Ruang Kosong di Sayap Dortmund Berhasil Diekspos Madrid

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ruang Kosong di Sayap Dortmund Berhasil Diekspos Madrid

Borussia Dortmund kembali menelan kekalahan dalam ajang Liga Champions musim 2017/2018. Menghadapi Real Madrid dalam matchday 2 Grup H Liga Champions di Westfalenstadion, Rabu (27/9/2017) dini hari, Die Schwarzgelben menelan kekalahan dengan skor 1-3.

Hasil ini menambah hasil negatif yang Dortmund raih dalam ajang Liga Champions. Pada matchday 1, mereka kalah dengan skor yang sama atas Tottenham Hotspur di Wembley. Hasil ini lantas menjadi sebuah noda di balik catatan impresif mereka dalam ajang Bundesliga.

Pada pertandingan kali ini, kedua tim sebenarnya bermain cukup imbang. Dari segi penciptaan peluang, keduanya mencatatkan peluang dengan jumlah yang sama, yaitu 16 kali tembakan. Namun, selain keunggulan Madrid dalam segi tembakan mengarah tepat ke gawang (10 kali berbanding Dortmund yang hanya empat kali), ada beberapa hal lain yang membuat Los Blancos mampu mengungguli Die Schwarzgelben dalam matchday 2 Grup H Liga Champions ini.

Eksploitasi Madrid terhadap kelemahan Dortmund

Borussia Dortmund menjadi tim yang cukup atraktif pada ajang Bundesliga musim 2017/2018. Hanya kebobolan satu gol dari enam laga yang sudah dijalani membuktikan kapasitas dari tim yang bermarkas di Westfalenstadion ini. Namun dalam laga melawan Madrid kemarin, kehebatan Dortmund seolah lenyap tak berbekas. Los Blancos berhasil mengeksploitasi kelemahan yang ada di lini belakang Dortmund.

Ketika menyerang, ada situasi yang membuat lini pertahanan Dortmund begitu mudah dieksploitasi. Dua fullback Dortmund, yang kerap tidak sejajar dengan dua bek tengah dengan posisi yang lebih maju, menyisakan ruang yang bisa dimanfaatkan oleh para winger Madrid. Alhasil dalam laga tersebut, cukup banyak peluang Madrid yang tercipta lewat manuver Ronaldo dan Gareth Bale yang rajin menyisir ruang kosong tersebut.

Dari ruang-ruang kosong inilah tiga gol Madrid tercipta. Selain itu, garis pertahanan Dortmund yang tinggi memudahkan Bale dan Ronaldo lolos dari jebakan offside yang diterapkan oleh bek-bek Dortmund lewat kecepatan lari yang mereka miliki. Gawang Dortmund tampak begitu rapuh dalam pertandingan kali ini.

Masalah Dortmund: menembus pertahanan yang ketat

Saat kalah 1-3 dari Tottenham Hotspur dalam pertandingan pertama Liga Champions, tampak bahwa Die Schwarzgelben kesulitan dalam menembus rapatnya pertahanan Spurs ketika itu. Ketika Spurs menumpuk lima sampai enam pemain di area pertahanannya, Dortmund tampak kelimpungan dalam menembus pertahanan The Lilywhites.

Hal yang sama kembali terulang dalam laga melawan Madrid. Selain karena tidak klinisnya Auba dalam hal menyelesaikan peluang, serangan Dortmund sendiri pun buntu, terutama ketika mereka berada dalam kondisi tertinggal 1-2 usai Auba memperkecil ketertinggalan. Kemampuan Madrid untuk langsung melakukan perubahan skema, dengan lebih merapatkan lini pertahanan usai Dortmund memperkecil ketertinggalan, tidak mampu direspon dengan baik oleh Bosz.

Pertahanan Madrid. Selain rapat fokus juga dalam menjaga area yang kosong

Dengan tujuan untuk memberikan tekanan lebih kepada lini pertahanan Madrid, sekaligus menunjukkan responnya atas perubahan skema dari Madrid, Bosz memasukkan Mahmoud Dahoud, Julian Weigl, dan Christian Pulisic. Namun rapatnya pertahanan Los Blancos tidak mampu ditembus oleh para pemain Dortmund.

Efektivitas Madrid yang lebih baik

Dari segi penciptaan peluang, Madrid dan Dortmund memang sama-sama mencatatkan peluang yang sama banyaknya. Tapi selain total tembakan mengarah ke gawang Madrid yang lebih banyak, dari segi conversion rate, disitat dari Whoscored Madrid juga menorehkan coversion rate yang lebih baik, yaitu 18% berbanding 6%.

Salah satu yang membuat Madrid lebih efektif dalam menyerang adalah klinisnya Cristiano Ronaldo daripada Pierre-Emerick Aubameyang. Meski keduanya sama-sama menorehkan banyak peluang untuk tim, dan juga sama-sama aktif berkontribusi dari sisi penyerangan, namun dalam pertandingan ini Ronaldo berhasil menorehkan dua gol dari total lima tendangan yang ia lesakkan. Dua gol yang ia cetak berasal dari dua tembakan tepat sasarannya di pertandingan tersebut.

Sebagai catatan, Auba juga menorehkan lima tendangan dengan dua tendangan mengarah ke gawang. Namun hanya satu gol saja yang mampu dicetak Auba dalam pertandingan tersebut. Bisa dibilang, dalam laga ini Ronaldo lebih klinis daripada penyerang asal Gabon tersebut.

Selain karena klinisnya Ronaldo, alasan Madrid lebih efektif adalah persentase umpan sukses mereka yang sama dengan Dortmund, walau jumlah umpan mereka lebih sedikit. Kedua tim mencatatkan persentase umpan sukses sebesar 87%, namun Dortmund menorehkan 586 umpan, sedangkan Madrid hanya 531 umpan saja. Ini karena umpan-umpan Madrid tidak terlalu banyak berkutat di tengah dan banyak yang diarahkan ke depan, terutama ke wilayah kosong di area sayap Dortmund (cek grafis umpan Madrid di atas).

***

Dengan dua kekalahan ini, sementara Dortmund masih belum meraih satu poin pun dari dua laga yang sudah mereka jalani di Liga Champions. Di sisi lain, Madrid sekarang sedang bersaing dengan Tottenham Hotspur yang dalam pertandingan lain meraih kemenangan 3-0 atas APOEL FC. Sebuah kondisi yang tidak menguntungkan untuk Die Scwarzgelben.

Kemenangan di laga Eropa ini bisa menjadi pemantik semangat Madrid untuk kembali bertarung di kompetisi domestik, La Liga Spanyol. Los Blancos sekarang sedang tercecer ke peringkat keenam sementara La Liga, kalah dari Barcelona, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, serta Real Betis. Setidaknya, dengan kemenangan ini Madrid menunjukkan bahwa mereka masih salah satu kesebelasan yang cukup bertaji di Eropa.

foto: @Squawka

Komentar