Filosofi Penguasaan Bola Napoli dan Sayatan Sayap Kiri yang Manjakan Dries Mertens

Analisis

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Filosofi Penguasaan Bola Napoli dan Sayatan Sayap Kiri yang Manjakan Dries Mertens

Kalah aktif dibandingkan para pesaingnya pada bursa transfer musim panas lalu, membuat Napoli diperkirakan hanya akan menjadi kesebelasan kejutan saja saat Serie-A 2017/2018. Nyatanya dugaan itu adalah salah besar. Walaupun hanya mendatangkan Mario Rui dari AS Roma, Napoli berhasil tetap berada di papan atas klasemen sementara.

Pada pekan ketujuh, Napoli mantap di posisi puncak klasemen. Pencapaiannya itu membuktikan bahwa pelatihnya, Maurizio Sarri, tetap mampu membuat Napoli menakutkan dengan mayoritas pemain lama di dalam skuatnya. Kesebelasannya saat ini pun masih tetap tajam di lini depan dari enam pertandingan Serie-A musim ini.

Saat artikel ini ditulis, Napoli memiliki selisih 20 gol atas memasukkan 25 kali dan kemasukkan lima kali. Lebih dari itu, tujuh kemenangan diraih Napoli dari tujuh laga yang sudah dijalani. Poin sempurna itu mengungguli Juventus dan Inter yang terpaut dua poin di bawahnya atas hasil menang enam kali dan imbang satu kali.

***

Dries Mertens yang menjadi pencetak gol terbanyak Napoli tahun lalu, tetap dipercaya menjadi penyerang tengah dalam formasi 4-3-3 musim ini. Kran golnya pun mulai mengalir sejak giornata dua Serie-A 2017/2018. Sampai sekarang Mertens sudah mencetak tujuh gol dari tujuh pertandingan Serie-A musim ini. Gol-gol yang dicetak Mertens merupakan dampak dari fleksibilitas taktik yang diramu Sarri pada musim ini.

Mertens yang diplot sebagai false nine, diberikan kebebasan untuk bergerak di sepertiga akhir pertahanan lawannya. Ia bisa bergerak di dalam atau di luar kotak penalti, bahkan untuk melebar sekalipun. Pergerakannya itulah yang membuat pemain sayap dan gelandangnya mendapatkan ruang di sepertiga akhir pertahanan lawannya.

Tapi kecenderungan Mertens bergerak lebih ke arah kiri. Hal itu karena kecenderungan serangan Napoli sering dilancarkan melalui sisi tersebut yang dimotori Faouzi Ghoulam dan Lorenzo Insigne. Di sisi kanan, Jose Callejon mendapatkan ruang untuk masuk ke dalam kotak penalti dan menyelesaikan peluang saat mendapatkan umpan terobosan dari sisi kiri maupun tengah.

Napoli dominan menyerang lewat sisi kiri

Sistem lain yang tidak kalah penting dari serangan Napoli adalah soal penguasaan bola di setiap pertandingannya. Hal itu terjadi karena setiap pemain Napoli di lapangan jarang berlama-lama menahan atau menguasai bola. Pemain yang paling sering melakukan dribel sukses itu adalah Allan Marques dan Mertens.

Masing-masing pemain itu mampu melakukan 1,5 dribel sukses perlaga. Allan melakukan dribel wajar karena ia adalah pemain pertama selain Jorginho yang mendapatkan umpan pendek dari lini belakang. Apalagi ketika hendak melancarkan serangan balik, Allan perlu mengulur waktu agar rekan-rekannya naik ke area lawan. Sementara dribel sukses Mertens karena mengingat pergerakan dengan daya jelajah yang tinggi di sepertiga akhir pertahanan lawannya.

Sisanya, setiap pemain Napoli lebih sering melepaskan operan datar secara cepat untuk segera mungkin sampai ke pertahanan lawannya. Bahkan dengan umpan-umpan pendek dan penguasaan bola yang sulit direbut lawan, saat ini Napoli menjadi kesebelasan dengan jumlah operan terbanyak per laga di Eropa, 740 operan per 90 menit. Jumlah tersebut lebih tinggi dari PSG (683 operan per laga) dan Borussia Dortmund (670 operan per laga).

Operan-operan cepat itulah yang membuat gaya permainan Napoli layaknya tiki-taka Barcelona. Napoli mampu menguasai pertandingan melalui gaya permainan itu sehingga menjadi kesebelasan dengan penguasaan bola terbanyak di Serie-A sejauh musim ini. Rataan penguasaan bola Napoli di setiap laganya menembus angka 59,7%. Rasio itu mengalahkan Juventus (58,5%), AC Milan (57,7%), Internazionale Milan (56,3%) dan AS Roma (54,7%).

Penguasaan bola melalui operan-operan pendek tentu didukung dengan akurasi umpan yang akurat. Napoli jugalah yang menjadi kesebelasan paling akurat dalam melakukan operan-operannya. Akurasi mereka mencapai 88,9%, sama dengan Juventus (88,9%), Napoli unggul dari Milan (87,5%), Inter (86,6%) dan Roma (86,4%) dalam dominasi penguasaan bola di Serie-A 2017/2018 sejauh ini.

Bahkan akurasi operan Napoli adalah yang tertinggi kedua di antara lima liga top Eropa musim ini. Akurasi umpan mereka cuma kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) dengan rasio 90,2%. Tapi akurasi umpan mereka mampu mengalahkan Manchester City (88,6%) dan Barcelona (88,4%).

Akurasi umpan tinggi jugalah yang membuat Napoli sampai berani melakukan operan-operan pendek meski di dalam kotak penalti lawannya. Atas akurasi umpan keunggulan penguasaan bola itulah yang membuat Napoli sanggup mencetak 15 gol open play pada musim ini.

Sementara ketika bertahan, Napoli masih tetap mengandalkan middle block untuk mendapatkan bola lebih cepat di lini tengah. Persoalan itu menjadi tanggung jawab para gelandangnya, terutama duet Allan dan Jorginho. Kedua gelandang melancarkan pressing agresif ketika lawan yang menguasai bola masuk ke dalam wilayah Napoli.

Aktifnya Allan dan Jorginho dalam mencari bola, membuat bek Napoli lebih tenang dalam menggalang pertahan. Serangan pun bisa cepat dibangun kembali ketika mereka berdua lebih dahulu mencuri bola. Sampai pada akhirnya bola berhasil sampai di wilayah lawan melalui operan-operan pendek kesebelasannya. Hal itulah yang membuat lawannya terjebak di wilayahnya sendiri dan Napoli sering memenangkan penguasaan bola di setiap pertandingannya.

Sistem permainan seperti itu jugalah yang membuat Napoli menjadi kesebelasan paling produktif mencetak gol dalam tujuh pertandingan Serie-A 2017/2018. Gaya permainan yang sebetulnya masih sama diterapkan Sarri seperti musim-musim sebelumnya jugalah yang membuat Mertens masih terasa dimanjakan untuk terus mencetak gol. Selain itu, faktor yang membuat mereka semakin baik adalah kepaduan skuatnya karena tidak banyak bongkar pasang pemain pada bursa transfer musim panas lalu.

Komentar