Potensi Gylfi Sigurdsson yang Membuat Koeman Lebih Fleksibel dalam Menerapkan Skema

Analisis

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Potensi Gylfi Sigurdsson yang Membuat Koeman Lebih Fleksibel dalam Menerapkan Skema

Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, Everton akhirnya merampungkan kesepakatan bersama Swansea City untuk bisa memboyong Gylfi Sigurdsson ke Goodison Park. Sebelumnya, mereka bersaing dengan Leicester City yang juga meminati gelandang asal Islandia itu. Bahkan pada awal jendela transfer musim panas dibuka, kedua kesebelasan itu sama-sama memberikan penawaran senilai 40 juta paun untuk Sigurdson.

Nominal tersebut tentu saja ditolak oleh Swansea yang ingin menjual Sigurdsson dengan harga 50 juta paun. Namun Everton yang terlihat lebih serius untuk bisa memboyong pemain berusia 27 tahun itu terus membujuk kesebelasan asal Wales itu agar mau menurunkan harga jual pemainnya itu.Dari proses panjang negosiasi tersebut, kedua kesebelasan akhirnya setuju dengan harga 45 juta paun.

Bagi Everton itu adalah harga pemain yang didatangkan dengan termahal dalam rekor transfer mereka. Kepastian merapatnya Sigurdsson menjadikannya sebagai pemain ketujuh yang didatangkan Ronald Koeman ke Goodison Park setelah Jordan Pickford, Michael Keane, Davy Klaassen, Wayne Rooney, Sandro Ramirez dan Cuco Martina.

Meski harus merogoh lebih dalam koceknya untuk bisa mendaratkan Sigurdsson namun, nominal tersebut dianggap pantas mengingat status Sigurdsson sebagai salah satu pemain terbaik di Liga Primer Inggris musim lalu meski bermain untuk Swansea, yang berjuang melawan jeratan degradasi.

Kontribusinya bagi The Swans terbilang baik, Sigurdsson tercatat sebagai pencetak gol terbanyak kedua di Swansea dengan sembilan gol. Selain itu ia juga tergolong sebagai kreator yang menjanjikan, musim lalu ada 13 assist dari 72 peluang berhasil diciptakan.

"Menurut saya, dalam posisinya dia adalah salah satu pemain terbaik di Liga Primer. Sejak awal, dia adalah salah satu pemain kunci yang ingin kami bawa ke Everton, itu karena kualitasnya, yang pertama dan tentunya pengalamannya di Liga Primer,” kata Ronald Koeman seperti dilansir dari Sky Sports.

"Kami membutuhkan lebih banyak produktivitas. Kami memang tidak membawa satu pemain yang akan mencetak 25 gol, tapi kami membutuhkan beberapa pemain di sekitar area penyerangan kami untuk mendapatkan hal itu (produktivitas). Dia [Sigurdsson] adalah salah satu pemain produktif yang dia tunjukkan di Swansea dan juga di klub sebelumnya,” sambungnya.

Menyambung harapan yang diungkapkan Koeman terhadap dirinya, Sigurdsson mengaku siap untuk menjadikan ekspektasi tersebut menjadi kenyataan. Targetnya adalah membawa Everton bisa menembus persaingan papan atas, seperti yang telah ditargetkan klub sebelumnya. Selain itu, ia juga mengaku ingin mencetak banyak gol bagi The Toffees.

"Ini adalah klub yang ambisius dan jelas kami bergerak dalam arah yang benar-benar bagus. Paling penting adalah tim ini harus terus memenangkan pertandingan dan merangkak naik di tabel kalsemen. Bagi saya sendiri, saya ingin mencetak sebanyak mungkin gol dan menciptakan sebanyak mungkin asis untuk rekan satu tim saya, inilah target saya," tegasnya mantap.

Kehadiran Sigurdsson tentunya menambah aroma persaingan di lini tengah Everton semakin sengit. Sebab beberapa nama seperti Davy Klassen, Ross Barkley, hingga Aaron Lennon harus berjuang keras memperebutkan skuat inti.

Tapi melihat kemampuan mantan penggawa Tottenham Hotspur itu dalam memainkan beberapa posisi berbeda membuat persaingan di lini tengah tidak terlalu mengancam. Lebih dari pada itu, dengan kepiawaiannya Sigurdsson pun bisa membuat Koeman lebih fleksibel untuk berkreasi dengan berbagai skema berbeda.

Gelandang Serang dan Penyerang Bayangan dalam Formasi 3-4-2-1 dan 4-3-2-1

Pada pertandingan pertamanya melawan Stoke City, Koeman menerapkan formasi 3-4-2-1. Dalam skema tersebut, Koeman menempatkan Sandro Ramirez sebagai ujung tombak yang diapit Wayne Rooney dan Davy Klassen sebagai gelandang serang. Melihat kemampuan yang dimilikinya, Sigurdsson bisa berperan cukup baik dengan skema tersebut, ia bisa bermain menggantikan posisi Rooney atau Klaassen.

Namun memungkinkan baginya untuk berduet dengan Rooney yang mencetak gol kemenangan di akhir pekan lalu, sehingga Klaassen harus menunggu sejenak di bangku cadangan. Namun pada posisi tersebut, Sigurdsson memungkinkan untuk lebih mudah membuat peluang, dengan mengirim umpan ke kotak penalti, merangsek masuk ke dalam kotak 16, atau bahkan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti ke gawang lawan melalui sepakan kaki kanannya.

Selain itu, Sigurdsson juga memungkinkan ditempatkan Koeman sebagai penyerang bayangan. Sangat memungkinkan karena Sigurdsson bukan tipikal playmaker tradisional. Musim lalu, Sigurdsson menciptakan 27,8 persen peluangnya dari tengah dan 20,8 persen di antaranya berasal dari luar kotak yang menunjukkan bahwa ia bisa menjadi gangguan yang cukup potensial bagi pertahanan lawan.

Arah goal Sigurdsson pada musim lalu. Sumber: Squawka

Secara permainan, Sigurdsson memiliki gaya layaknya second striker, dengan kecerdasannya ia bisa menjadi tandem yang pas bagi Ramirez atau bahkan Rooney yang diplot sebagai target man, dalam formasi 4-2-3-1. Sebab Sigurdsson punya kemampuan untuk menemukan ruangnya sendiri dalam menciptakan peluang di area 16. Selain itu, ia juga punya penyelesaian akhirnya yang bagus dengan tingkat akurasi tendangan mencapai 59 persen.

Baik Rooney dan Ramirez sama-sama punya kemampuan untuk memecah konsentrasi pertahanan lawan dengan kecepatan yang mereka miliki. Hal tersebut kemudian berpotensi membuka ruang bagi Sigurdsson untuk merangsek masuk ke kotak penalti guna mencetak skor atau menciptakan peluang.

False Nine dan Winger Kiri dalam Formasi 4-3-3

Selain dua posisi tersebut, Sigurdsson juga bisa diandalkan Koeman sebagai false nine. Musim lalu di Swansea ia kerap memainkan peranan tersebut saat tampuk pelatih Swansea City masih dikendalikan oleh Bob Bradley. Namun peran tersebut tak lagi dimainkan Sigurdsson setelah era Paul Clement.

Namun peran false nine tampaknya bukan peran terbaik Sigurdsson, sehingga kemungkinannya kecil bagi Koeman memasang Sigurdsson pada peran tersebut, mengingat mereka juga masih memiliki Ramirez dan Rooney.

Tapi, satu posisi lain yang agaknya lebih memungkinkan bagi Sigurdsson adalah menempati sektor sayap kiri dengan penerapan formasi 4-3-3. Mereka memang tidak punya banyak pemain di sektor tersebut, hanya Kevin Mirallas yang cukup menjanjikan setelah Yannick Bolasie cedera dan Gerard Deulofeu pulang ke Barcelona.

Melihat kemampuan Dominic Calvert-Lewin dan Ademola Lookman di sayap kanan yang masih mentah membuatnya tidak punya banyak pilihan selain menggeser Mirallas ke kanan dan memaksimalkan Sigurdsson di posisi flank kiri.

Biar bagaimanapun, pemain Islandia itu punya kemampuan yang sangat baik dalam urusan mengeksekusi bola mati dan mengirim umpan silang dari area luar lapangan. Meski kerap dianggap sebagai pemain bertipikal playmaker, namun dia sebenarnya bukan pemain yang kreatif dalam pola permainan terbuka seperti misalnya Mesut Ozil (Arsenal) atau Cristian Eriksen (Tottenham). Tapi, Sigurdsson adalah master bola mati. Delapan dari 13 asis yang dibukukan musim lalu berasal dari set-pieces, dan umpan silang yang sering tepat sasaran.

Tapi pekerjaan rumah bagi Everton untuk bisa memaksimalkan peran Sigurdsson di pos flank kiri adalah mendatangkan kembali penyerang berpostur jantung yang bisa melahap umpan-umpan silang akurat Sigurdsson dari posisi tersebut. Atau memaksakan Rooney, yang punya pengalaman bermain di level tertinggi kompetisi Inggris.

Foto: Twitter Everton

Komentar