Borussia Dortmund dan Tantangan yang Seharusnya Bisa Mereka Lalui

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Borussia Dortmund dan Tantangan yang Seharusnya Bisa Mereka Lalui

Pada musim 2016/2017, bisa dibilang Borussia Dortmund sedikit mengalami kemunduran. Mereka tak lagi menjadi penantang serius Bayern München dalam ajang Bundesliga, kalah saing dengan RB Leipzig. Di ajang Liga Champions, mereka hanya sanggup menembus babak perempat final setelah disingkirkan oleh AS Monaco.

Cukup banyak masalah yang terjadi di tubuh Borussia Dortmund pada musim 2016/2017 silam. Performa yang tak kunjung meningkat, ditambah lagi dengan masalah internal yang dialami Thomas Tuchel dengan para penggawa Dortmund, membuat tim berjuluk Die Borussen ini sempat tampil melempem pada ajang Bundesliga 2016/2017.

Sekarang, Dortmund berada di bawah arahan pelatih anyar asal Belanda, Peter Bosz. Pelatih yang cukup lihai dalam memaksimalkan talenta-talenta muda ini (seperti yang ia lakukan di Ajax Amsterdam) dipercaya akan memberikan sentuhan baru dalam permainan Borussia Dortmund, yang memang berisikan banyak pemain muda.

Namun, bukan berarti tantangan tidak menanti mereka di depan, apalagi jika mereka masih ingin menggusur dominasi Bayern München di Bundesliga yang sudah bertahan cukup lama. Namun, dengan kekuatan mereka yang sekarang, seharusnya tantangan itu bisa mereka lalui.

Kedalaman skuat Dortmund yang cukup

Mengarungi cukup banyak kompetisi pada musim 2017/2018 seperti DFB Pokal, Bundesliga, dan juga Liga Champions, Dortmund butuh kedalaman skuat yang cukup mumpuni. Pada musim 2016/2017, kedalaman skuat yang cukup mampu membuat Dortmund bersaing di banyak kompetisi yang mereka ikuti, meski pada akhirnya hanya trofi DFB Pokal-lah yang mereka dapat.

Untuk musim 2017/2018 ini, Dortmund sudah melakukan beberapa belanja pemain untuk memperkuat skuat mereka guna menjalani musim 2017/2018. Beberapa nama pun sudah mereka rekrut untuk memperkuat Die Borussen musim 2017/2018, seperti Omer Toprak, Mahmoud Dahoud, Maximillian Phillip, serta Dan-Axel Zagadou.

Nama-nama di atas akan berpadu dengan nama-nama semacam Sokratis Papastathopoulos, Gonzalo Castro, Christian Pulisic, serta Pierre-Emerick Aubameyang yang sudah ada di dalam skuat Dortmund. Kedatangan mereka akan memperkuat sekaligus menambah kedalaman skuat Dortmund yang akan mengarungi musim 2017/2018 dengan mengikuti banyak kompetisi, baik itu domestik maupun Eropa.

Menakar skema dan pemain mana yang akan cocok digunakan Bosz

Peter Bosz, pelatih anyar Dortmund, adalah pelatih yang cukup sering mengandalkan possession football. Pada masa-masanya di Ajax, ia kerap menggunakan possession football ini dalam beberapa pertandingan. Namun tampaknya, di Bundesliga, Bosz bisa saja menerapkan skema yang berbeda.

Dalam laga Piala Super Jerman menghadapi Bayern, ada sebuah statistik menarik yang muncul. Bosz yang kerap menerapkan skema possession football ini, seperti kala Ajax menghadapi Manchester United di partai final Liga Europa, justru menerapkan skema yang berbeda. Secara total penguasaan bola, pada pertandingan tersebut Die Borussen kalah dari Die Roten (48% berbanding 52%) . Dari segi penciptaan peluang, Dortmund pun kalah dari Bayern (sembilan berbanding 17 kali milik Bayern).

Namun, dari hasil 2-2 yang tercermin pada pertandingan tersebut, sebelum akhirnya Dortmund kalah lewat babak adu penalti, ada sebuah skema baru yang tampaknya akan digunakan oleh Bosz: skema serangan balik dan pressing sejak dari daerah pertahanan lawan. Dua dari gol yang ditorehkan Dortmund dalam laga tersebut masing-masing terjadi karena kesalahan umpan pemain Bayern serta serangan balik yang dilancarkan oleh para pemain Dortmund.

Jika melihat komposisi pemain yang ada di dalam tubuh Dortmund, sangat mungkin Bosz menerapkan skema serangan balik dan pressing sejak dari daerah pertahanan lawan ini. Khusus untuk pressing, para pemain Dortmund (terkecuali pemain anyar) sudah terbiasa akan hal tersebut. Ini sudah tertanam sejak Dortmund masih dilatih oleh Jürgen Klopp. Ada nama Mario Götze, Shinji Kagawa, Marco Reus, Nuri Sahin, Lukasz Piszczek, serta Aubameyang yang sudah pernah merasakan hal tersebut.

Aubameyang, salah satu sosok penting dalam urusan mencetak gol serta memberikan tekanan kepada pertahanan lawan

Untuk skema serangan balik, ada nama-nama semisal Christian Pulisic, Ousmane Dembele (jika ia tidak pindah ke Barca), Emre Mor, Raphael Guerreiro, serta Aubameyang yang cocok jika Bosz ingin menerapkan skema serangan kilat ke arah pertahanan lawan. Ada juga nama Marco Reus, Shinji Kagawa, dan Andre Schürrle yang, jika mereka dalam kondisi fit, dapat menghadirkan ancaman serupa dari wilayah sayap.

Masalah distribusi bola, ada nama Gonzalo Castro, Nuri Sahin, maupun Sebastian Rode yang bisa menjadi pengalir bola bagi skuat Dortmund. Jangan lupakan pula Julian Weigl, pemuda berusia 21 tahun yang musim 2016/2017 sudah mendapatkan kepercayaan sebagai pengatur di lini tengah Dortmund. Dukungan dari full-back, baik itu Marcel Schmelzer, Felix Passlack, Zagadou, maupun Lukasz Piszczek juga dapat membuat serangan cepat Dortmund ini menjadi lebih mengalir.

Jika memang Bosz ingin menerapkan skema serangan cepat maupun serangan balik, pemain-pemain di atas akan menjadi pemain yang diperlukan di dalam tim. Mereka punya aspek-aspek agar serangan cepat Dortmund bisa terlaksana. Namun, jangan sampai skema serangan cepat ini justru malah menjadi kelemahan tersendiri, yang bisa dimanfaatkan oleh lawan, seperti halnya yang terjadi dalam gol pertama Bayern di ajang Piala Super Jerman kala Joshua Kimmich dengan leluasa dapat masuk menembus pertahanan Dortmund.

Pemain kunci: Pierre-Emerick Aubameyang

Nama Aubameyang masih dan akan tetap menjadi pemain kunci di Dortmund. Meski ada nama penyerang muda Alexander Isak maupun rekrutan anyar dari SC Freiburg, Maximillian Phillip, nama Auba masih akan menjadi bagian penting dari skuat Dortmund, baik itu dari segi cetakan gol maupun dari segi taktikal.

Keberadaannya di lini depan, yang aktif dan tidak diam di satu tempat, dapat memberikan tekanan tersendiri kepada pertahanan lawan sekaligus bisa membuka ruang bagi pemain-pemain lain di depan. Auba menjadi semakin menakutkan setelah dari musim ke musim, kemampuannya dalam mencetak gol meningkat pesat. Musim 2016/2017 saja, ia menjadi pencetak gol terbanyak Bundesliga dengan torehan 31 gol, unggul satu gol dari Robert Lewandowski.

Dengan adanya ia di lini depan, Dortmund dapat menerapkan banyak taktik. Gegenpressing bisa mereka terapkan jika Auba bermain di depan. Beragam pola penyerangan, baik itu yang sifatnya berupa serangan balik ataupun serangan dari set play biasa, dapat dilakukan jika Auba berada di depan.

Komentar