Faktor-Faktor yang Membuat Inter Bisa Lebih Baik Bersama Spalletti

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Faktor-Faktor yang Membuat Inter Bisa Lebih Baik Bersama Spalletti

Musim 2016/2017 mungkin tak berakhir indah bagi Internazionale Milan. Mereka harus puas finis di urutan ke-7 klasemen akhir. Posisi tersebut menggagalkan mereka untuk berlaga di kompetisi Eropa pada musim ini. Hasil yang sangat mengecewakan mengingat pada awal musim mereka sangat ambisius dalam perekrutan pemain.

Saat itu, Inter menghabiskan 157 juta euro untuk perekrutan (juga pelunasan) pemain. Tapi pemain-pemain anyar seperti Gabriel Barbosa, Christian Ansaldi, dan Joao Mario gagal termaksimalkan potensinya. Hanya Antonio Candreva dan Roberto Gagliardini sebagai pemain baru tapi cukup berkontribusi besar.

Meski begitu, Inter musim lalu sebenarnya sempat merangsek ke papan atas. Saat itu Inter sudah ditangani Stefano Pioli meraih kemenangan tujuh kali secara beruntun. Tapi memasuki putaran kedua, Inter mulai menurun. Puncaknya Inter tak menang pada pekan ke-29 hingga 36. Karena itulah Pioli dipecat.

Musim ini, kursi kepelatihan dipegang oleh Luciano Spaletti. Lantas bagaimana gambaran nasib Inter Milan bersama mantan pelatih AS Roma tersebut? Berdasarkan pengamatan kami, Inter bersama Spaletti cukup menjanjikan pada musim ini.

Memperbaiki Pertahanan

Lini pertahanan menjadi masalah besar Inter pada musim lalu. Walau tidak seburuk musim 2011-2012 dan 2012-2013 di mana Inter kebobolan lebih dari 50 gol, catatan kebobolan 49 kali pada musim lalu merupakan yang terburuk dalam empat musim terakhir. Cukup aneh bagi Inter yang masih mengandalkan salah satu kiper terbaik Serie A, Samir Handanovic.

Lini pertahanan yang keropos itu menjadi celah pada lini serang Inter yang tampil trengginas. Meski gagal berprestasi, nyatanya Inter punya lini serang yang cukup tajam. Total skuat berjuluk Nerazzurri tersebut mencetak 72 gol. Jumlah tersebut memang lebih sedikit dari Napoli (94), Roma (90), Juventus (77) dan Lazio (74). Tapi total 72 gol tersebut merupakan yang terbanyak bagi Inter Milan dalam tujuh musim terakhir.

Terakhir kali Inter mencetak lebih dari 70 gol dalam satu musim Serie A adalah pada 2009/2010. Saat itu Inter yang ditukangi Jose Mourinho mencetak 75 gol dan hanya kebobolan 34 kali. Ketika itu memang merupakan masa keemasan Inter karena berhasil meraih treble winners.

Maka dari itu, sebenarnya lini serang Inter musim lalu sudah cukup kompetitif. Hanya saja masalah di lini pertahanan menjadi batu sandungan. Karena itulah aktivitas transfer Inter pada musim ini cenderung memperkuat sektor pertahanan. Milan Skriniar dan Dalbert adalah dua penggawa anyar di lini pertahanan. Gelandang yang baru direkrut pun, Borja Valero dan Matias Vecino, merupakan gelandang yang cukup baik dalam bertahan. Keduanya merupakan double pivot andalan Fiorentina. Inter juga merekrut Daniele Padelli untuk menjadi pelapis Handanovic, menggantikan Juan Pablo Carrizzo yang kontraknya tak diperpanjang.

Untuk sektor pertahanan, dari para pemain anyar tersebut tampaknya Dalbert akan punya peranan besar bagi peningkatan kualitas pertahanan Inter musim 2017/2018. Musim lalu, full-back kiri Inter seperti Yuto Nagatomo dan Ansaldi memang tampil di bawah harapan. Karenanya kedatangan Dalbert yang direkrut dari Nice akan sangat menentukan kualitas pertahanan Inter.

Bersama Spalletti, Interisti boleh berharap besar Dalbert bisa disulap jadi bek kiri jempolan meski ia belum punya nama besar. Di Roma musim lalu, pelatih berusia 58 tahun itu berhasil memoles Emerson Palmieri menjadi salah satu bek yang cukup agresif dalam menyerang tapi juga kuat dalam bertahan. Buktinya Roma hanya kebobolan 38 kali saja, tersedikit kedua setelah Juventus.

Bagaimana dengan Skriniar? Skriniar memang punya potensi besar. Tapi bek asal Slovenia ini tampaknya masih akan berebut tempat dengan Jeison Murillo. Duet Murillo-Joao Miranda sendiri sebenarnya masih cukup kokoh karena pengalaman yang dimiliki keduanya. Tinggal dukungan dari sektor lain, full-back dan gelandang yang bisa meningkatkan kualitas mereka. Apalagi Miranda yang sebelum bergabung ke Inter merupakan bagian penting tembok kokoh Atletico Madrid.

Mungkin idealnya Inter menggunakan skema tiga bek agar Murillo-Miranda-Skriniar bisa dipasang bersamaan, mengingat harga beli Skriniar cukup mahal (23 juta euro). Bagi pelatih seperti Spalletti, yang saat bermain merupakan pemain bertahan, hal itu sebenarnya tak masalah karena Roma musim lalu pun beberapa kali menggunakan skema tiga bek. Tapi di Inter, skema tiga bek tampaknya tidak disiapkannya karena Inter justru menjual Gary Medel, gelandang yang sering dipasang sebagai bek tengah dalam skema tiga bek Inter.

Permainan Menyerang Inter Bersama Spalletti

Hal lain yang cukup menjanjikan dari Spalletti adalah filosofi menyerangnya. Setiap tim yang diasuhnya, punya gaya permainan yang atraktif saat menyerang. Musim lalu Roma berhasil mencetak 90 gol, terbanyak kedua di Serie A setelah Napoli. Jika dihitung dengan satu setengah musim terakhirnya di Roma, mantan pelatih Udinese tersebut total mencatatkan 2,4 gol per pertandingan.

Selama di Roma, Spalletti sangat fasih mengandalkan skema dasar 4-2-3-1 atau 4-2-3-1. Skema ini cukup akrab dengan para pemain Inter. Pola permainan menyerang mengandalkan kedua sayap untuk memaksimalkan penyerang tengah pun cukup mirip. Jika di Roma ia punya Edin Dzeko yang disokong Mohamed Salah dan Diego Perotti (atau Stephane El Shaarawy), di Inter ia punya Mauro Icardi yang ditemani oleh Ivan Perisic dan Antonio Candreva.

Dzeko musim lalu menjadi top skorer Serie A dengan 29 gol. Bersama Spalletti, Icardi bisa lebih tajam dari musim lalu di mana ia mencetak 24 gol. Salah yang musim lalu mencetak 15 gol pun berhasil mencetak 11 asis. Ini bisa menjadi angin segar bagi Candreva atau Perisic yang juga punya tipikal permainan tak jauh berbeda dengan winger asal Mesir tersebut.

Lalu jika di Roma musim lalu Radja Nainggolan punya peranan penting sebagai gelandang serang, ini bisa memunculkan harapan bagi Joao Mario. Sejak awal direkrut, Joao Mario memang bukan gelandang yang diharapkan bisa mencetak banyak gol bagi Inter. Tapi kreativitasnya dalam membangun serangan seharusnya bisa jauh lebih dimanfaatkan lagi. Karena dari itu, Spalletti bisa saja memainkan peran Nainggolan pada Mario (bahkan Marcelo Brozovic) musim ini. Musim lalu Nainggolan mencetak 11 gol dan lima asis. Torehan tersebut merupakan yang paling produktif sepanjang karier gelandang asal Belgia tersebut.

Kehadiran Valero juga merupakan bagian dari rencana perwujudan permainan menyerang Inter bersama Spalletti. Keunggulan gelandang asal Spanyol tersebut adalah visi bermainnya serta kemampuan melepaskan umpan panjang akurat. Total 10 asis musim lalu adalah bukti Valero bisa mendukung lini serang Inter. Pada pramusim, umpan-umpannya pun cukup memanjakan lini serang Inter.

***

Melihat komposisi musim ini, Inter mungkin belum siap bersaing dengan Juventus dan Napoli yang punya skuat juara di Serie A. Tapi berdasarkan analisis di atas, jangan heran jika nantinya Inter bisa bersaing untuk zona Liga Champions bersama Milan, AS Roma, dan Lazio. Bahkan selama pramusim sudah terlihat potensi Inter Milan, termasuk menyapu bersih seluruh laga pramusim dengan kemenangan (menghadapi Lyon, Bayern Muenchen, Chelsea, Villareal dan Real Betis). Musim lalu, dari delapan laga pramusim, Inter hanya meraih dua kemenangan dan menelan empat kekalahan.

Kemampuan dan pengalaman Spalletti tampaknya memberikan garansi bagi keberhasilan (lolos ke Liga Champions) Inter musim ini. Bagaimanapun, Spalletti merupakan pelatih papan atas Italia. Dalam 10 musim terakhir, tim yang diasuhnya mayoritas berada di tiga besar liga. Hanya sekali, yakni pada 2008/2009, Spalletti mengakhiri musim di luar tiga besar, yakni posisi keenam.

Spalletti juga meninggalkan Roma bukan karena dipecat karena kegagalannya mengantarkan Roma menjadi juara, melainkan karena adanya masalah dalam internal Roma. Oleh karena itu, Spalletti rasanya akan menjadi sosok yang tepat bagi Inter yang tengah membangun kembali mentalitas pemenang mereka. Walau tidak juara musim ini, Inter rasanya bisa memberikan perlawanan pada kesebelasan-kesebelasan papan atas Serie A dalam perebutan tiket Liga Champions.

Komentar