Fleksibilitas Taktik Conte dalam Kemenangan Chelsea atas Atletico

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Fleksibilitas Taktik Conte dalam Kemenangan Chelsea atas Atletico

Untuk pertama kalinya Atletico Madrid dikalahkan lawannya di Satdion anyar mereka, Wanda Metropolitano. Kesan pahit itu dirasakan Atletico ketika dikalahkan Chelsea dengan skor 2-1 pada pertandingan kedua grup C Liga Champions 2017/2018 dini hari tadi, Kamis (28/9).

Padahal Atletico unggul terlebih dahulu pada menit ke-40 melalui gol penalti Antoine Griezmann. Tapi Chelsea mampu membalikkan kedudukan lewat gol sundulan Alvaro Morata dan sontekan kaki Michy Batshuayi. Kebobolan yang terakhir dirasa paling menyakitkan karena pertandingan usai setelah Batshuayi memastikan kemenangan Chelsea.

Formasi dan susunan pemain

Tidak ada yang aneh pada formasi dasar Atletico. Diego Simeone selaku pelatihnya tetap mengandalkan formasi 4-4-2. Atletico tampil hampir dengan kekuatan penuh pada laga ini. Hanya Augusto Fernandez yang tidak bisa dimainkan karena menderita cedera. Berbeda tipis dengan Chelsea yang tidak bisa memainkan Daniel Drinkwater dan Pedro Rodriguez karena cedera. Walaupun begitu, Pedro tetap dimasukan ke daftar pemain di bangku cadangan.

Tapi yang menarik dari Chelsea pada laga ini adalah formasi yang dipilih Antonio Conte sebagai pelatihnya. Biasanya ia menggunakan formasi 3-4-3. Padahal masih ada Willian di bangku cadangan. Namun kali ini Conte memilih formasi 3-5-2 dengan menduetkan Alvaro Morata dan Eden Hazard di lini depan. Cesc Fabregas pun masuk ke dalam susunan pemain utama di lini tegah pada laga ini.

Perubahan taktik dan kebebasan posisi pemain Chelsea

Usai pertandingan, Simeone mengakui bahwa Chelsea layak menang. "Taktik, teknik, fisik dan intensitas mereka lebih baik. Anda harus memberikan selamat kepada tim yang bermain seperti yang dilakukan Chelsea hari ini. Sebuah hasil imbang seharusnya bagus untuk kami, tapi kesabaran di permainan akhir untuk mengalirkan bola sangat baik dan pertandingan berakhir dengan baik untuk mereka," akunya seperti dikutip dari ESPN FC.

Conte memang mampu membawa Chelsea bermain luar biasa pada pertandingan ini melalui taktiknya. Formasi dasar 3-5-2, peran serta posisi beberapa pemainnya mengalami berbagai perubahan selama pertandingan berlangsung. Perubahan awal, formasi dasar itu berubah menjadi 3-4-2-1 dengan menempatkan Morata sebagai ujung tombak yang di belakangnya ada Hazard dan N`Golo Kante ketika menyerang.

Tapi Kante sering bertukar posisi dengan Fabregas yang pada awalnya diplot di tengah dengan Tiemoue Bakayoko. Ketika Fabregas naik ke depan, perannya adalah menjadi pemantul bola bagi Morata dan Hazard di depan kotak penalti. Sementara ketika berada di tengah bersama Bakayoko, Fabregas sering melepaskan umpan-umpan panjang ke sepertiga akhir pertahanan Atletico.

Khusus Hazard, ia sering bertukar posisi dengan Morata dan menjadi pemantul bola satu sama lain di depan. Pertukaran posisi antara dua pemain itu membuat bek tengah Atletico kesulitan untuk melakukan penjagaan. Maka dari itu Hazard dua kali melepaskan percobaan tembakan di depan kotak penalti selama babak pertama. Morata yang ditopang Hazard dan begitu pun sebaliknya itu membuat Chelsea mengubah formasinya menjadi 3-5-1-1.

Masih belum efektif mencetak gol, Hazard diberikan kebebasan lagi untuk bermain lebar ke sisi kiri. Dari pergerakan itu ia membingungkan bek tengah Atletico dan lebih bebas mengirim umpan silang yang salah satunya berbuah asis untuk gol Morata. Perubahan posisi juga dialami Alonso pada menit akhir pertandingan. Ia pindah beroperasi dari sisi kiri ke kanan sehingga bisa menciptakan asis untuk gol Batsuayi.

Grafis dribel sukses (kiri), heat map (tengah) dan umpan kunci (kanan) Eden Hazard. Sumber: Squawka.com

Atletico Madrid kalah menekan dibandingkan Chelsea

Hal ini lah yang menjadi alasan lain mengapa Chelsea begitu istimewa. Gary Cahill dkk bertindak seperti tuan rumahnya pada pertandingan ini. Hal itu karena justru Chelsea yang tanpa lelah melancarkan pressing baik ketika lini depan mereka kehilangan bola ataupun Atletico sedang melakukan build-up serangan setelah tendangan gawang. Morata, Hazard dan Kante terus berlari-lari membayangi kiper atau bek Atletico yang menguasai bola.

Biasanya, Atletico-lah yang memberikan tekanan seperti itu kepada lawan-lawannya. Tapi pada laga ini, Atletico tidak terlalu intens melancarkan pressing kepada Chelsea. Mereka melancarkannya hanya ketika Chelsea melalukan build-up setelah tendangan gawang. Sementara ketika kehilangan bola di wilayah Chelsea, Atletico lebih memilih mundur dan tidak melancarkan pressing seperti saat kehilangan bola.

Hal itu karena Atletico berniat membangun posisi bertahannya yang tetap menjadi 4-4-2 atau terkadang 2-6-2. Mereka baru melancarkan pressing agresif ketika bola sudah memasuki wilayahnya. Hal itu menunjukan Atletico seperti ingin melakukan serangan balik memanfaatkan tiga bek Chelsea yang naik setengah lapangan untuk membantu serangan maupun bertahan dengan garis pertahanan tinggi.

Tiga bek Chelsea itu tentu unggul satu pemain dibandingkan lini depan Atletico dan mampu lebih lama menahan bola dibandingkan lawannya tersebut. Perbedaan jumlah itu membuat lini depan Atletico lebih mudah kehilangan bola. Lebarnya pemain sayap pada formasi 4-4-2 pun dipaksa bermain menyempit pada laga ini karena padatnya pemain tengah Chelsea ketika formasi menjadi 3-4-2-1 atau 3-5-1-1.

Untuk mengkalinya, Simeone menginstruksikan Yannick Carasco naik ke depan membantu Angel Correa dan Griezmann. Menempatkan tiga pemain di lini depan membuat keseimbangan jumlah menghadapi pertahanan Chelsea. Setidaknya dengan keputusan itu membuat Atletico lebih lama memegang bola di wilayah Chelsea.

Atletico Madrid kesulitan bermain lebar

Satu-satunya gol yang diciptakan Atletico lahir dari eksekusi penalti Griezmann. Mereka nampak kesulitan untuk mencetak gol melalui open play. Total, cuma 12 percobaan tembakan yang dilakukan Atletico selama pertandingan ini. Jumlah itu kalah dari Chelsea yang unggul enam kali lebih banyak daripada Atletico. Padahal, Atletico pun sempat mengubah pola serangannya agar memecahkan kebuntuannya.

Perubahan formasi Atletico menjadi 2-5-3 ketika menyerang itu diakali Conte dengan menginstruksikan Bakayoko berposisi lebih mundur ketika bertahan setelah kehilangan bola. Bakayoko turun sejajar dengan David Luiz dan sementara Cesar Azpilicueta dan Gary Cahill lebih naik sedikit mengantisipasi pergerakan pemain sayap Atletico. Hal itu karena Atletico terus mencoba membawa Chelsea bermain lebar.

Atletico menghindari duel di lini tengah karena keberadaan Fabregas dan Kante ditambah Bakayoko. Apalagi ketika Atletico melakukan build-up serangan dari tendangan gawang, formasi bertahan Chelsea lebih condong ke 5-3-2. Bakayoko membantu middle block bersama Kante dan Fabregas. Sementara dua wing-back Chelsea turun menemani tiga bek tengah untuk menjaga kecenderungan serangan Atletico melalui sisi lapangan.

Alhasil ketika bertahan, Chelsea unggul pemain di belakang maupun di tengah. Sementara di depan yang menyisakan Morata dan dibekengi Hazard di belakangnya. Menyisakan Morata dan Hazard membuat serangan balik Chelsea mampu mengimbangi pertahanan Atletico yang cuma menyisakan Diego Godin dan Lucas Hernandez ketika rekannya sedang menyerang.

Tapi ketika kesebelasannya kehilangan bola, Chelsea langsung melancarkan serangan balik dengan menjadikan Hazard atau Morata sebagai tumpuannya. Apalagi kedua pemain ini memiliki kecepatan serta giringan bola yang baik. Morata sanggup melakukan dua dribel sukses pada laga ini. Sementara Hazard mampu melakukannya empat kali lebih banyak dibanding Morata.

Kesimpulan

Pertandingan ini memperlihatkan bahwa Conte jauh lebih kaya soal taktik daripada Simeone, sekaligus mendikte soal mental saat memberikan tekanan melalui permainan kesebelasannya. Fleksibilitas Hazard menjadi kunci pada pertandingan ini. Pemain yang lain pun tidak kalah penting dalam fleksibilitas posisi dan takti permainan Chelsea di lapangan. Nilai tambahan bagi Conte adalah membuat para pemainnya belajar membiasakan diri memulai posisi baru.

Komentar