Peran Penting Ezechiel N`Douassel untuk Persib Bandung

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Peran Penting Ezechiel N`Douassel untuk Persib Bandung

Mengawali putaran kedua Liga 1 Indonesia 2017, Persib Bandung menunjukkan performa impresif. Dari lima pertandingan yang telah dilakoni, klub berjulukan Maung Bandung itu berhasil melewatinya tanpa sekalipun menelan kekalahan. Pada pertandingan pertama di putaran dua, tiga poin langsung didapatkan Persib saat menjamu PS TNI di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung. Saat itu Persib berhasil menang dengan skor 3-1.

Performa impresif Maung Bandung berlanjut saat mereka berhasil menahan imbang Arema FC (tandang), menggilas Persegres Gresik United 6-0 (kandang), dan bermain imbang 0-0 saat bertandang ke Stadion Mandala untuk meladeni tuan rumah Persipura Jayapura. Tak sampai di situ, pada pertandingan terakhirnya saat dijamu Sriwijaya FC di Stadion Jakabaring, Palembang, Senin (4/9) Persib kembali menunjukkan dominasinya dengan menggulung tim tuan rumah dengan skor telak 4-1.

Dari total lima pertandingan tersebut Persib sukses mengumpulkan 11 poin, yang kemudian menggenapkan perolehan poin mereka menjadi 32 dari 22 laga yang telah mereka lakoni di kompetisi. Hasil tersebut membuat Maung Bandung saat ini menduduki posisi 9 di klasemen sementara Liga 1 Indonesia 2017.

Bila melihat apa yang dicapai Atep dan kawan-kawan saat ini, tentu terlihat adanya perbaikan besar yang telah mereka lakukan. Melihat perjalanan Persib sebelumnya, khususnya di putaran pertama, performa Persib bisa dibilang sangat mengkhawatirkan. Maung Bandung yang dihuni oleh banyak pemain bintang dengan kualitas mumpuni seakan kesulitan untuk meraih kemenangan.

Terlebih saat akhir putaran pertama lalu, setelah mengalahkan PSM Makassar 2-1 di pekan ke-12, Persib langsung melempem dengan melakoni lima pertandingan pamungkas di putaran pertama dengan tanpa sekalipun meraih kemenangan. Akibatnya posisi mereka terus melorot hingga ke papan bawah, bahkan nyaris mencapai zona degradasi.

Kondisi semakin sulit setelah Djajang Nurdjaman memutuskan mundur dari jabatannya sebagai pelatih kepala seusai Persib ditaklukkan Mitra Kukar 1-2 di Stadion Aji Imbut, Tenggarong pada pekan ke-15. Posisi Djadjang kemudian diambil alih oleh Herrie Setyawan yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Pelatih. Herrie mengemban tugas yang cukup berat kala itu, karena dituntut mampu memperbaiki performa Persib.

Tapi Herrie bukanlah pesulap, butuh proses baginya untuk bisa kembali mengangkat performa tim ini. Dua laga di akhir putaran pertama dilakoni dengan hasil yang kurang baik, satu imbang dan satu kalah harus diderita tim juara Liga Super Indonesia 2014 itu.

Namun saat memasuki jeda sebelum bergulirnya putaran kedua Liga 1, Persib berbenah dengan menambah amunisi anyar. Di sektor belakang Purwaka Yudhi kembali direkrut. Di sektor depan penyerang asing asal Chad, Ezechiel N’Douassel, diproyeksikan sebagai pengganti Carlton Cole yang didepak.

Dibandingkan dengan Purwaka, kehadiran Ezechiel tentu mendapat atensi yang lebih banyak dari publik sepakbola nasional, khususnya bobotoh sebagai loyalis Maung Bandung. Maklum Persib seringkali beralasan bahwa faktor penyebab buruknya performa mereka di putaran kedua Liga 1 karena tumpulnya lini depan Persib. Saat pengumuman mundur, Djadjang juga mengakui hal tersebut.

Sebenarnya Persib memiliki Sergio van Dijk, Carlton Cole, dan Angga Febryanto sebagai penyerang murni. Namun Sergio akhirnya harus menepi karena mengalami cedera, sementara Cole dianggap performanya tidak sesuai dengan harapan, sementara Angga dianggap masih terlalu hijau bila paksakan untuk menjadi satu-satunya andalan di lini depan Persib.

“Faktor mencolok dari kegagalan Persib kali ini adalah saya tidak bisa menghadirkan sosok striker yang bisa mengangkat performa tim. Kami punya dua yang seharusnya bisa diandalkan, Sergio van Dijk dan Carlton Cole. Tapi, Sergio cedera dan Cole di luar ekspektasi. Itu adalah tanggung jawab saya, ini mutlak kesalahan saya," ungkap Djadjang kala itu.

Apa yang dikatakan Djanur itu diimplementasikan dengan perekrutan Ezechiel N`Douassel. Ia merupakan pemain asing dengan rekam jejak yang bagus, karena pernah bermain di kompetisi utama Tunisia, Perancis, dan terakhir Israel bersama Hapoel Tel Aviv.

Namun masalahnya ini adalah pengalaman pertamanya bermain di Indonesia. Beberapa pihak mungkin merasa was-was, takutnya Ezechiel tidak sesuai harapan. Tapi Ezechiel begitu optimistis bahwa kehadirannya bisa membawa pengaruh baik bagi Persib, targetnya tidak main-main, saat kedatangannya ia ingin membawa Persib duduk di posisi tiga besar saat akhir kompetisi nanti.

Apa yang dikatakannya pada saat itu nyatanya bukan sekadar keinginan utopis. Ezechiel kemudian menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang jempolan. Memulai debut di laga melawan Arema FC, saat itu ia datang sebagai pemain pengganti setelah Tantan mengalami cedera. Tidak ada gol yang berhasil diciptakannya namun ia berhasil membuat lini serang Persib menjadi lebih agresif.

Dari gaya bermain yang ditunjukkannya, Kapten timnas Chad itu bukan tipikal penyerang yang senang menunggu bola. Dia bisa dibilang sebagai penyerang yang mau bergerak menjemput bola, memiliki mobilitas yang lincah dengan sokongan kecepatan yang dimilikinya. Selain itu dia juga licin dan sulit dikawal lawan.

Lebih dari pada itu, Ezechiel juga tidak hanya piawai dalam menjebol gawang lawan, tapi juga memiliki akurasi umpan yang sangat baik. Di laga melawan Persegres Gresik United misalnya, enam gol yang berhasil dikemas Persib di laga tersebut hampir semua berawal dari kreasinya. Ada tiga asis dan satu gol yang berhasil ia cetak.

Performa gemilang Ezechiel berlanjut di laga melawan Persipura dan terakhir Sriwijaya FC. Khususnya dalam laga melawan Sriwijaya, Eze sukses menciptakan satu gol dan satu asis untuk gol yang diciptakan oleh Michael Essien.

Ezechiel Tipikal Striker Idaman Djadjang Nurdjaman

Kehadiran Ezechiel tak bisa dimungkiri menjadi faktor penting yang membuat performa Persib di putaran dua Liga 1 menanjak pesat. Sebab jika diperhatikan, tidak ada perubahan permainan secara signifikan yang dilakukan Persib. Mereka tetap mengandalkan sisi sayap sebagai poros utama serangan mereka.

Satu hal lain, gaya permainan Persib musim ini sebenarnya sangat menyerang, mereka begitu agresif saat menguasai bola. Namun mereka kerap kali menemukan kebuntuan karena tidak adanya penyerang yang sesuai dengan skema permainan yang diinginkan. Jadi memang tidak salah juga bila pada saat itu Persib merasa kehilangan sosok penting di lini depan.

Namun sekarang semua tampak berbeda. Perbedaannya tentu setelah kehadiran Ezechiel yang mampu membuat pola permainan sayap Persib jadi lebih atraktif. Sebab Ezechiel tidak hanya berperan sebagai penyerang utama, ia juga sering bermain melebar ke sisi luar lapangan, yang memungkinkan pemain lainnya merangsek masuk dari lini kedua untuk ia layani dengan sebuah umpan silang.

Bisa dibilang Ezechiel adalah sosok penyerang idaman Djadjang Nurdjaman, pada awal musim Persib sempat mengincar beberapa pemain seperti misalnya Patrick Cruz dos Santos. Tersiar kabar bahwa mantan penyerang Mitra Kukar itu sudah sepakat bergabung. Namun pada akhirnya batal dan Patrick memilih bermain di Liga Vietnam. Melihat gaya permainan Patrick, ia setipe dengan Eze yang pandai bergerak menjemput bola.

Namun ketika Patrick gagal didatangkan, Persib kemudian harus memutar otak dengan memanfaatkan pemain yang ada. Sergio van Dijk yang merupakan penyerang ganas di kotak penalti kemudian diubah perannya, untuk tampil lebih sebagai pemantul, dan diharuskan juga bisa lebih banyak bergerak membuka ruang dan menjemput bola. Hal tersebut dilakukan Djadjang saat Persib tampil di Piala Presiden 2017 lalu.

"Sekarang, kadang saya banyak dapat umpan jauh dari belakang. Itu membuat saya harus kerja keras, untuk sundul, tahan bola, dan lebih banyak bergerak. Itu beda dari musim kemarin, tapi bagi saya itu tidak masalah badan saya memang diharuskan bermain bola. Saya pikir bagus juga seperti itu, tapi saya harus adaptasi lagi," kata Sergio beberapa waktu lalu.

Skema tersebut berjalan cukup baik sebelum akhirnya penyerang naturalisasi asal Belanda itu menepi karena mengalami cedera. Satu-satunya harapan Persib adalah Cole yang datang di awal musim. Namun ternyata pergerakan Cole jauh lebih lambat, karena ia memang bukan tipikal penyerang yang bisa leluasa bergerak menjemput bola seperti halnya peran baru Sergio atau kemampuan alami Ezechiel.

Maka bisa dikatakan, permainan Persib saat ini memang tak begitu berubah dibanding sebelumnya. Kehadiran Ezechiel yang menjadi pembeda. Bisa jadi jika Djanur masih bertahan di Persib dan memiliki penyerang seperti Ezechiel, nasibnya tidak senahas sekarang ini.

Komentar