Perlahan, Kelelawar Hitam Mulai Terbang Tinggi

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Perlahan, Kelelawar Hitam Mulai Terbang Tinggi

Dalam dua musim terakhir, Stadion Mestalla menjadi tempat yang jarang memancarkan aura kehidupan. Bukan karena tempat ini menjadi kandang dari tim berjuluk "Kelelawar Hitam" bernama Valencia, melainkan capaian yang ditorehkan oleh sang empunya kandang tidak terlalu moncer di La Liga. Namun memasuki musim 2017/2018, "Kelelawar Hitam" mulai menggeliat.

Pada musim 2016/2017, Valencia mengalami sedikit guncangan. Setelah berganti-ganti pelatih pada musim tersebut, mulai dari Pako Ayesteran sampai Salvador Gonzales, tim yang pernah mencicipi partai final Liga Champions pada 2001 silam ini harus tercecer ke peringkat ke-12 klasemen akhir La Liga 2016/2017.

Raihan yang Valencia capai pada musim 2016/2017 ini tidaklah lebih baik dari raihan yang mereka torehkan pada musim 2015/2016. Dengan skema yang hampir serupa (pergantian pelatih lebih dari sekali), pada musim tersebut Los Che juga mengakhiri musim di peringkat ke-12. Atas prestasi yang tidak meningkat selama dua musim ini, manajemen Valencia langsung melakukan perombakan besar-besaran mulai dari skuat sampai staf pelatih.

Hasilnya, Valencia sekarang boleh berbangga. Raihan tiga kali kemenangan dan tiga kali hasil imbang dari enam pertandingan menjadikan Valencia sebagai tim yang belum mengecap kekalahan di La Liga musim 2017/2018, bersama Barcelona dan Atletico Madrid. Ada beberapa hal yang menjadikan Valencia, sang "Kelelawar Hitam", sekarang ini bersiap untuk terbang tinggi lagi ke angkasa.

Perekrutan Marcelino Toral sebagai pelatih

Setelah jarang mendapatkan pelatih yang sifatnya tetap, manajemen Valencia langsung memutar otak untuk menentukan siapa yang akan menjadi pelatih Los Che untuk musim 2017/2018. Mereka akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Marcelino Garcia Toral, pelatih yang pernah berprestasi bersama Villarreal pada musim 2015/2016 silam.

Marcelino Toral bukanlah pelatih sembarangan di Spanyol. Ia pernah meraih trofi Miguel Munoz selama dua kali (penghargaan pelatih terbaik Spanyol versi Marca), serta pernah menjadi La Liga Manager of the Month pada September 2013 dan September 2015. Ia juga berpengalaman melatih klub-klub Spanyol lain, seperti Sevilla, Racing Santander, serta Real Zaragoza.

Pengalaman-pengalaman inilah yang menjadikan manajemen Valencia tidak ragu untuk merekrut Marcelino sebagai pelatih anyar Los Che. Ia diharapkan dapat membawa perubahan ke dalam permainan Valencia yang dalam dua musim kemarin sempat angin-anginan.

Gaya permainan yang lebih agresif

Jika pada dua musim sebelumnya Valencia bermain angin-anginan dan tidak memiliki skema yang jelas, di bawah asuhan Marcelino, Los Che menjadi lebih agresif, terutama ketika menyerang. Menggunakan formasi dasar 4-4-2, serangan dari sayap menjadi andalan dari Los Che, disertai dengan tempo yang tinggi dan umpan-umpan pendek menjadi kekhasan dari penyerangan Valencia pada musim 2017/2018 ini.

Dua fullback Valencia, Jose Gaya dan Martin Montoya adalah dua fullback yang cukup rajin membantu penyerangan daripada bertahan. Mereka kerap saling berkombinasi dengan dua pemain di posisi gelandang kiri dan tengah, yaitu Goncalo Guedes (atau Lato) maupun Carlos Soler. Tak heran mereka mencatatkan rataan umpan silang yang cukup tinggi di La Liga, yakni 15,5 umpan silang per pertandingan.

Pola serangan sayap Valencia, kombinasi antara gelandang sayap dengan fullback

Serangan sayap dari Valencia ini menjadi sedikit bervariasi karena adanya juga sokongan dari lini tengah. Baik itu Dani Parejo maupun Geoffrey Kondogbia kerap masuk menusuk dari tengah ketika pemain-pemain terpancing ke wilayah sayap. Santi Mina dan Simone Zaza juga kerap aktif bergerak ke sayap, sehingga Soler, Guedes, maupun Lato bisa memanfaatkan ruang kosong di tengah akibat dari gerakan bek yang tertarik oleh pergerakan Zaza atau Mina.

Dengan model serangan seperti ini, Valencia mampu menorehkan 12 gol dari enam pertandingan yang sudah mereka lalui dalam ajang La Liga Spanyol.

Moncernya penampilan pemain-pemain baru

Musim 2017/2018 ini Valencia kembali kedatangan beberapa pemain baru berstatus pinjaman. Ada nama Geoffrey Kondogbia, Jeison Murillo, serta Goncalo Guedes yang datang ke Mestalla sebagai pemain pinjaman. Mereka semua mampu berkontribusi dengan baik bagi Los Che sejauh enam pertandingan ini di La Liga.

Kondogbia menjelma menjadi gelandang box-to-box yang mumpuni di lini tengah Valencia. Selain mampu mendistribusikan bola di tengah (rataan umpan suksesnya sebesar 89%, tertinggi keempat di Valencia), ia juga mampu membantu pertahanan dengan baik. Total 3,2 tekel per pertandingan (tertinggi kedua di Valencia) serta 1,8 intersep per pertandingan (tertinggi keenam di Valencia) menjadikannya sebagai salah satu gelandang mumpuni di Los Che.

Jeison Murillo juga menjadi bek yang cukup baik dalam soal menggalang lini pertahanan Valencia (total rataan 1,8 tekel, 0,8 intersep, serta 4,3 sapuan bola per pertandingan). Ada juga nama Goncalo Guedes yang aktif berkontribusi dalam penyerangan dengan total rataan 1,5 kali umpan kunci dan 1,8 usaha dribel per pertandingan (tertinggi keenam di Valencia).

Kondogbia, pemain baru Valencia (hasil pinjam Inter Milan) yang tampil moncer bersama Los Che

Selain mereka, ada juga nama Toni Lato, Neto, serta Carlos Soler yang tampil cukup gemilang. Terkhusus untuk Soler, ia menjadi salah satu pengepul asis terbanyak untuk Valencia dalam ajang La Liga 2017/2018. Total ia sudah mencatatkan empat asis bagi Los Che dalam ajang La Liga.

Moncernya penampilan pemain-pemain baru ini, ditambah dengan skema anyar dari pelatih Marcelino membuat Valencia tampak bertaji untuk mengarungi musim 2017/2018.

Kelemahan yang masih tampak di Valencia

Meski mampu tampil lebih baik, bukan berarti Valencia tidak ada cela. Dari lima gol yang sudah bersarang ke gawang mereka, yang paling sering terjadi adalah lemahnya Valencia dalam antisipasi serangan dari sayap. Ini tak lepas dari aktifnya dua fullback mereka dalam maju membantu serangan. Ditambah lagi dukungan dari lini tengah yang kurang, membuat sisi sayap kerap dieksploitasi lawan.

Dari sayap inilah, kebobolan Valencia kerap terjadi. Tiga dari lima gol yang bersarang di gawang Neto berasal dari serangan di sisi sayap. Jika hal ini tidak dibenahi oleh Marcelino, maka ini akan menjadi kelemahan tersendiri bagi Valencia.

***

Liga baru dimulai. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi bagi Valencia sampai akhir musim nanti. Belum lagi jika menghitung pemain-pemain yang cedera atau pemain-pemain yang absen karena akumulasi kartu. Hal itu akan menjadi sebuah ujian tersendiri bagi Marcelino dalam meracik skuat Valencia, meski Los Che diuntungkan dengan tidak tampil di kompetisi Eropa, baik itu Liga Europa maupun Liga Champions.

Jika mampu terus tampil konsisten, bukan tidak mungkin Valencia akan menjadi ancaman serius bagi tim-tim papan atas La Liga macam Barcelona, Real Madrid, maupun Atletico Madrid. Mereka sudah punya bekal yang baik, yakni pelatih dan pemain yang mumpuni. Kalau mampu dimanfaatkan dengan baik, maka itu akan menjadi senjata utama mereka musim 2017/2018 ini.

foto: @valenciacf

Komentar