusatan latihan dengan fasilitas lengkap seperti ini ditiru Belgia, Latvia dan Turki.

Di tempat itu juga kesebelasan-kesebelasan besar memantau bakat-bakat dari Prancis. Manchester United dan Arsenal adalah kesebelasan yang cukup rajin mengirim pemandu bakat mereka. Martial sudah masuk dalam pantauan MU sejak di sana. Begitu juga dengan Koscielny dan Giroud bagi Arsenal.

Mbappe pun merupakan salah satu lulusan terbaik Clairefontaine sebelum direkrut Monaco. Masih banyak lagi pemain-pemain yang sempat diasah di Clairefontaine sebelum menapaki kariernya, bahkan termasuk para pemain senior seperti Blaise Matuidi, Louis Saha, Nicolas Anelka, William Gallas, Olivier Giroud, hingga top skor sepanjang masa timnas Prancis, Thierry Henry.

Pemandu bakat klub memang harus jeli melihat bakat-bakat Clairefontaine. Karena tak sedikit juga pemain lulusan ini pun sempat ditolak kesebelasan-kesebelasan Prancis, seperti Griezmann, Dimitri Payet dan Kante. Griezmann bahkan direkrut Real Sociedad setelah ia selesai diasah di Clairefontaine.

***

Sejak PSG mendominasi, bakat-bakat Prancis semakin dipoles untuk bisa kembali memperketat persaingan Ligue 1. Bakat-bakat lulusan Clairefontaine pun dimanfaatkan oleh klub-klub Prancis sendiri untuk meminimalisasi pengeluaran tim. Selain itu para pemain muda Prancis pun menyadari kemampuan dan pengalamannya harus diasah di klub luar Prancis. Dari situlah bakat-bakat muda Prancis terbilang matang untuk bermain di level divisi teratas, yang membukakan jalan mereka ke timnas Prancis.

Sumber lain: Daily Mail, Unibet

Komentar