Aliran Serangan Liverpool Terhambat oleh Pressing Agresif Manchester City

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Aliran Serangan Liverpool Terhambat oleh Pressing Agresif Manchester City

Manchester City berhasil mengamankan tiga poin saat jumpa Liverpool pada pertandingan keempatnya di Liga Primer Inggris. Bermain di Etihad Stadium, Sabtu (9/9), City tampil ganas dengan menggulung Liverpool lima gol tanpa balas. Gol City dicetak oleh Sergio Aguero, Gabriel Jesus (dua gol), dan Leroy Sane (dua gol).

Dalam laga tersebut City tetap konsisten menerapkan formasi 3-5-2. Walau tanpa Vincent Kompany, Joseph Pep Guardiola tetap mampu menerapkan pola tersebut dengan menempatkan trio Danilo, John Stones, dan Otamendi. Trio lini serang Liverpool yang diisi Firmino-Mane-Salah pun berhasil dibuat tak berdaya.

Pressing Agresif dan Kemenangan Lini Tengah City

Rapatnya pertahanan City yang menerapkan tiga bek sejajar membuat The Reds kesulitan untuk masuk ke area 16 City. Trio lini belakang City tampil disiplin, mereka jarang naik ke depan sehingga membuat pergerakan lini serang Liverpool terbatas untuk melakukan kreasi serangan.

City juga berhasil menguasai lini tengah. Lima gelandang mereka mampu meredam distribusi bola lini tengah Liverpool. Dengan pressing sejak pemain bertahan Liverpool menguasai bola pun membuat Liverpool kesulitan untuk membangun serangan. Secara keseluruhan, lini tengah City berhasil memenangkan duel.

Trio Emre Can, Jordan Henderson, dan Giorgino Wijnaldum lebih jarang terlibat membangun serangan karena Liverpool akhirnya banyak melepaskan umpan direct ke flank. Bahkan Liverpool sempat memforsir kecepatan Mohamed Salah yang kerap memenangkan duel sprint dengan Otamendi.

Sebaliknya, pressing agresif City berbuah gol pada menit 24. Berawal dari tendangan gawang Mignolet yang mampu di-block pemain belakang City, bola kemudian mengarah kepada Kevin de Bruyne yang langsung memberikan trough pass kepada Sergio Aguero, yang tanpa ampun menceploskan bola ke gawang Mignolet. Pergerakan tanpa bola Aguero tak disadari pemain belakang Liverpool, yang membuat penyerang Argentina itu leluasa melakukan solo run hingga kotak penalti. Ia langsung mengecoh Mignolet sebelum akhirnya menceploskan bola ke gawang Liverpool.

Situasi semakin tidak menguntungkan bagi Liverpool terjadi pada menit 36, dalam upaya mereka mencetak gol penyama kedudukan, Sadio Mane justru mendapat kartu merah setelah dianggap melakukan pelanggaran keras kepada penjaga gawang City, Ederson Moraes. Unggul jumlah pemain dimanfaatkan City untuk membombardir pertahanan Liverpool, khususnya melalui sektor sayap.

Kelemahan barisan belakang Liverpool dalam mengantisipasi bola silang terlihat jelas, saat Gabriel Jesus mencetak gol setelah menerima umpan silang De Bruyne dari sisi kiri pertahanan The Reds. Beruntung gol tersebut dianulir karena Jesus telah terlebih dulu berada dalam posisi offside. Namun skema yang sama (umpan silang) akhirnya berbuah gol pada menit 50, lagi-lagi De Bruyne yang kali ini mengirim umpan silang dari sisi kanan pertahanan Liverpool, bola berhasil ditanduk Jesus untuk membawa City unggul 2-0.

Liverpool Lempar Handuk di Babak Kedua

Tertinggal dua gol, pada babak kedua Klopp kemudian memasukkan Alex Oxlade-Chamberlain yang masuk menggantikan Mohamed Salah. Keputusan yang agak mengherankan, mengingat Salah tampil sangat baik pada babak pertama. Masuknya pemain yang akrab disapa Chambo itu membuat Liverpool bisa beberapa kali mengancam pertahanan City pada awal babak kedua, namun tak ada satu pun yang berbuah gol.

Sebaliknya, City yang unggul jumlah pemain terus mencecar pertahan Liverpool dari berbagai lini. Pada menit 52, The Citizens semakin berada di atas angin setelah Jesus kembali mencetak gol untuk memperbesar keunggulan City menjadi 3-0, menerima umpan pendek Aguero yang berhasil merangsek ke kotak penalti Liverpool.

Rataan passing Manchester City dan Liverpool, sumber: Squawka

Setelah itu, The Reds seperti sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mengejar ketertinggalan atau malah memenangkan pertandingan. Minim sekali peluang yang mereka dapatkan, selain itu pertandingan juga praktis sudah dikuasai secara absolut oleh City. Tak lagi memiliki harapan, membuat Liverpool seolah mengindikasikan bahwa mereka juga sudah tidak terlalu memperdulikan hasil pertandingan tersebut.

Buktinya, satu pergantian terakhir justru dimanfaatkan Klopp untuk memasukkan Dominic Solanke menggantikan Roberto Firmino. Padahal di bench pemain masih ada sosok Daniel Sturridge yang setidaknya bisa diharapkan untuk membuat kondisi sedikit membaik bagi mereka. Liverpool sudah lempar handuk pada babak kedua ini (menyimpan tenaga pemainnya untuk Liga Champions?).

Peta peluang Manchester City dan Liverpool, sumber: Squawka

Apalagi pada menit 77 dan 91 mereka juga malah kembali kebobolan melalui aksi Leroy Sane, yang membuat Liverpool dipastikan kalah dengan skor telak 5-0. Semakin mempertegas bagaimana rapuhnya lini pertahanan Liverpool, karena selain lemah dalam mengantisipasi bola silang, beberapa umpan terobosan yang dialirkan City juga kerap kali membuat mereka kelimpungan.

Wajar tidak wajar sebenarnya. Tapi, mengingat pada pekan depan mereka akan berhadapan melawan Sevilla di laga awal Liga Champions Grup E, mengamankan tiga poin pertama di Liga Champions tampaknya menjadi opsi paling realistis bagi Liverpool. Oleh karena itu beberapa pilar andalan seperti Salah dan Firmino langsung diganti agar lebih maksimal di laga melawan Sevilla.

Komentar