Guncangan-guncangan di Dalam Tubuh Crystal Palace

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Guncangan-guncangan di Dalam Tubuh Crystal Palace

Crystal Palace mungkin bukanlah klub besar Inggris layaknya Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, ataupun Manchester City. Namun jika mereka kerap mengalami guncangan di dalam klubnya, tentu ada hal yang patut dipertanyakan dari klub tersebut.

Per awal musim 2017/2018, Crystal Palace menghadapi sesuatu yang cukup pelik. Dari lima laga awal yang sudah mereka jalani, mereka sama sekali tidak bisa mencetak gol ke gawang lawan. Mereka malah kebobolan delapan gol. Mungkin sekilas terlihat normal, tapi jika melihat total chances created mereka yang mencapai angka 49, hal tersebut tentu menjadi pertanyaan tersendiri.

Bukan hanya soal kemandulan tim secara keseluruhan, namun salah satu pemain mereka yang cukup aktif mencetak gol di musim 2016/2017, Christian Benteke, sama sekali tidak bisa mencetak gol sampai pekan kelima ini. Akibat dari hal ini, Crystal Palace pun mengalami guncangan, dan membuat mereka berada di posisi papan bawah Liga Primer musim 2017/2018.

Apa yang terjadi dengan Crystal Palace? Bisa saja ini disebabkan oleh hal-hal berikut.

Pergantian manajer yang cukup rutin`

Di dalam sebuah tim, terutama di Inggris, peran manajer tidak bisa dinafikan begitu saja. Ia adalah orang yang menentukan taktik, skema, dan rencana apa saja yang akan diterapkan di lapangan (hasil diskusi dengan tim pelatih). Bukan hanya itu, peran manajer juga menjadi semakin penting tatkala mereka harus bisa menjaga mood para pemain agar tetap bagus dari satu pertandingan ke pertandingan lain.

Untuk mencapai hal tersebut, manajer butuh waktu untuk mengintegrasikan segala pemikiran dan keinginannya ke dalam tim. Memang dalam prosesnya terkadang ada ketidaksepahaman, karena manajer dan pemain terkadang memiliki ego yang mungkin sama-sama tinggi. Inilah yang kadang menjadi satu faktor manajer dipecat lebih cepat di sebuah tim, selain hasil yang memang kerap menjadi patokan pemecatan seorang manajer. Inilah yang terjadi di Crystal Palace.

Dalam kurun waktu pertengahan 2016 sampai pertengahan 2017 sekarang, Palace tercatat sudah empat kali berganti manajer. Nama Alan Pardew, Sam Allardyce, Frank de Boer, sampai sekarang Roy Hodgson adalah nama-nama yang pernah (atau sedang) menjadi manajer Crystal Palace. Tiap manajer tersebut tentunya membawa gaya bermain dan gaya manajerial yang berbeda-beda.

Pardew dan Allardyce yang kental dengan gaya ke-Inggris-annya menerapkan gaya bola-bola panjang dan juga permainan fisikal. Meski Pardew gagal menerapkannya dan ia dipecat pada Desember 2016 silam, Allardyce berhasil meneruskannya dan membawa Palace keluar dari zona degradasi pada akhir musim 2016/2017.

Lalu, datanglah Frank de Boer pada awal musim 2017/2018. Berjanji mengusung gaya permainan baru a la total football yang pernah ia terapkan di Ajax, nyatanya De Boer tidak bertahan lama di Selhust Park. Empat pertandingan dan empat kekalahan menjadi rekor yang manajer asal Belanda tersebut torehkan di Palace.

Empat pertandingan, empat kekalahan. Rekor De Boer di Palace

Sebenarnya dari segi permainan, apa yang De Boer inginkan sudah tampak di klub berjuluk The Eagles tersebut. Total 36 kali chances created dari empat pertandingan yang dijalani Palace di ajang Liga Primer. Namun dari segi akurasi tembakan dan juga gol yang tercipta, Palace justru mencatatkan yang terburuk. Persentase 33% akurasi tembakan berhasil, serta tidak ada satu gol pun yang tercipta membuat kapasitas De Boer dipertanyakan. Apalagi ia disinyalir punya hubungan yang buruk dengan pemain dan manajemen.

Baca Juga: Akhir Kisah Frank de Boer di Liga Primer bersama Crystal Palace

Akhirnya, meski sempat membawa perubahan dalam permainan Crystal Palace, De Boer dipecat. Sekarang, Roy Hodgson kembali turun gunung menangani Palace usai kegagalan dirinya membawa Inggris berprestasi dalam ajang Piala Eropa 2016. Gaya permainan fisikal dan bola-bola panjang bisa saja kembali ia terapkan, serupa dengan yang pernah diterapkan oleh Pardew dan Allardyce dulu.

Hasilnya memang belum tampak, tapi dengan budaya para pemain Palace yang memang terbiasa dengan gaya otoriter manajer Inggris dalam diri Pardew dan Allardyce, bisa saja Hodgson membawa perubahan.

Para pemain yang tampil tidak maksimal

Salah satu yang juga bisa saja menjadi faktor melempemnya penampilan Palace pada awal musim 2017/2018 ini adalah kurang maksimalnya performa pemain-pemainnya. Salah satu yang cukup disorot adalah mandulnya Christian Benteke, penyerang yang pada musim 2016/2017 berhasil menorehkan 17 gol untuk Palace di semua kompetisi (15 di antaranya dicetak di ajang Liga Primer).

Dari lima pertandingan yang sudah dijalani oleh Benteke di ajang Liga Primer bersama Crystal Palace, ia sama sekali belum mencetak satu gol pun. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, kenapa Benteke bisa semandul ini?

Ada beberapa sebab kenapa Benteke bisa mandul seperti ini. Namun yang paling kentara adalah perihal gaya main. Gaya main De Boer yang menitikberatkan pada umpan-umpan pendek dan juga permainan cepat membuat fungsi dari Benteke menjadi tidak termaksimalkan dengan baik.

Benteke yang belum menemukan gol sampai lima pertandingan awal Liga Primer

Dengan postur jangkungnya, penyerang asal Belgia tersebut lebih cocok dengan gaya umpan panjang dan permainan fisikal a la Inggris seperti yang diterapkan Pardew dan Allardyce. Ini juga yang sempat menjadi alasan Benteke terdepak dari skuat Liverpool yang dilatih Juergen Klopp, yang mengutamakan gegenpressing dan umpan-umpan pendek cepat.

Terlepas dari situasi dan kondisi tim yang tidak kondusif semasa De Boer masih menjadi manajer, yang juga kemungkinan besar memengaruhi performa dari pemain-pemain lain, perbedaan gaya main ini menjadi faktor krusial kenapa Benteke tidak segarang musim 2016/2017. Dengan Hodgson yang sekarang menjadi manajer baru, dengan gaya a la Inggris yang fisikal dan mengandalkan bola panjang, Benteke bisa saja menjadi garang kembali.

***

Goncangan pasti akan terjadi di setiap kesebelasan yang mengarungi sebuah kompetisi berformat liga. Kompetisi yang panjang ini menuntut konsistensi serta ketahanan selama satu musim penuh dari elemen kesebelasan semisal pemain, manajer, serta manajemen. Agar hal ini bisa dilakukan, maka dibutuhkan harmonisasi di dalamnya.

Crystal Palace masih bisa merangkak naik di sisa kompetisi musim 2017/2018 ini. Selain mengganti manajer, mereka juga harus mulai menemukan fondasi yang cocok, agar kelak meski manajer kembali berganti, akan tetap ada hal yang bisa menjadi dasar dan patokan yang membuat kesebelasan ini tahu ke arah mana mereka melangkah. Meski berstatus kesebelasan kecil, jika dasar dan fondasi itu ada, mereka akan tetap mampu bersaing di Liga Primer.

Toh bukankah Crystal Palace sempat dikenal sebagai klub yang mampu merepotkan klub-klub top flight (papan atas) Liga Primer semisal Chelsea, Liverpool, Manchester United, ataupun Arsenal?

Komentar